Khutbah ‘Idul Adha: Rindu Haji

Khutbah Pertama

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا، وَأَفَاضَ عَلَى طَائِفِيْهِ وَعَاكِفِيْهِ رَحْمَةً وَغُفْرَانًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا فِي الْقِيَامَةِ أَمْنًا وَأَمَانًا. وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ وَتَلَبَّى صِدْقًا وَإِيْمَانًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin..

Tak henti-hentinya khatib mewasiatkan diri pribadi dan jamaah sekalian untuk bertakwa kepada Allah, karena takwa adalah wasiat yang selalu relevan untuk orang-orang terdahulu maupun sekarang. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدۡ وَصَّيۡنَا ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَإِيَّاكُمۡ أَنِ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ

“Dan sungguh kami telah mewasiatkan kepada orang yang diberi Kitab suci sebelum kalian dan (juga) kepada kelian agar bertakwalah kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 131)

Sidang jama’ah Idul Adha yang berbahagia…

Hari ini, gema takbir membelah langit bumi kita. Hari ini, jutaan hewan kurban akan disembelih sebagai lambang tunduknya sebuah ego di hadapan perintah Sang Pencipta.

Namun di saat yang sama, mari kita alihkan pandangan batin kita, jauh menembus batas jarak, menuju sebuah lembah gersang di Makkah al-Mukarramah.

Pernahkah kita bertanya-tanya dalam keheningan jiwa, mengapa setiap kali nama Makkah disebut, setiap kali lambaian kain kiswah Ka’bah terlihat di layar kaca, ada rasa hangat yang menjalar di dada? Ada rindu yang mendesak-desak ingin keluar berupa air mata, bahkan bagi mereka yang belum pernah menginjakkan kaki di sana sekalipun?

Ketahuilah, rasa rindu yang dahsyat ini bukanlah kebetulan. Rasa rindu ini adalah pembuktian dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

وَإِذۡ جَعَلۡنَا ٱلۡبَيۡتَ مَثَابَةٗ لِّلنَّاسِ وَأَمۡنٗا

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) sebagai Matsabah bagi manusia dan tempat yang aman.” (QS. Al-Baqarah: 125).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna kata “Matsabah” adalah tempat kembali yang tidak pernah memuaskan dahaga pelancongnya. Setiap kali seorang hamba pulang darinya, ia justru ingin kembali lagi ke sana. Kerinduan itu tidak pernah putus, tidak pernah usang, dan tidak pernah selesai. (Lihat: Tafsir Ibni Katsir 1/605)

Rasa rindu ini juga merupakan ketukan pengabulan dari doa yang dipanjatkan oleh kekasih Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ

“…maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung (dan rindu).” (QS. Ibrahim: 37).

Perhatikan baik-baik redaksi ayat ini. Nabi Ibrahim tidak meminta kepada Allah: “Jadikanlah fisik manusia mendatangi tempat ini.” Tidak!
Beliau meminta, “Jadikanlah HATI manusia cenderung dan rindu.”

Maka tidak heran, meskipun secara logika haji
adalah visualisasi dari keletihan: cuaca membakar, badan lengket, berdesak-desakan di antara jutaan manusia. Namun, karena Allah telah menanamkan doa Ibrahim itu ke dalam Af’idah, ke dalam lubuk hati kita, maka keletihan fisik itu kalah bertekuk lutut oleh pesona kenikmatan batin. Di tanah suci, yang dimanjakan bukan lagi fisik, melainkan hati.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ

“Sesungguhnya di dunia ada surga; siapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan masuk surga akhirat.” (Lihat: Madarij as-Salikin 1/536)

Dan jannah dunia itu, jamaah sekalian… adalah manisnya iman, ketentraman hati, dan rasa dekat yang sedekat-dekatnya dengan Allah.

Haji adalah pembuktian nyata bahwa kenikmatan sejati di dunia ini bukanlah megahnya istana, melainkan saat hati berhasil tersungkur pasrah di hadapan Rabb-nya.

Ikhwatal Iman…

Bayangkan, sejak tanggal 8 Dzulhijjah, Hari Tarwiyah, kafilah rindu itu telah bergerak. Mereka menanggalkan pakaian dunia mereka. Pangkat jenderal, jabatan menteri, mahkota raja, jas mewah direktur, semuanya dicopot! Digantikan dengan dua lembar kain putih tak berjahit. Implementasi kain kafan yang kelak akan mereka gunakan!

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, seluruh nikmat, dan seluruh kerajaan hanyalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Di luar sana, ada miliaran manusia yang terasing dari hidayah Islam. Di luar sana, ada puluhan juta muslim yang menangis setiap malam, menabung rupiah demi rupiah, mengantre puluhan tahun, namun belum juga dipanggil. Maka, menjadi seorang muslim adalah hidayah terbesar, dan diizinkan mengetuk mengunjungi Baitullah adalah cinta di atas segala cinta.

Ikhwatal Iman…

Puncaknya adalah kemarin. Hari Kesembilan Dzulhijjah di Padang Arafah.
Cobalah pejamkan mata Anda sejenak, bayangkan Anda berwukuf di sana. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah lautan manusia berpakaian ihram. Merinding hati kita melihatnya, karena pemandangan dahsyat itu adalah miniatur Padang Mahsyar!

Di tempat itulah berkumpul empat rasa yang menggoncang dada manusia: Rindu yang membuncah, Cinta yang tulus, Harap yang membumbung tinggi, sekaligus Takut yang mencekam kepada Allah.

Ketika sore hari di Arafah tiba, saat matahari mulai menguning dan miring menuju peraduannya, suasana berubah menjadi begitu magis, sunyi, dan syahdu.

Rasulullah ﷺ mengabarkan sebuah peristiwa yang membuat pertahanan air mata kita runtuh. Beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُبَاهِي مَلَائِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي، أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala membanggakan para jamaah Arafah di hadapan para malaikat-Nya pada sore hari Arafah. Allah berfirman: ‘Lihatlah hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan rambut kusut dan tubuh berdebu.’” (HR. Ahmad, no. 7089)

Allahu Akbar! Bayangkan diri kita yang kotor dan berlumur dosa ini, justru dibanggakan oleh Penguasa Semesta Alam di hadapan para malaikat-Nya. Di saat-saat sakral itulah, jutaan lisan jemaah haji mengerang, mengulang-ulang zikir terbaik yang pernah diucapkan oleh para Nabi sebelum mereka:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Tirmidzi, no. 3585)

Mereka menumpahkan segala keluh kesah, menghanyutkan diri dalam pelukan ampunan-Nya.

Ummtal Islam…

Mari kita renungkan esensi dari air mata yang menetes di Arafah tersebut. Kenikmatan hati yang begitu dalam membawa kita pada sebuah pemahaman tentang apa itu puncak kenikmatan sejati.
Di dalam sebuah hadits, Rasulullah ‎ﷺ mengajarkan sebuah doa untuk mendefinisikan puncak kebahagiaan tersebut:

وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ

“Dan aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu.” (HR. Nasa’i, no. 1305, Ahmad, no. 18451)

Mengapa dalam doa ini Rasulullah tidak meminta kenikmatan fisik surga seperti istana yang megah, bidadari yang cantik jelita, atau sungai susu yang mengalir? Bukan karena beliau tidak menginginkannya, melainkan karena beliau ingin mengajarkan kepada kita bahwa ada nikmat yang jauh lebih tinggi, melampaui seluruh kenikmatan materi dan fisik, yaitu kenikmatan hati. Dan puncak dari nikmat hati itu adalah kelezatan memandang wajah Allah di akhirat kelak!

Jemaah haji yang sedang berwukuf, yang sedang kelelahan secara fisik namun hatinya melambung penuh ketentraman, sebenarnya sedang mencicipi miniatur dari kelezatan tersebut di dunia. Meneteskan air mata karena hanyut dalam iman, merasakan dada sesak oleh rasa rindu kepada Allah, adalah bentuk nyata dari “surga sebelum surga.”l”

Maka, jangan sampai kenikmatan dekat dengan Allah itu hanya menjadi milik jemaah haji di Arafah sana.
Kita yang berada di sini pun berhak menyapa rasa yang sama. Kita memohon kepada Allah, semoga kelezatan ibadah, kedekatan hati, dan tangisan khusyuk yang dirasakan para jemaah haji di tanah suci, dapat kita rasakan juga dalam shalat-shalat kita, dalam sujud-sujud malam kita, dan dalam keseharian hidup kita di tanah air, istiqamah sampai ajal menjemput kita untuk bertemu dengan-Nya di surga.

Ma’asyiral Muslimin rahimani wa rahimakumullah…

Setelah melewati malam di Muzdalifah dan hari-hari yang melelahkan di Mina, melempar jumrah, entah itu mengambil pilihan Nafar Awal maupun Nafar Tsani, seluruh rangkaian ibadah itu ditutup dengan satu ritual yang paling menyayat hati: Tawaf Wada’. Tawaf Perpisahan.

Langkah kaki para jemaah menuju Masjidil Haram terasa begitu berat. Seolah-olah ada beban berton-ton yang menggelayuti setiap langkah kaki mereka. Saat mata kembali menatap Ka’bah, bangunan kubus hitam yang anggun itu, dada terasa sesak luar biasa.

Mereka mulai melangkah melingkari Ka’bah… putaran demi putaran… hati berbisik, “Waktu kami sudah habis, ya Rabb. Kami harus pulang…”

Air mata yang sejak awal ditahan, akhirnya pecah berkeping-keping pada putaran-putaran terakhir. Di sekeliling Ka’bah, terdengar suara isak tangis yang tertahan, bahu-bahu pria perkasa terguncang hebat, mereka menangis layaknya anak kecil yang ketakutan kehilangan ibunya.
Setiap mata menatap lekat-lekat ke arah Ka’bah, seolah-olah ingin mereka rekam setiap jengkal keindahannya ke dalam lubuk hati yang paling dalam, agar tidak luntur saat nanti kembali ke tanah air yang penuh dengan tipu daya dunia.

Selesai putaran ketujuh, jemaah melangkah mundur menjauh, dengan mata yang tak berkedip menatap Ka’bah, berat untuk berpaling. Di ambang pintu keluar Masjidil Haram, mereka menoleh untuk terakhir kalinya, dan hati mereka menjerit pilu:

“Ya Allah… jangan jadikan ini kunjungan terakhirku ke rumah-Mu. Jika Engkau takdirkan ini menjadi tatapan terakhirku pada Ka’bah, maka jadikanlah sisa umurku dipenuhi kerinduan kepada-Mu, dan kumpulkan aku bersama pemilik rumah ini di surga-Mu…”

Itulah perpisahan yang mengharukan. Kerinduan itu begitu nyata, bahkan sebelum kaki mereka melangkah keluar dari tanah Makkah, rindu itu sudah tumbuh kembali dengan lebih dahsyat.

Maka, wahai hati yang merindukan Baitullah… bertaubatlah, menangislah hari ini, ketuklah pintu langit, mintalah kepada Allah agar nama kita dicatat sebagai tamu-Nya di tahun-tahun mendatang.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

‎اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Di hari yang suci ini, mari kita bersihkan hati kita. Kita sadari bahwa dunia ini teramat sebentar. Esok atau lusa, giliran kita yang akan dipisahkan dari dunia ini, dibungkus dengan kain putih yang sama dengan kain ihram, namun kita tidak akan bisa kembali lagi ke dunia.

Sebelum waktu itu tiba, mari kita mengetuk pintu rahmat Allah. Mari kita berdoa dengan hati yang hadir, dengan jiwa yang gemetar, memohon agar Allah memanggil kita, orang tua kita, istri kita, suami kita, dan anak-anak keturunan kita ke Baitullah.

أََيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيَّهَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ حَجَّاجًا وَمُعْتَمِرِيْنَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ وُفُودِكَ وَضُيُوفِكَ، وَارْزُقْنَا فِي تِلْكَ الْبِقَاعِ الطَّاهِرَةِ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ، وَحَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، وَدُمُوعَ الْخُشُوعِ، وَالشَّوْقَ إِلَيْكَ وَإِلَى لِقَائِكَ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُتَعَلِّقَةً بِكَ، مُحِبَّةً لَكَ، مُشْتَاقَةً إِلَى رِضْوَانِكَ وَالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلْ أَعْظَمَ نَعِيمِنَا قُرْبَكَ وَمَحَبَّتَكَ وَالْأُنْسَ بِذِكْرِكَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِينَ أَيْنَمَا كُنَّا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَقَرِّبْ إِلَيْهِمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَجَنِّبْهُمْ بِطَانَةَ السُّوءِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَأَقْبِلُوا عَلَى بَعْضِكُمْ مُهَنِّئِينَ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ أَجْمَعِينَ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *