Khutbah Jum’at: Berdamai Dengan Musibah

Khutbah Pertama

‎ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي أَمَرَ بِٱلصَّبْرِ فَكَانَ لِلْقُلُوبِ نُورًا، وَلِلْمُؤْمِنِينَ ذُخْرًا وَسُرُورًا، يَرْفَعُ بِهِ ٱلدَّرَجَاتِ، وَيَغْفِرُ بِهِ ٱلزَّلَّاتِ، وَيَجْعَلُ بَعْدَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا، وَبَعْدَ ٱلضِّيقِ فَرَجًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُثَبِّتُ عِنْدَ ٱلْبَلَاءِ، وَتُنَجِّي يَوْمَ ٱللِّقَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَصْبَرُ ٱلنَّاسِ عِنْدَ ٱلشَّدَائِدِ، وَأَعْظَمُهُمْ ثِقَةً بِرَبِّهِ عِنْدَ ٱلْمَصَائِبِ، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Marilah kita tak henti-hentinya meningkatkan iman ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena seluruh keberuntungan dunia dan akhirat bersumber dari ketakwaan.

‎وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 189)

Sidang Jama’ah Jum’at yang Allah muliakan…

Dalam kehidupan ini, tidak ada seorang pun yang luput dari ujian. Tua maupun muda, kaya ataupun miskin, semuanya pasti merasakan pahit dan manisnya kehidupan.

Ada yang diuji dengan kesempitan hidup: penghasilan terbatas dan kebutuhan menumpuk, hingga keimanan diuji antara sabar atau berkeluh kesah. Sebaliknya, ada yang diuji dengan kelapangan harta, namun lalai bersyukur dan berat bersedekah.

Ada yang diuji dengan penyakit, sehingga melaluinya ia bisa belajar sabar dan merasakan kedekatan dengan Allah. Dan ada yang diuji dengan kesehatan, namun justru lalai dari ibadah.

Ada yang diuji dengan kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang diuji dengan keluarga yang lengkap namun tidak harmonis.

Semua ini menunjukkan bahwa setiap keadaan adalah ujian. Tidak selalu yang tampak ceria benar-benar bahagia, dan tidak selalu yang tampak menderita benar-benar sengsara.

Ujian itu Ma’asyiral Muslimin… adalah sunnatullah: ketetapan Allah yang pasti berlaku pada setiap hamba.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًاۚ

“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Allah juga berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ma’asyiral Muslimin rahimanii wa rahimakumullah…

Jika kedua ayat ini kita renungkan bersama, tampak jelas bahwa hakikat ibadah yang merupakan tujuan penciptaan kita bukan hanya pada banyaknya amal, tetapi bagaimana seorang hamba lulus dalam ujian yang telah, akan dan selalu diberikan kepadanya. Allah Ta’ala berfirman:

وَنَبْلُوكُمْ بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةًۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan memberim kalian keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Ibnu Zaid rahimahullah berkata:
“Kami menguji kalian dengan apa yang kalian sukai dan apa yang kalian benci; agar Kami melihat bagaimana rasa syukur kalian terhadap hal-hal yang kalian sukai, dan bagaimana kesabaran kalian terhadap hal-hal yang kalian benci.” (Lihat: Tafsir ath-Thabari 17/25)

Artinya Ma’asyiral Muslimin.. Ujian kehidupan tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang kita benci. Terkadang justru ia hadir dalam rupa kenikmatan: harta yang melimpah, tubuh yang sehat, dan berbagai macam kemudahan.
Di situlah letak ujian yang sebenarnya, bagaimana kita menggunakan semua itu. Apakah tetap kita arahkan kepada hal-hal yang Allah cintai, atau justru kita gunakan untuk hal-hal yang mendatangkan murka-Nya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

‎فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۝١٥ وَأَمَّا إِذَامَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ۝١٦ كَلَّا

Adapun manusia, ketika Rabbnya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, ia berkata, “Rabbku telah memuliakanku.”
Namun ketika Dia mengujinya dengan menyempitkan rezekinya, ia berkata, “Rabbku telah menghinakanku.” Sekali-kali tidak! (QS. Al-Fajr: 15-17)

Artinya, tidak seperti yang disangka manusia. Bisa jadi Aku mengujinya dengan kenikmatan, dan Aku memberinya nikmat justru dalam bentuk ujian.

