Trending

Sejarah Pensyariatan Puasa Asyura (10 Muharram)

Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram termasuk ibadah yang memiliki sejarah panjang dalam syariat Islam. Jika hadits-hadits shahih dikumpulkan dan disusun secara kronologis, tampak bahwa hukum puasa Asyura mengalami beberapa fase hingga akhirnya menetap sebagai sunnah yang sangat dianjurkan.

Fase Pertama: Sebelum Hijrah, Quraisy Sudah Berpuasa Asyura

Sebelum Islam datang, orang-orang Quraisy telah mengenal puasa Asyura. Rasulullah ๏ทบ juga berpuasa pada hari tersebut.

Dari Aisyah radhiyallahu โ€™anha:

ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ุชูŽุตููˆู…ูู‡ู ู‚ูุฑูŽูŠู’ุดูŒ ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉูุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ๏ทบ ูŠูŽุตููˆู…ูู‡ู

โ€œHari Asyura adalah hari yang biasa dipuasai oleh Quraisy pada masa jahiliah, dan Rasulullah ๏ทบ juga berpuasa pada hari itu.โ€ (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125)

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Asyura telah dikenal sebelum hijrah ke Madinah.

Fase Kedua: Setelah Hijrah, Puasa Asyura Diperintahkan

Ketika Nabi ๏ทบ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa โ€˜alaihissalam dan Bani Israil dari Firโ€™aun.

Ibnu Abbas radhiyallahu โ€™anhuma meriwayatkan:

ู‚ูŽุฏูู…ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ๏ทบ ุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉูŽ ููŽุฑูŽุฃูŽู‰ ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏูŽ ุชูŽุตููˆู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู…ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุงุŸ

ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ูŒ ุตูŽุงู„ูุญูŒุŒ ู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ูŒ ู†ูŽุฌู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูŽู†ููŠ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูŽุฏููˆู‘ูู‡ูู…ู’ุŒ ููŽุตูŽุงู…ูŽู‡ู ู…ููˆุณูŽู‰.

ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ููŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽุญูŽู‚ู‘ู ุจูู…ููˆุณูŽู‰ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’.

ููŽุตูŽุงู…ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุตููŠูŽุงู…ูู‡ู.

Ketika Nabi ๏ทบ tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka beliau bertanya, โ€œHari apa ini?โ€

Mereka menjawab, โ€œIni adalah hari yang agung dan baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Nabi Musa pun berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur.โ€

Maka Rasulullah ๏ทบ bersabda, โ€œAku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.โ€

Lalu beliau pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. (HR. Bukhari no. 2004 dan Muslim no. 1130)

Pada fase ini puasa Asyura berstatus wajib. Hal itu diketahui dari kuatnya perintah Nabi ๏ทบ kepada para sahabat.

#Fase Ketiga: Setelah Ramadan Diwajibkan, Asyura Menjadi Sunnah#

Pada tahun kedua hijriah Allah mewajibkan puasa Ramadan melalui firman-Nya:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู ูƒูŽู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ

โ€œWahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.โ€ (QS. Al-Baqarah: 183)

Setelah itu, kewajiban puasa Asyura dihapus dan hukumnya berubah menjadi sunnah.

Aisyah radhiyallahu โ€™anha berkata:

ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ููุฑูุถูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ู ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽุŒ ููŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุตูŽุงู…ูŽู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุชูŽุฑูŽูƒูŽู‡ู

โ€œKetika puasa Ramadan diwajibkan, maka (kewajiban) puasa Asyura ditinggalkan. Barang siapa yang ingin maka berpuasa, dan barang siapa yang ingin maka meninggalkannya.โ€ (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125)

Meskipun tidak lagi wajib, Rasulullah ๏ทบ tetap sangat menganjurkannya karena keutamaannya yang besar.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu โ€™anhu, bahwa Rasulullah bersabda ๏ทบ:

ุตููŠูŽุงู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ุฃูŽุญู’ุชูŽุณูุจู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒูŽูู‘ูุฑูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู†ูŽุฉูŽ ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ู

โ€œAku berharap kepada Allah agar puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.โ€ (HR. Muslim no. 1162)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa besar memerlukan taubat yang khusus.

