Setiap pasangan pasti mengetahui kekurangan pasangannya. Bahkan, sering kali mereka juga paling mengetahui kekurangan dirinya sendiri.
Karena itu, rumah tangga tidak dibangun di atas anggapan bahwa pasangan kita sudah sempurna. Ia dibangun di atas tekad untuk saling memperbaiki, saling menasihati, dan saling mendoakan.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengisahkan seorang pedagang kain di Makkah. Dahulu ia gemar memuji-muji dagangannya dan banyak bersumpah agar barangnya laku. Al-Hasan pun enggan membeli darinya.
Dua tahun kemudian, beliau bertemu kembali dengan pedagang itu. Akhlaknya telah berubah. Ia tidak lagi memuji-muji dagangan ataupun banyak bersumpah.
Ketika ditanya apa yang menyebabkan perubahan itu, ia menjawab, “Dahulu aku memiliki seorang istri. Jika aku membawa keuntungan sedikit, ia meremehkannya. Jika aku membawa banyak, ia tetap menganggapnya kurang.
Kemudian Allah mewafatkannya. Aku pun menikah lagi. Setiap kali aku hendak berangkat ke pasar, istriku memegang pakaianku seraya berkata:
يَا فُلانُ! اتَّقِ اللهَ وَلا تُطْعِمْنَا إِلا طَيِّبًا، إِنْ جِئْتَنَا بِقَلِيلٍ كَثَّرْنَاهُ، وَإِنْ لَمْ تَأْتِنَا بِشَيْءٍ أَعَنَّاكَ بِمِغْزَلِنَا
‘Bertakwalah kepada Allah. Janganlah engkau memberi kami makan kecuali dari rezeki yang halal. Jika engkau membawa sedikit, kami akan menjadikannya terasa banyak. Jika hari ini engkau tidak membawa apa pun, kami akan membantumu dengan hasil pintalan benang kami.’ (Lihat: Al-Mujalasah wa Jawahirul ‘ilmi 5/251)
Lihatlah bagaimana satu kalimat dari pasangan dapat mengubah akhlak seseorang.
Memang kisah ini berbicara tentang rezeki. Namun setiap rumah tangga memiliki ujiannya sendiri. Ada yang diuji dengan harta, ada yang diuji dengan emosi, ada yang diuji dengan anak, ada yang diuji dengan komunikasi, ada pula yang diuji dengan dosa-dosa yang sulit ditinggalkan.
Meski bentuk ujiannya berbeda, jalan keluarnya tetap sama: bersama-sama memperbaiki hubungan dengan Allah, lalu saling menguatkan dan mendoakan dalam ketaatan.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنْ يُرِيدَآ إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَآ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا
“Jika keduanya benar-benar menghendaki perbaikan, niscaya Allah akan memberikan taufik kepada keduanya. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisa: 35).
Perhatikan, Allah tidak hanya memerintahkan adanya penyelesaian masalah, tetapi menyebut keinginan yang tulus untuk melakukan ishlah (perbaikan). Jika niat itu benar, Allah sendiri yang menjanjikan taufik.
Lalu setelah itu Allah berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. An-Nisa: 36).
Susunan ayat ini sangat indah. Allah mendahulukan hablun minallah: mentauhidkan-Nya dan menjauhi segala bentuk syirik. Setelah itu barulah Allah menyebut hablun minannas: berbuat baik kepada manusia, dimulai dari keluarga terdekat.
Seolah Allah mengajarkan bahwa baiknya hubungan antarmanusia tidak akan kokoh tanpa baiknya hubungan dengan Allah.
Maka jangan heran jika banyak konflik rumah tangga ternyata berakar dari penyakit hati. Riya, sum’ah, ujub, merasa paling berjasa, enggan mengakui kesalahan, atau lebih takut kepada penilaian manusia daripada kepada Allah.
Betapa sering seseorang menjaga citranya di hadapan manusia, tetapi meremehkan pengawasan Allah ketika sendirian. Ia takut dicap tidak bertanggung jawab oleh keluarga, namun tidak takut jika harus mencari nafkah dengan jalan yang haram. Ia takut dipandang gagal oleh manusia, tetapi tidak takut berdiri di hadapan Allah membawa harta yang tidak halal.
Padahal ketakutan seperti itu sering kali hanyalah tipu daya setan.
Allah berfirman:
ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةٗ مِّنۡهُ وَفَضۡلٗاۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ
“Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruhmu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268).
Berapa banyak orang menerjang riba, suap, penipuan, atau berbagai penghasilan yang haram karena takut anak dan istrinya lapar.
Padahal kisah di atas menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Yang dibutuhkan seorang suami bukanlah pasangan yang terus menuntut dunia, tetapi pasangan yang mengingatkannya kepada Allah. Dan yang dibutuhkan seorang istri bukanlah suami yang menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginan keluarga, tetapi suami yang membawa pulang rezeki yang diberkahi.
Keberkahan itulah yang membuat yang sedikit menjadi cukup. Sebaliknya, hilangnya keberkahan membuat yang banyak tidak pernah terasa cukup.
Karena itu, jangan remehkan doa untuk pasanganmu. Jangan bosan mengingatkannya kepada Allah. Dan jangan pernah berhenti memperbaiki dirimu sendiri.
Sebab ketika suami dan istri sama-sama memperbaiki penghambaan kepada Allah, saling menguatkan dalam takwa, dan saling mendoakan dalam kebaikan, Allah-lah yang akan memperbaiki hubungan keduanya, menurunkan keberkahan di dalam rumah mereka, dan menjadikan rumah tangga itu sebagai jalan menuju surga.
Jika ada satu doa yang layak terus dipanjatkan oleh setiap suami dan istri, maka di antaranya adalah: “Ya Allah, perbaikilah agamaku, perbaikilah pasanganku, dan jadikan rumah tangga kami sebagai rumah yang dibangun di atas tauhid, ketakwaan, dan keberkahan, bukan sekadar kelimpahan dunia yang melalaikan. Aamiin.”
Tim Shahihfiqih 27 Muharrom 1448 / 13 Juli 2026



