Perfeksionisme Ekstrem dalam Timbangan Islam

Islam adalah agama yang mencintai kebersihan, kerapian, keindahan, dan keteraturan. Seorang muslim dianjurkan menjaga rumahnya, pakaiannya, tubuhnya, dan seluruh urusannya dengan baik. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no. 91)

Namun Islam juga mengajarkan keseimbangan. Kerapian yang terpuji berbeda dengan sikap berlebihan yang menyiksa diri. Ketelitian yang baik berbeda dengan obsesi yang membuat seseorang kehilangan ketenangan.

Karena itu, ketika membahas orang yang sangat perfeksionis: segala sesuatu harus presisi, posisi barang tidak boleh bergeser sedikit pun, noda kecil harus segera dibersihkan, atau hati tidak tenang sampai segala sesuatu sesuai standar yang ia tetapkan, maka perlu ditinjau: apakah ini sekadar sifat teliti, ataukah sudah memasuki wilayah was-was yang tercela?

Agama Ini Dibangun di Atas Kemudahan

Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

“Sesungguhnya agama ini mudah.” (HR. Bukhari no. 39)

Prinsip ini tampak jelas dalam seluruh syariat, termasuk dalam masalah bersuci. Nabi ﷺ tidak pernah mengajarkan umatnya untuk hidup dalam keraguan, kegelisahan, dan pemeriksaan yang tidak berujung. Beliau mengajarkan kesederhanaan, kemudahan, dan ketenangan hati.

Oleh karena itu, seseorang yang berhadats cukup baginya beristinja’ sebagaimana yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Ia tidak perlu mencari-cari cara tambahan yang tidak pernah dicontohkan oleh beliau.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Nabi ﷺ tidak pernah melakukan berbagai hal yang dilakukan oleh orang-orang yang tertimpa penyakit was-was; seperti mengurut-urut kemaluan, berdehem, meloncat-loncat, berpegangan pada tali, naik turun tangga, menyumbat saluran kencing dengan kapas, menuangkan air ke dalamnya, terus-menerus memeriksanya berulang kali, dan berbagai perbuatan lain yang merupakan bid’ah orang-orang yang terkena was-was.” (Lihat: Zadul Ma’ad, 1/182)

Perhatikanlah bahwa seluruh perilaku yang disebutkan Ibnul Qayyim tersebut berakar dari satu penyakit yang sama: seseorang tidak merasa cukup setelah melakukan sesuatu secara normal. Ia selalu merasa harus memastikan lagi, memeriksa lagi, membersihkan lagi, dan menyempurnakan lagi.

Padahal semakin dituruti, semakin kuat pula dorongan tersebut.

Kapan Perfeksionisme Menjadi Was-Was?

Tidak semua orang yang menyukai kerapian termasuk penderita was-was. Sebagian orang memang memiliki karakter yang rapi, teliti, dan teratur.

Namun keadaan mulai berubah ketika seseorang:

  • Tidak tenang jika barang bergeser sedikit.⁠ ⁠
  • Terus-menerus memeriksa sesuatu yang sebenarnya sudah selesai.
  • Mengulang pekerjaan yang sama berkali-kali tanpa kebutuhan yang nyata.
  • Sulit menghentikan kegiatan membersihkan karena selalu merasa masih kurang bersih.
  • Merasa cemas dan terganggu apabila segala sesuatu tidak sempurna.

Dalam kondisi seperti ini, perfeksionisme sering kali beririsan dengan was-was.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

(Bentuknya bisa bermacam-macam.)

Ada yang mewajibkan anggota keluarga, untuk melewati “protokol” berlapis saat baru memasuki rumah. Sepatu harus dilepas di luar, baju langsung masuk mesin cuci, dan wajib segera mandi sebelum menyentuh barang apa pun. Padahal, pakaian mereka tidak terkena najis dan tidak tampak kotor. Ia tidak akan merasa tenang sebelum aturan kaku ini dipenuhi.

Ada pula yang mengharuskan piring dan alat makan dicuci dengan air mendidih sebanyak tiga kali sebelum digunakan. Bahkan saat memasak, potongan sayuran harus memiliki ukuran yang persis sama. Jika ada bagian makanan yang sedikit gosong atau bentuknya tidak simetris, seluruh masakan langsung dibuang karena dianggap “gagal” atau berbahaya. Tindakan ini tentu mendekati perilaku mubazir yang dilarang dalam Islam.

Ada juga yang tidak tenang apabila gorden terbuka sedikit saja, sehingga harus segera dirapikan dan ditutup kembali sesuai posisi yang diinginkannya. Bahkan menjadi gelisah ketika bantal guling terjatuh dari tempat tidur, lalu merasa harus segera mengganti sarung bantalnya meskipun tidak ada tanda-tanda kotoran atau najis.

Diantara contoh lain pula, ketika membersihkan meja lalu merasa belum cukup bersih, maka ia mengulangnya berkali-kali. Begitu pula dalam merapikan posisi barang di rumah, setelah selesai ia memeriksanya kembali, sepuluh menit kemudian menggesernya lagi, dan terus mengulanginya karena merasa posisinya belum benar-benar pas.

Sekilas semua itu tampak sebagai bentuk ketelitian dan kehati-hatian. Namun hakikatnya sering kali sama dengan orang yang berulang kali memeriksa wudhunya atau terus-menerus memeriksa najis pada pakaiannya. Yang menjadi masalah bukan lagi objeknya, tetapi pola pikir yang tidak pernah merasa cukup. Setelah satu keraguan selesai, muncul keraguan berikutnya. Setelah satu tuntutan dipenuhi, lahir tuntutan yang baru.

“Menuruti was-was seperti ini dapat merusak ketenangan dan kebahagiaan sepanjang hidup.” (Lihat: Majmu’ Al-Fatawa, 31/28)

Yang menarik, setan tidak selalu mengajak manusia kepada kekotoran dan kekacauan. Terkadang ia menipu manusia melalui sesuatu yang tampaknya baik. Ia mendorong seseorang untuk semakin bersih, semakin teliti, semakin hati-hati, hingga akhirnya keluar dari batas kewajaran dan berubah menjadi sumber penderitaan.

Karena itu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Di antara tipu daya setan yang dengannya ia telah menyesatkan banyak orang bodoh adalah was-was yang ia tanamkan kepada mereka dalam urusan bersuci dan shalat, terutama ketika berniat. Sampai-sampai ia menjerumuskan mereka ke dalam berbagai belenggu dan beban yang memberatkan, mengeluarkan mereka dari mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, serta membuat mereka beranggapan bahwa tuntunan sunnah saja tidaklah cukup, sehingga harus ditambah dengan berbagai amalan lain yang tidak diajarkan.

Akhirnya setan berhasil mengumpulkan pada diri mereka tiga kerugian sekaligus: prasangka yang rusak, kelelahan yang nyata mereka rasakan, dan gugurnya pahala atau setidaknya berkurangnya pahala mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa setanlah yang mengajak kepada was-was. Orang-orang yang terjangkit was-was pada hakikatnya telah menaati setan, memenuhi seruannya, mengikuti perintahnya, dan berpaling dari mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ serta jalan yang beliau tempuh.” (Lihat: Ighatsatul Lahfan, 1/219)

Dampaknya bagi Diri dan Orang di Sekitar

Perfeksionisme yang berlebihan sering kali tidak hanya menyusahkan pelakunya, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Pasangan, anak-anak, anggota keluarga, atau rekan kerja bisa merasa tertekan karena harus selalu menyesuaikan diri dengan standar yang sangat tinggi.

Kesalahan kecil menjadi masalah besar. Hal-hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari dianggap tidak dapat ditoleransi. Akibatnya, orang-orang di sekitarnya merasa sungkan, serba salah, bahkan tidak nyaman.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat menghadirkan ketenangan justru berubah menjadi sumber ketegangan. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk menghadirkan kemudahan dan ketenteraman, bukan kesulitan dan tekanan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا

“Permudahlah dan jangan mempersulit.” (HR. Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734)

Karena itu, apabila ketelitian berubah menjadi sumber kegelisahan bagi diri sendiri dan orang lain, maka seseorang perlu waspada. Bisa jadi yang ia anggap sebagai kesempurnaan sebenarnya hanyalah tuntutan yang berlebihan dan tidak pernah mengenal kata cukup.

Solusinya

Para ulama menjelaskan bahwa was-was tidak hilang dengan cara dituruti, tetapi justru semakin menguat. Setiap kali seseorang mengikuti dorongan was-was, ia sebenarnya sedang memperkokoh kebiasaan tersebut.

Karena itu, ketika seseorang telah membersihkan sesuatu dengan kadar yang wajar, maka hendaknya ia berhenti. Ketika ia telah menata barang dengan baik, maka hendaknya ia merasa cukup. Jika pekerjaan telah selesai, maka jangan membuka kembali pintu keraguan yang tidak ada ujungnya.

Di antara cara mengobati was-was dan perfeksionisme berlebihan adalah:

1. Jangan menghiraukan was-was

Jika sesuatu sudah bersih, jangan dibersihkan lagi. Jika sudah rapi, jangan terus diperiksa. Jika pekerjaan telah selesai dengan baik, jangan terus mencari-cari kekurangannya.

Mungkin pada awalnya terasa tidak nyaman. Namun justru dengan tidak menuruti dorongan tersebut, seseorang sedang memutus rantai was-was dan melemahkan pengaruhnya sedikit demi sedikit.

2. Memperbanyak doa dan dzikir perlindungan

Karena was-was berasal dari setan, maka seorang muslim hendaknya memperbanyak berlindung kepada Allah dan menjaga dzikir-dzikir harian.

Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk berdoa:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۝ مَلِكِ النَّاسِ ۝ إِلَهِ النَّاسِ ۝ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ۝ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ۝ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1–6)

Maka hendaknya seseorang membiasakan membaca Surah An-Nas, Al-Falaq, dan dzikir-dzikir perlindungan, seraya memohon kepada Allah agar diselamatkan dari gangguan setan dan penyakit was-was.

Dengan izin Allah, ketenangan tidak diraih dengan mengikuti was-was, tetapi dengan mengabaikannya, berlindung kepada Allah darinya, dan merasa cukup dengan apa yang telah dilakukan sesuai tuntunan syariat.

Wallahu a’lam.

Tim Shahihfiqih
14 Dzulhijjah 1447 H / 31 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *