Belakangan ini, hobi mengoleksi action figure semakin populer. Bukan hanya di kalangan anak-anak dan remaja, tetapi juga banyak orang dewasa yang rela menghabiskan jutaan bahkan puluhan juta rupiah untuk mengumpulkan berbagai karakter favorit mereka.
Pertanyaannya, bagaimana seorang muslim memandang hobi semacam ini berdasarkan tinjauan syariat?
Pertama: Setiap Harta Akan Dipertanggungjawabkan
Seorang muslim wajib menyadari bahwa harta yang dimilikinya bukanlah hak mutlak yang dapat dibelanjakan sesuka hati. Seluruh harta yang Allah titipkan akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ.
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta ilmunya apa yang telah ia amalkan.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dengan sanad yang hasan)
Karena itu, ketika seseorang menghabiskan uang untuk membeli action figure yang hanya dipajang di lemari, hendaknya ia bertanya kepada dirinya:
Apa jawaban yang akan aku berikan di hadapan Allah ketika ditanya tentang harta yang telah aku habiskan?
Apakah pengeluaran tersebut benar-benar mendatangkan manfaat agama atau dunia yang dibenarkan syariat?
Ataukah hanya menjadi tumpukan barang yang tidak memberikan nilai berarti selain kesenangan sesaat?
Kedua: Larangan Tabdzir (Pemborosan)
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Janganlah engkau menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”
(QS. Al-Isra’: 26–27)
Cukuplah ancaman ini membuat hati seorang muslim bergetar. Sebab Allah tidak mengatakan bahwa para pemboros sekadar melakukan kesalahan, tetapi menyebut mereka sebagai saudara-saudara setan. Maka bagaimana mungkin seorang hamba yang mengharapkan ridha Allah rela menghabiskan hartanya pada perkara-perkara yang tidak bernilai di sisi-Nya?
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
التَّبْذِيرُ إِنْفَاقُ الْمَالِ فِي غَيْرِ حَقِّهِ، وَلَا تَبْذِيرَ فِي عَمَلِ الْخَيْرِ
“Tabdzir adalah menginfakkan harta bukan pada jalan yang benar. Adapun dalam kebaikan, tidak ada istilah pemborosan.” (Lihat: Al-Jami’ li Ahkamil Quran 10/147)
Karena itu, seorang muslim hendaknya jujur kepada dirinya sendiri. Berapa banyak dana yang telah dihabiskan untuk koleksi? Berapa banyak waktu yang dicurahkan untuk mencarinya? Dan berapa besar manfaat nyata yang diperoleh dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan?
Sementara di sisi lain, masih banyak pintu kebaikan yang membutuhkan dukungan:
- Membantu dakwah Islam.
- Menuntut ilmu syar’i.
- Membantu fakir miskin.
- Menyantuni kerabat.
- Menyiapkan masa depan anak-anak
- Membangun amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Ketiga: Tinjauan Fikih tentang Patung Makhluk Bernyawa
Inilah sisi yang paling penting untuk diperhatikan.
Mayoritas action figure berbentuk manusia, hewan, tokoh kartun, karakter anime, superhero, atau makhluk bernyawa lainnya dalam bentuk tiga dimensi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ
“Sesungguhnya manusia yang paling berat azabnya pada hari kiamat adalah para pembuat gambar dan patung.” (HR. Bukhari no. 5950; Muslim no. 2109)
Beliau ﷺ juga bersabda:
إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ
“Sesungguhnya para malaikat tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar.” (HR. Bukhari no. 3225; Muslim no. 2106)
Pembuat patung dan gambar makhluk bernyawa diancam dengan azab yang keras. Adapun orang yang menyimpannya, rumahnya terancam tidak dimasuki oleh malaikat rahmat. Maka muslim mana yang rela malaikat rahmat menjauh dari rumahnya? Muslim mana yang rela kehilangan keberkahan, ketenangan, dan doa para malaikat, lalu membiarkan rumahnya menjadi tempat yang disenangi setan, padahal setan adalah musuh abadinya yang paling nyata?
Sungguh, ini merupakan pertukaran yang sangat merugikan. Menukar kehadiran malaikat rahmat dengan benda-benda yang hanya menjadi pajangan duniawi, yang tidak mendatangkan manfaat bagi agama maupun akhirat. Padahal setiap muslim tentu mendambakan rumah yang dipenuhi rahmat, sakinah, dan keberkahan dari Allah, bukan rumah yang dijauhi oleh para malaikat.
Syariat memberikan keringanan khusus bagi boneka permainan anak-anak perempuan sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ’anha yang bermain boneka. (Lihat: HR. Muslim no. 2440)
Namun keringanan ini tidak serta-merta dapat dijadikan dalih untuk mengoleksi dan memajang ratusan action figure oleh orang dewasa sebagai pajangan dan kebanggaan.
Tertera dalam Fatawa Syabakah al-Islamiyyah (6/1873):
فَإِذَا كَانَتِ الصُّوَرُ مُجَسَّمَةً فَإِنَّ حُرْمَتَهَا مَحَلُّ اتِّفَاقٍ إِنْ كَانَتْ مِنْ ذَوَاتِ الْأَرْوَاحِ مِنْ إِنْسَانٍ أَوْ حَيَوَانٍ.
وَإِذَا كَانَتْ فُوتُوغْرَافِيَّةً، وَهِيَ الَّتِي تُعْمَلُ بِالْكَامِيرَا الْآنَ، فَإِنْ كَانَتْ لِغَيْرِ ذَوَاتِ الْأَرْوَاحِ كَالْأَشْجَارِ وَالْبِحَارِ وَالْأَنْهَارِ فَحُكْمُهَا الْجَوَازُ.
أَمَّا غَيْرُهَا كَالصُّوَرِ الشَّخْصِيَّةِ فَهِيَ مَحَلُّ خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنَ الْمُعَاصِرِينَ.
“Apabila gambar-gambar tersebut berbentuk tiga dimensi (patung), maka keharamannya merupakan perkara yang telah disepakati, apabila gambar itu adalah gambar makhluk bernyawa, baik manusia maupun hewan.”
“Adapun jika gambar tersebut berupa foto, yaitu gambar yang dihasilkan dengan kamera sebagaimana yang ada pada masa sekarang, maka apabila objeknya bukan makhluk bernyawa seperti pepohonan, lautan, dan sungai-sungai, hukumnya boleh.”
“Sedangkan selain itu, seperti foto manusia (foto pribadi), maka hukumnya menjadi perkara yang diperselisihkan oleh para ulama kontemporer.”
Keempat: Bahaya Unsur Kesyirikan dan Khurafat
Banyak action figure berasal dari film, anime, komik, dan permainan yang dibangun di atas konsep-konsep yang bertentangan dengan akidah Islam, seperti:
- Dewa-dewa mitologi.
- Sihir dan mantra.
- Reinkarnasi.
- Kekuatan gaib selain Allah.
- Ritual mistik.
- Pengagungan makhluk tertentu.
Meskipun seseorang tidak meyakini hal-hal tersebut, seorang muslim tetap diperintahkan untuk menjaga hati dan keluarganya dari simbol-simbol yang dapat mengaburkan kemurnian tauhid.
Di antara doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ
“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Subhanallah! Padahal beliau adalah seorang nabi yang mulia. Bahkan beliau adalah bapak para nabi, dan lebih dari itu, Allah memuliakannya dengan gelar Khalīlullāh (kekasih Allah). Namun, dengan kedudukan yang begitu agung, beliau tetap merasa takut terjatuh ke dalam kesyirikan. Karena itulah beliau berdoa kepada Allah agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari menyembah berhala.
Ketika membaca doa Nabi Ibrahim tersebut, salah seorang ulama salaf, Ibrahim At-Taimi rahimahullah, berkata:
مَنْ يَأْمَنُ الْبَلَاءَ بَعْدَ الْخَلِيلِ؟
“Siapakah yang dapat merasa aman dari fitnah (kesyirikan) setelah Al-Khalil (Nabi Ibrahim)?” (Lihat: Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 5/333)
Jika Nabi Ibrahim ’alaihis salam yang merupakan kekasih Allah saja masih mengkhawatirkan kesyirikan atas dirinya, lalu bagaimana dengan kita yang penuh kekurangan, dosa, dan kelalaian?
Karena itu, sudah sepatutnya seorang muslim tidak merasa aman dari kesyirikan. Ia hendaknya senantiasa memohon perlindungan kepada Allah, memperdalam ilmu tauhid, dan menjauhi segala jalan yang dapat mengantarkan kepada syirik, baik yang besar maupun yang kecil. Sebab orang yang paling memahami bahaya kesyirikan bukanlah orang yang merasa aman darinya, melainkan orang yang paling takut terjatuh ke dalamnya.
Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi hari-hari kita dengan berbagai amal saleh dan kegiatan yang bermanfaat, menjauhkan kita dari segala bentuk keburukan, maksiat, dan sebab-sebab kesesatan, serta mewafatkan kita di atas tauhid dan sunnah dalam keadaan Allah ridha kepada kita. Amiin.
Wallahu a’lam.
Tim Shahihfiqih, 19 Dzulhijjah 1447 / 05 Jum’at 2026



