Rasulullah ﷺ Sudah Mengingatkan: Kelak Akan Banyak Perselisihan, INI JALAN SELAMATNYA
Di zaman yang penuh dengan perbedaan pendapat, arus informasi yang begitu deras, dan munculnya berbagai pemikiran baru, seorang muslim sering kali bertanya, “Bagaimana agar tetap berada di atas jalan yang benar?” Ternyata, Rasulullah ﷺ telah menjawab pertanyaan ini jauh lebih dari 14 abad yang lalu.
Sebuah Nasihat yang Menggetarkan Hati
Sahabat mulia ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang begitu menyentuh. “Beliau menasihati kami dengan sebuah nasihat yang membuat hati bergetar dan mata meneteskan air mata.”
Para sahabat pun merasa seolah-olah itu adalah nasihat terakhir. Mereka berkata,
“Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan. Maka berilah kami wasiat.”
Lalu Rasulullah ﷺ memberikan beberapa pesan yang menjadi bekal umat Islam hingga Hari Kiamat.
Wasiat Pertama: Bertakwa kepada Allah
Pesan pertama yang beliau sampaikan adalah: “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.” (lihat: HR.Abu Dawud no. 4607).
Takwa adalah fondasi seluruh amal. Semakin kuat ketakwaan seseorang, semakin mudah baginya membedakan mana yang benar dan mana yang menyimpang.
Tetap Taat kepada Pemimpin
Rasulullah ﷺ juga berpesan agar kaum muslimin mendengar dan taat kepada pemimpin dalam perkara yang ma’ruf, meskipun pemimpin tersebut berasal dari kalangan yang secara status sosial dipandang rendah. Pesan ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga persatuan umat dan tidak membuka pintu kekacauan hanya karena persoalan kedudukan seseorang.
Rasulullah ﷺ Sudah Mengabarkan Akan Banyak Perselisihan
Beliau kemudian bersabda: “Barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, niscaya ia akan melihat banyak sekali perselisihan.”(lihat: HR.Abu Dawud no. 4607).
Kalimat ini benar-benar terbukti. Perbedaan pemikiran, kelompok, bahkan perselisihan dalam memahami agama terus bermunculan dari masa ke masa. Karena itu, Rasulullah ﷺ tidak hanya mengabarkan adanya perselisihan, tetapi juga menunjukkan jalan keluarnya.
Solusinya: Berpegang Teguh kepada SUNNAH
Beliau bersabda: “Maka hendaklah kalian berpegang teguh kepada SUNNAH-ku dan SUNNAH para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham.” (lihat: HR.Abu Dawud no. 4607).
Ungkapan “gigitlah dengan gigi geraham” menggambarkan betapa kuatnya seorang muslim harus mempertahankan ajaran Nabi ﷺ. Bukan sekadar mengenalnya, tetapi menjadikannya pegangan hidup dalam keyakinan, ibadah, akhlak, maupun muamalah.
Apakah Para Khulafaur Rasyidin Memiliki Ajaran Tersendiri?
Sebagian orang memahami bahwa mengikuti SUNNAH para Khulafaur Rasyidin berarti mengikuti ajaran yang berbeda dari Rasulullah ﷺ. Padahal tidak demikian.
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan SUNNAH Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum adalah penjelasan, penerapan, dan penegasan terhadap SUNNAH Rasulullah ﷺ, bukan membuat syariat baru.
Mereka adalah orang-orang yang paling memahami ajaran Nabi ﷺ. Apa yang mereka praktikkan pada hakikatnya merupakan penjelasan terhadap ajaran beliau.
Karena itulah, mengikuti mereka berarti semakin dekat kepada petunjuk Rasulullah ﷺ.
Waspadalah dari Bid’ah
Dalam hadits yang sama Rasulullah ﷺ juga memperingatkan: “Jauhilah perkara-perkara baru dalam urusan agama. Karena setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (lihat: HR.Abu Dawud no. 4607).
Peringatan ini menunjukkan bahwa agama Islam telah sempurna. Ibadah tidak dibangun di atas perasaan, kebiasaan masyarakat, ataupun kreativitas manusia, tetapi berdasarkan dalil dari AL-QUR’AN dan SUNNAH yang shahih.
Mengapa Agama Ini Tetap Terjaga?
Di tengah banyaknya upaya untuk merusak Islam, Allah telah memberikan jaminan yang sangat besar. Al-Qur’an tetap terjaga sebagaimana pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Berbeda dengan kitab-kitab terdahulu yang penjagaannya diserahkan kepada manusia sehingga terjadi perubahan dan penyimpangan, Allah sendiri menjamin kemurnian Al-Qur’an. Begitu pula dengan sunnah Nabi ﷺ.
Allah memunculkan para ulama ahli hadits yang menghabiskan hidup mereka untuk mengumpulkan, menghafal, meneliti sanad, memeriksa para perawi, membedakan hadits shahih dan lemah, serta membersihkan hadits-hadits palsu yang disisipkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Melalui usaha besar para ulama tersebut, ucapan, perbuatan, persetujuan, bahkan perjalanan hidup Rasulullah ﷺ dapat sampai kepada kita dengan sangat teliti.
Inilah salah satu keistimewaan umat Islam yang tidak dimiliki agama lain.
Selalu Ada Pembela Kebenaran
Rasulullah ﷺ juga memberikan kabar gembira: “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tetap berada di atas kebenaran. Orang yang meninggalkan mereka ataupun menyelisihi mereka tidak akan mampu membahayakan mereka hingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim no. 1920).
Hadits ini memberikan harapan besar kepada kaum muslimin. Meskipun kebatilan terkadang tampak besar, pengikut kebenaran akan selalu ada hingga Hari Kiamat.
Tugas Kita Hari Ini
Setelah Allah menjaga agama ini melalui Al-Qur’an dan sunnah, maka tugas kaum muslimin bukanlah membuat ajaran baru. Yang menjadi tanggung jawab kita adalah:
- Mempelajari agama dengan benar.
- Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman para sahabat.
- Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
- Menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ.
- Menjelaskan agama dengan hikmah, ilmu, dan akhlak yang baik.
Semakin banyak kaum muslimin belajar kepada para ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya, semakin terjaga pula kemurnian agama ini di tengah derasnya berbagai pemikiran yang menyimpang.
Penutup
Besarnya rahmat Allah kepada umat ini tampak dari penjagaan-Nya terhadap agama Islam. Al-Qur’an tetap terpelihara. Sunnah Nabi ﷺ tetap terjaga. Para ulama terus hadir menjelaskan kebenaran serta membantah berbagai penyimpangan. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk mencari petunjuk di luar wahyu. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan SUNNAH-ku.” (lihat: HR. Tirmidzi no. 3788).
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman para sahabat, serta diwafatkan di atas petunjuk hingga akhir hayat. Aamiin.
Tim Shahihfiqih, 6 Shafar 1448 H/ 20 Juli 2026 M