Hadirin yang Allah muliakan…
Harta yang melimpah tidak hanya dimiliki oleh satu jenis manusia. Ia bisa berada di tangan orang-orang shalih, sebagaimana ia juga bisa berada di tangan orang-orang yang celaka.

Lihatlah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, keduanya diberi keluasan harta, namun harta itu menjadi sarana mendekat kepada Allah. Berbeda dengan Qarun, yang juga diuji dengan kekayaan, tetapi gagal karena kesombongannya.

Demikian pula kekuasaan. Ia bukan tanda kemuliaan, melainkan ujian.
Fir’aun diberi kekuasaan, namun ia menyombongkan diri hingga mengaku sebagai tuhan.

Sebaliknya, Nabi Sulaiman juga diberi kerajaan yang besar, namun lisannya dipenuhi syukur.

هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah akubersyukur ataukah aku kufur.” (QS. An-Naml: 40)

Kedekatan dengan orang shalih pun tidak menjamin hidayah jika hati tidak terbuka.
Abu Lahab adalah paman dari Nabi Muhammad ﷺ, namun kedekatan nasab itu tidak memberinya manfaat sedikit pun.

Sebaliknya, orang-orang yang secara nasab jauh, justru mendapatkan kemuliaan iman, seperti Bilal bin Rabah dan Salman Al-Farisi. Mereka bukan dari bangsa Arab, namun hati mereka terbuka menerima kebenaran tanpa ragu.

Dari semua itu kita belajar: yang menjadi ukuran bukanlah apa yang kita miliki, tetapi bagaimana sikap kita terhadapnya.
Harta, kekuasaan, kedudukan, bahkan kedekatan dengan orang shalih, semuanya adalah ujian.

Ada yang lulus dengan syukur dan tawadhu’, dan ada pula yang jatuh karena kesombongan dan kelalaian.

Allah Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَاآتَاكُمْ

“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kalian di atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar Dia menguji kalian terhadap apa yang telah Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An’am: 165)

Hadirin, sidang jama’ah jum’at rahimanii wa rahimakumullah…

Dengan memahami bahwa setiap manusia pasti akan diuji, dan bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi ujian itu, bahkan ada banyak orang lain yang diuji dengan cobaan yang jauh lebih berat, maka hatinya akan lebih mudah menerima keadaan.

Ia pun belajar berdamai dengan takdir, tidak lagi dipenuhi keluh-kesah, melainkan berusaha menjalaninya dengan sabar, lapang dada, dan penuh harap kepada-Nya.

Jika demikian keadaan seorang mukmin, maka sungguh ia telah diberikan anugerah yang besar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Barangsiapa berusaha untuk bersabar, maka Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1469 dan Muslim, no. 1053).

Ummtal Islam..

Sebagai orang beriman, sejatinya kita sudah sangat diuntungkan. Karena pada dasarnya semua orang pasti diuji: mukmin atau kafir. Namun orang kafir tidak mendapatkan apa-apa di balik musibah itu. Sedangkan orang beriman, selain hikmah besar di dunia yang terkadang disegerakan, ia masih bisa berharap pahala dan surga dari beratnya ujian hidup yang ia rasakan.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Jika kalian merasakan sakit, maka sesungguhnya mereka pun merasakan sakit sebagaimana kalian merasakannya. Akan tetapikalian mengharapkan dari Allah apa yang tidak merekaharapkan. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 104)

Maha Mengetahui takdir dan skenario apa yang terbaik setiap hamba-Nya. Dan Maha Bijaksana, pengetahuan-Nya akan segala sesuatu, selalu diiringi dengan kebijaksanaan.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي جَعَلَ ٱلصَّبْرَ مِفْتَاحَ ٱلْفَرَجِ، وَسَبَبًا لِبُلُوغِ ٱلْحَاجَاتِ، وَجَعَلَهُ لِعِبَادِهِ عُدَّةً عِنْدَ ٱلشَّدَائِدِ، وَعِصْمَةً عِنْدَ ٱلْمُلِمَّاتِ، يَمْحُو بِهِ ٱلْخَطَايَا، وَيُضَاعِفُ بِهِ ٱلْأُجُورَ وَٱلْعَطَايَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تَكُونُ لِقَائِلِهَا نُورًا فِي ٱلظُّلُمَاتِ، وَذُخْرًا يَوْمَ ٱلْكُرُبَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَصْبَرُ ٱلنَّاسِ عَلَى ٱلْبَلَاءِ، وَأَرْضَاهُمْ بِقَضَاءِ ٱللَّهِ وَٱلْقَدَرِ، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa banyaknya ujian dalam hidup ini, sejatinya perlahan memutus ketergantungan hati kita dari dunia. Ia membuat kita sering kecewa, bukan karena dunia terlalu kejam, tapi karena memang ia tidak diciptakan sebagai tempat kebahagiaan yang sempurna.

