Beban Moral Gelar “Haji” dan “Hajjah”

Menjaga Keikhlasan Setelah Pulang dari Tanah Suci

Tidak sedikit orang berubah sikap setelah pulang haji. Ada yang mulai senang dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”. Ada yang merasa lebih tinggi kedudukannya dibanding orang lain. Ada pula yang sedih bila gelarnya tidak disebut.

Padahal ibadah haji adalah ibadah tauhid, penghambaan, dan penghancur kesombongan. Seseorang meninggalkan pakaian mewahnya, memakai kain ihram sederhana, berdiri bersama jutaan manusia tanpa perbedaan status. Ironis bila sepulang dari haji justru muncul penyakit hati yaitu riya’ dan sum’ah. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ibadah yang besar tidak cukup hanya benar secara lahiriah, akan tetapi ia juga harus bersih dari keinginan mencari pujian manusia.

Ketika Amal Mulai Dimasuki Riya’

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang awalnya beramal karena Allah, namun di tengah amal muncul riya’. Beliau menjelaskan bahwa bila seseorang melawan riya’ tersebut, membencinya, dan terus berjihad menjaga niatnya, maka hal itu tidak membahayakannya. Namun bila ia tunduk kepada riya’, menikmati pujian manusia, dan sengaja mencari penghormatan, maka ini sangat berbahaya bagi amalnya. Inilah yang kadang tidak disadari setelah berhaji.

Awalnya seseorang berangkat karena ingin mencari ampunan Allah. Tetapi setelah pulang ingin dipuji masyarakat, ingin dihormati dalam majelis, senang disebut-sebut hajinya, atau mulai merasa dirinya lebih suci dibanding orang lain. Padahal hati manusia sangat mudah berubah.

“Pak Haji” Bisa Menjadi Ujian

Gelar “Haji” pada asalnya bukan masalah. Bahkan masyarakat Muslim sejak dahulu biasa memanggil orang yang telah berhaji dengan sebutan tersebut. Namun yang berbahaya adalah ketika hati bergantung pada penghormatan itu, marah bila tidak dipanggil demikian, atau menjadikan “Haji” sebagai simbol status sosial. Ini yang disebut para ulama sebagai pintu menuju sum’ah dan riya’.

Riya’ adalah beramal agar dilihat manusia, sedangkan Sum’ah adalah beramal agar didengar dan dibicarakan manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

“Barang siapa mencari popularitas (sum’ah), Allah akan membuka aibnya. Dan barang siapa berbuat riya’, Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari no. 6499).

Betapa banyak amal besar rusak, hanya karena hati berkeinginan agar amal tersebut dilihat manusia.

Haji Itu Mengajarkan Kerendahan Hati

Di Arafah semua manusia sama. Tidak ada pejabat, orang kaya, tokoh masyarakat, ataupun orang terpandang. Semua memakai kain putih, menangis memohon ampunan dan mengharap rahmat Allah.

Karena itu, tanda haji mabrur bukanlah semakin tinggi gengsi sosial, semakin ingin dihormati, atau semakin bangga dengan gelar. Namun tanda haji mabrur adalah semakin tawadhu’, semakin takut kepada Allah, semakin menjaga lisan, dan semakin tersembunyi amalnya.

Amal Bisa Gugur Karena Penyakit Hati

Seseorang mungkin lelah menabung bertahun-tahun, menempuh perjalanan jauh, berdesakan di tanah suci, menangis dalam doa, lalu setelah pulang, sayangnya justru sibuk mengejar penghormatan manusia. Ini kerugian besar, karena manusia tidak bisa memasukkan kita ke surga. Pujian manusia juga tidak akan meringankan hisab kita di akhirat.

Yang Harus Dijaga Setelah Haji

Setelah pulang dari tanah suci, yang paling penting bukan gelarnya, tetapi istiqamahnya. Jagalah shalat, kejujuran, akhlak, lisan, dan keikhlasan hati. Bila dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Haji”, jangan terlalu bergantung pada itu. Jangan pula sibuk mengejar penghormatan sosial.

Sebab bisa jadi seseorang pulang haji dengan koper penuh oleh-oleh, tetapi hatinya kosong dari keikhlasan. Dan bisa jadi ada orang yang hajinya sederhana, tidak dikenal manusia, namun justru sangat mulia di sisi Allah.

Semoga Allah menjadikan haji kaum Muslimin sebagai haji yang mabrur, dan melindungi hati kita dari riya’, sum’ah, serta kesombongan yang merusak amal. Aamiin.

Sumber: Website resmi Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah dan IslamQA.Info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button