Fenomena pencarian kekayaan secara instan melalui jalur mistis—seperti ritual pesugihan yang kerap diasosiasikan dengan tempat-tempat keramat seperti Gunung Kawi—bukan lagi sekadar rahasia umum di kalangan masyarakat bawah, melainkan telah merambah ke berbagai strata sosial, termasuk oknum pejabat dan publik figur. Secara sosiologis, desakan ekonomi dan ambisi kekuasaan sering kali mengaburkan rasionalitas. Namun, dari kacamata teologi Islam (Tauhid), fenomena ini mengindikasikan adanya krisis akidah yang akut. Artikel ilmiah ini bertujuan untuk mengurai korelasi antara realisasi tauhid yang murni dengan jaminan ketenangan rezeki, sekaligus membedah hakikat tawakal sebagai solusi absolut mengikis praktik syirik modern.
1. Hakikat Penciptaan dan Jaminan Mutlak Sang Khaliq
Ketika seorang hamba berhasil merealisasikan tauhidnya secara kaffah (totalitas), maka secara otomatis rasa risau, cemas, dan ketakutan akan masa depan ekonominya akan sirna. Mengapa demikian? Karena fondasi dasar tauhid menetapkan bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta yang memegang kendali penuh atas regulasi rezeki seluruh makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan esensi penciptaan ini dalam Al-Qur’an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)
Secara eksplanatif, ayat ini membalik logika berpikir manusia yang sering kali terjebak dalam lingkaran kecemasan. Tugas utama manusia adalah ubudiyyah (menghamba), sedangkan urusan pemenuhan kebutuhan hidup (rezeki) adalah domain kekuasaan Allah yang telah dijamin secara absolut. Menyimpang dari jalur ibadah demi mengejar rezeki melalui pesugihan adalah bentuk anomali berpikir dan kepailitan iman yang nyata.
2. Larangan Memandang Kemewahan Dunia dan Perintah Menegakkan Shalat
Pemicu utama seseorang tergelincir ke dalam praktik kesyirikan seperti pesugihan adalah penyakit hasad, tidak qana’ah, serta pandangan mata yang terlalu silau oleh kemewahan materi yang dimiliki orang lain. Islam memberikan terapi preventif yang sangat elegan untuk mengatasi penyakit mental ini, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal. Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 131-132)
Ayat ini mengaitkan secara langsung antara stabilitas ekonomi/rezeki dengan penegakan shalat dalam keluarga. Ketika sebuah rumah tangga memprioritaskan hubungan vertikal dengan Allah melalui shalat dan kesabaran, maka Allah yang akan menanggung dan mencukupi urusan horizontal (rezeki) mereka. Seseorang tidak perlu memalingkan wajahnya pada takdir kekayaan orang lain hingga nekat menempuh cara-cara yang dimurkai.
3. Analisis Teologis Dzikir Pagi & Petang: Ketercukupan Melalui Makhluk Terbesar
Setiap pagi dan petang, seorang muslim disunnahkan untuk membaca sebuah poros dzikir tauhid yang sangat dahsyat sebagai benteng mental sebelum menghadapi dinamika hidup:
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Cukupkanlah Allah bagiku; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (HR. Muslim, no. 2730)
Jika kita bedah secara mendalam, struktur kalimat dalam dzikir ini mengajarkan konsep ketercukupan yang mutlak (Al-Kifayah). Ketika kita melafalkan Hasbiyallah (Cukuplah Allah bagiku), kita sedang menjadikan Allah sebagai satu-satunya entitas tunggal yang menjamin seluruh maslahat kita. Kalimat Laa ilaha illa Huwa menegaskan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah secara benar selain Dia, yang menuntut kemurnian ibadah.
Selanjutnya, penggalan wa Huwa Rabbal ‘Arsyil ‘Adzhim ditutup dengan penegasan bahwa Allah adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung. Secara kosmologi Islam, ‘Arsy adalah makhluk terbesar dan tertinggi yang pernah Allah ciptakan. Konseptualisasinya sangat logis dan menggetarkan jiwa: jika makhluk sebesar dan seagung ‘Arsy saja berada dalam genggaman, pengaturan, dan kecukupan dari Allah, maka betapa kecilnya urusan rezeki seorang manusia di bumi ini bagi Allah? Ketika urusan ubudiyyah seorang hamba telah benar, pemenuhan kebutuhan hidupnya menjadi hal yang sangat mudah bagi-Nya.
4. Dua Tipologi Tawakal Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah
Untuk memahami mengapa sebagian orang gagal meraih ketenangan meskipun merasa telah berdoa, Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah memberikan klasifikasi yang sangat presisi mengenai hakikat tawakal di dalam kitab Al-Fawaid. Beliau membaginya menjadi dua tingkatan utama:
التوكُّلُ على الله نوعان:
أحدُهما: توكُلٌ عليه في جَلْبِ حوائج العبد وحظوظِه الدُّنيويَّةِ أو دَفْعِ مكروهاتِهِ ومصائبه الدُّنيويَّةِ.
والثاني: التوكُّل عليه في حصول ما يُحِبُّه هو ويَرضاهُ من الإيمان واليقين والجهادِ والدعوة إليه.
وبين النوعين من الفضل ما لا يُحْصِيه إلا الله، فمتى توكَّل عليه العبدُ في النوع الثاني حقَّ توكُّلِهِ كفاهُ النوعَ الأولَ تمامَ الكفايةِ. ومتى توكَّل عليه في النوع الأول دون الثاني كفاه أيضًا، لكنْ لا يكونُ له عاقبةُ المتوكِّل عليه فيما يُحِبُّه ويرضاهُ.
Tawakal kepada Allah itu ada dua jenis:
1. Pertama: tawakal kepada-Nya untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan duniawi hamba dan bagian dunianya, atau untuk menolak hal-hal yang tidak disukai dan musibah-musibah duniawi.
2. Kedua: tawakal kepada-Nya untuk meraih apa yang Allah cintai dan ridhai, berupa keimanan, keyakinan, jihad, dan berdakwah di jalan-Nya.
Di antara kedua jenis ini terdapat perbedaan keutamaan yang tidak terhitung jumlahnya kecuali oleh Allah. Maka, kapan saja seorang hamba bertawakal kepada-Nya pada jenis kedua dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan mencukupinya untuk jenis yang pertama dengan kecukupan yang sempurna. Sebaliknya, kapan saja ia bertawakal pada jenis yang pertama saja tanpa jenis yang kedua, Allah tetap akan mencukupinya, namun ia tidak akan mendapatkan kesudahan (akibat baik) seperti yang didapatkan oleh orang yang bertawakal dalam hal yang dicintai dan diridhai-Nya. (Lihat: Al-Fawaid, hlm. 122-123)
Penjelasan Ibnul Qayyim di atas menyingkap rahasia besar: ketenangan hakiki hanya lahir dari tawakal jenis kedua (tawakal ibadah). Ketika orientasi utama hidup seorang hamba adalah tegaknya iman, benarnya tauhid, dan kontribusi dakwah, maka urusan logistik, materi, dan perlindungan duniawi akan dicukupi oleh Allah secara otomatis.
Kesimpulan dan Rekomendasi Solutif
Praktik pesugihan—baik di Gunung Kawi maupun tempat lainnya yang marak dilakukan dari kalangan pejabat hingga artis—adalah cerminan dari kegagalan manusia dalam memahami hakikat rezeki dan rusaknya sistem tawakal. Solusi fundamental untuk meretas lingkaran setan kesyirikan modern ini bukanlah sekadar regulasi sosial, melainkan rekonstruksi akidah.
Melalui pemurnian tauhid, penegakan ubudiyyah yang konsisten, serta reposisi orientasi tawakal menuju hal-hal yang dicintai Allah, seorang muslim akan mencapai derajat qana’ah tertinggi. Ia tidak akan pernah lagi risau terhadap rezekinya, karena ia tahu persis bahwa Dzat yang mencukupi ‘Arsy yang agung adalah Dzat yang sama yang menjamin setiap hembusan napas dan suapan makanannya.
Wallahu a’lam.
Tim Shahihfiqih 21 Muharrom 1448 / 7 Juli 2026