Abu Hasan at-Tihami rahimahullah bersenandung tentang dunia:

طُبِعَتْ عَلَى كَدَرٍ وَأَنْتَ تُرِيدُهَا … صَفْوًا مِنَ الْأَقْذَاءِ وَالْأَكْدَارِ

“Dunia ini memang diciptakan penuh dengan kekeruhan, sementara engkau menginginkannya bersih dari segala kotoran dan gangguan.”

Maksud beliau: Itu sangatlah mustahil!

Dari situlah, hati mulai sadar, bahwa kita hanyalah musafir yang sedang berteduh. Sehingga kerinduan itu pun tumbuh, rindu kepada kampung halaman yang sebenarnya, rindu kepada surga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا،إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا.

“Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2377, Ibnu Majah, no. 4109, dan Ahmad, no. 3709)

Beliau juga bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ.

“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari, no. 6416)

Ma’asyiral Muslimin…

Orang yang berteduh tidak akan berlama-lama; ia hanya singgah sejenak lalu melanjutkan perjalanan. Demikian pula seorang musafir, ia tidak menetap selamanya di perjalanan.

Maka orang yang cerdas adalah yang menjadikan dunia sekadar tempat singgah: mengambil bekal seperlunya untuk menuju akhirat, tanpa menambatkan hati padanya.

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ikhwatal Iman…

Jika tidak ada hikmah di balik musibah selain yang satu ini saja, yakni mengingatkan kita bahwa dunia bukan tempat tinggal abadi dan menumbuhkan kerinduan kepada surga, maka itu pun sudah lebih dari cukup.

Lalu bagaimana jika ternyata di balik setiap ujian itu tersimpan begitu banyak keutamaan, pahala, dan kebaikan besar yang Allah siapkan bagi mereka yang mampu bersabar menghadapinya?

Sungguh, musibah bagi seorang mukmin bukanlah tanda kebencian Sang Khaliq, melainkan cara Allah menyapa hamba-Nya dengan kasih sayang yang tersembunyi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ.

“Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan(Allah). Dan barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan (Allah).” (HR. Tirmidzi, no. 2396, Ibnu Majah, no. 2396)

Bagaimana mungkin musibah bukan tanda cinta, padahal ia datang sebagai pengingat bagi seorang hamba akan kampung halamannya yang sejati?

Bagaimana mungkin musibah bukan tanda cinta, sementara dengannya Allah menghapus dosa-dosa hamba dan mengangkat derajatnya?

Bagaimana mungkin musibah bukan tanda cinta, sedangkan ia mendatangkan pahala tanpa batas bagi siapa yang menyikapinya dengan sabar?

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:

لَيْسَ بِفَقِيهٍ مَنْ لَمْ يَعُدَّ الْبَلَاءَ نِعْمَةً.

“Bukanlah seorang yang benar-benar faqih (paham agama) orang yang tidak menganggap ujian sebagai sebuah nikmat.” (Lihat: HR. Abu Nu’aim 7/55)

‎أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهُ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
‎اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.
‎اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًاً مُطْمَئِنًا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
‎اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
‎اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِينَ أَيْنَمَا كُنَّا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَجَنِّبْهُمْ بِطَانَةَ السُّوءِ.
‎رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
‎عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ ٱلِلَّهَ يَأْۡمُرُ بِٱلِۡعَدْۡلِ وَٱلِۡإِحْۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلِۡقُرْۡبَىٰ وَيَنْۡهَىَٰ عَنِ ٱلِۡفَحْۡشَآءِ وَٱلِۡمُنْكَرِ وَٱلِۡبَغٍّۡيِۚ يَعِظُكُمْۡ لَعَلَّكُمْۡ تَذَكَّرُونَ.
‎فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يُذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلِذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ..