Di zaman ini, seseorang dapat mengeluarkan uang hanya dengan beberapa sentuhan jari. Dalam hitungan detik, saldo berkurang, lalu masuklah sejumlah item, skin, karakter, atau perlengkapan virtual ke dalam akun permainan. Fenomena ini dikenal dengan istilah top up game.
Mungkin nominalnya terlihat kecil: sepuluh ribu, dua puluh ribu, atau lima puluh ribu rupiah. Namun jika dilakukan berulang-ulang selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, jumlahnya bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Yang lebih penting dari sekadar nominal adalah pertanyaan yang harus diajukan setiap muslim kepada dirinya sendiri:
Ke mana sebenarnya harta yang Allah titipkan itu mengalir?
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
โููุง ุชูุฒูููู ููุฏูู ูุง ุนูุจูุฏู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู ุญูุชููู ููุณูุฃููู ุนููู ู ูุงูููู ู ููู ุฃููููู ุงููุชูุณูุจููู ูููููู ู ุฃููููููููู
โTidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang hartanya: dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya.โ (HR. Tirmidzi, no. 2417, dengan diringkas, dan sanadnya shahih).
Perhatikanlah, seseorang tidak hanya ditanya tentang cara mendapatkan harta, tetapi juga tentang ke mana harta itu dibelanjakan.
Karena itu, persoalan top up game tidak cukup dilihat dari pertanyaan: โApakah ini transaksi yang sah?โ Akan tetapi juga harus dilihat dari pertanyaan yang lebih dalam:
โUntuk apa uang itu digunakan?โ
Secara teori, membeli item digital adalah transaksi yang pada asalnya termasuk muamalah. Akan tetapi syariat tidak hanya memandang bentuk transaksi, melainkan juga tujuan, isi, dan dampaknya.
Para ulama menetapkan suatu kaedah:
โุงููููุณูุงุฆููู ููููุง ุฃูุญูููุงู ู ุงููู ูููุงุตูุฏู
โHukum suatu sarana mengikuti hukum dari tujuan dan maksud yang hendak dicapai.โ (Lihat: Jamiโul Masail wal Qowaโid 4/289)
Oleh karena itu, jika uang digunakan untuk membantu ketaatan, maka ia menjadi sarana kebaikan. Jika digunakan untuk mendukung kemaksiatan, maka ia ikut mengambil bagian dari dosa sesuai kadar keterlibatannya.
Di sinilah letak persoalan besar dari mayoritas top up game pada masa kini.
Jika kita melihat kebanyakan permainan populer saat ini, top up bukan sekadar membeli fitur permainan.
Sering kali uang tersebut digunakan untuk:
- Membeli karakter yang menampakkan aurat.
- Membeli pakaian dan kostum yang mempertontonkan tubuh.
- โ Membuka tokoh-tokoh yang dipenuhi unsur tabarruj dan sensualitas.
- Membeli efek, simbol, atau kekuatan yang dibangun di atas khayalan sihir, pemanggilan makhluk gaib, dan keyakinan-keyakinan yang bertentangan dengan tauhid.
- Mendukung industri hiburan yang banyak dibangun di atas nilai-nilai yang jauh dari ajaran Islam.
Maka dalam keadaan seperti ini, sulit mengatakan bahwa top up tersebut sekadar aktivitas netral yang tidak memiliki konsekuensi syarโi.
Sebab hakikatnya seseorang sedang mengeluarkan hartanya untuk memperkuat, melanggengkan, dan menikmati sesuatu yang mengandung unsur kemaksiatan.
Allah Taโala berfirman:
โููููุง ุชูุนูุงูููููุง ุนูููู ุงููุฅูุซูู ู ููุงููุนูุฏูููุงูู
โJanganlah kalian saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.โ (QS. Al-Maโidah: 2)
Seorang muslim yang jujur kepada dirinya perlu bertanya:
Apa yang sebenarnya saya beli?
Apakah saya sedang membeli sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah?
Apakah saya sedang membeli ilmu?
Apakah saya sedang membantu dakwah?
Apakah saya sedang membahagiakan orang tua?
Apakah saya sedang menolong fakir miskin?
Ataukah saya sedang membeli pakaian virtual untuk karakter yang membuka aurat?
Sedang membeli tampilan yang hanya bertahan di layar?
Sedang membeli kekuatan khayalan yang akan hilang ketika permainan ditinggalkan atau server ditutup?
Betapa banyak orang yang hari ini tidak lagi memainkan game yang dahulu begitu dicintainya. Akun-akun yang dahulu dibanggakan telah ditinggalkan. Item-item yang dahulu diburu dengan penuh semangat tidak lagi memiliki nilai sedikit pun.
Namun uang yang telah dikeluarkan tidak pernah kembali.
Waktu yang telah dihabiskan tidak pernah kembali.
Dan catatan amal tetap tersimpan di sisi Allah.
Tanda Lemah Akal: Buta Skala Prioritas
Di antara tanda lemahnya akal (safah) adalah seseorang membelanjakan uangnya untuk hal yang tak memberikannya manfaat dunia maupun agama.
Betapa sering seseorang merasa berat mengeluarkan uang untuk sedekah, membantu dakwah, membeli buku bermanfaat, atau mendukung pendidikan anak-anaknya. Namun pada saat yang sama, ia begitu mudah mengeluarkan uang untuk item virtual yang tidak memiliki manfaat agama maupun dunia yang nyata.
Allah Taโala berfirman:
โุฅูููู ุงููู ูุจูุฐููุฑูููู ููุงูููุง ุฅูุฎูููุงูู ุงูุดููููุงุทูููู
โSesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan.โ (QS. Al-Israโ: 27)
Pemborosan bukan hanya menghabiskan uang dalam jumlah besar.
Pemborosan adalah meletakkan harta bukan pada tempat yang semestinya.
Bukan berarti setiap orang yang pernah melakukan top up game otomatis menjadi pelaku dosa besar. Akan tetapi seorang mukmin adalah orang yang selalu mengevaluasi dirinya.
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu โanhu berkata:
โุญูุงุณูุจููุง ุฃูููููุณูููู ู ููุจููู ุฃููู ุชูุญูุงุณูุจููุง
โHisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.โ (Lihat: Risalah al-Mustarsyidin 1/48)
Cobalah duduk sejenak dan lakukan muhasabah. Hitunglah berapa uang yang telah habis untuk top up game selama ini.
Bayangkan jika uang tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas diri melalui ilmu, buku, atau belajar Al-Qurโan. Bayangkan jika digunakan untuk membantu orang tua, menyantuni fakir miskin, atau mendukung dakwah dan amal kebaikan.
Boleh jadi, setelah dihitung, seseorang akan terkejut dengan nominal yang selama ini habis untuk sesuatu yang tidak memberikan manfaat nyata bagi agama maupun dunianya.
Lalu bagaimana kelak ia akan menjawab ketika Allah bertanya tentang hartanya: untuk apa harta itu dibelanjakan? Apa yang bisa ia tunjukkan sebagai manfaat dari pengeluaran tersebut?
Betapa banyak akun, karakter, dan item yang dahulu dibanggakan kini telah ditinggalkan atau dilupakan. Namun catatan amalnya tetap tersimpan di sisi Allah.
Karena itu, jika selama ini kita telah berlebihan dalam perkara tersebut, maka bertaubatlah kepada Allah dan berhentilah. Alihkan harta yang Allah titipkan kepada perkara yang lebih bermanfaat dan lebih dicintai-Nya. Sebab harta yang digunakan di jalan kebaikan akan menjadi penolong bagi pemiliknya, sedangkan harta yang dihamburkan dalam kelalaian hanya akan menyisakan penyesalan. Allahul Mustaโan
Semoga Allah memberi kita taufik untuk menggunakan umur, waktu, dan harta pada perkara yang diridhai-Nya, serta menjauhkan kita dari segala bentuk pemborosan, kelalaian, dan penghamburan nikmat. Aamiin.
Tim Shahihfiqih, 18 Dzulhijjah 1447 / 04 Juni 2026