Fase Keempat: Anjuran Menambah Puasa Tanggal 9 Muharram

Pada akhir kehidupan beliau, para sahabat memberitahukan bahwa hari Asyura juga diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.

Maka Rasulullah ๏ทบ berkeinginan untuk menyelisihi mereka dengan menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram (Tasuโ€™a).

Ibnu Abbas radhiyallahu โ€™anhuma meriwayatkan, Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู„ูŽุฆูู†ู’ ุจูŽู‚ููŠุชู ุฅูู„ูŽู‰ ู‚ูŽุงุจูู„ู ู„ูŽุฃูŽุตููˆู…ูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุงุณูุนูŽ

โ€œJika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (bersama dengan hari kesepuluhnya.โ€ (HR. Muslim no. 1134)

Namun sebelum Muharram berikutnya tiba, Rasulullah ๏ทบ telah wafat.

#Kesimpulan#

Dari hadis-hadis sahih dapat disimpulkan bahwa pensyariatan puasa Asyura mengalami empat fase:

1.โ  โ Sebelum hijrah: Kaum Quraisy dan Rasulullah ๏ทบ telah berpuasa Asyura.
2.โ  โ Awal hijrah di Madinah: Nabi ๏ทบ memerintahkan puasa Asyura dan saat itu hukumnya wajib.
3.โ  โ Setelah puasa Ramadan diwajibkan: kewajiban Asyura dihapus dan berubah menjadi sunnah.
4.โ  โ Menjelang wafat Nabi ๏ทบ: beliau menganjurkan agar puasa Asyura disertai puasa tanggal 9 Muharram untuk menyelisihi Ahli Kitab.

Tingkatan Puasa Asyura

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Tingkatan puasa Asyura ada tiga:

1.โ  โ Yang paling sempurna, berpuasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.
2.โ  โ Tingkat berikutnya, berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Inilah yang ditunjukkan oleh mayoritas hadits.
3.โ  โ Tingkat setelahnya, mengkhususkan puasa pada tanggal 10 Muharram saja.

Adapun mengkhususkan puasa pada tanggal 9 Muharram saja, maka hal itu berasal dari kurang tepatnya pemahaman terhadap riwayat-riwayat hadis dan kurang mencermati lafaz-lafaz serta jalur-jalur periwayatannya. Pendapat tersebut juga jauh dari tuntunan bahasa Arab maupun syariat.

Dan Allah-lah yang memberikan taufik kepada kebenaran. (Lihat: Zadul Maโ€™ad 2/93)

Dengan memahami sejarah pensyariatannya, seorang muslim akan semakin menyadari bahwa puasa Asyura bukan sekadar amalan tahunan, tetapi ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam sunnah Nabi ๏ทบ dan sarat dengan pelajaran tentang tauhid, syukur, serta kemenangan kebenaran atas kebatilan.

Dengan memahami sejarah pensyariatannya dan tingkatan pelaksanaannya, seorang muslim akan menyadari bahwa puasa Asyura bukan sekadar amalan tahunan. Ia adalah ibadah yang sarat dengan makna tauhid, syukur, dan keyakinan akan pertolongan Allah kepada para hamba-Nya yang beriman.

Puasa ini mengingatkan kita kepada kisah keselamatan Nabi Musa dan kaumnya, sekaligus meneguhkan keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang dan kebatilan akan binasa. Karena itu, Asyura bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk memperbarui iman, memperbanyak syukur, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga Allah Taโ€™ala memberikan taufik kepada kita untuk menghidupkan sunnah Nabi ๏ทบ, menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Tim Shahihfiqih 6 Muharrom 1448 / 22 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *