Khutbah Jum’at: Gara-gara Riba

Khutbah Pertama

‎الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحَلَّ الْبَيْعَ رَحْمَةً بِعِبَادِهِ، وَحَرَّمَ الرِّبَا صِيَانَةً لِأَمْوَالِهِمْ وَمَعَاشِهِمْ وَمَعَادِهِمْ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمٍ تَتَوَالَى، وَأَشْكُرُهُ عَلَى آلَاءٍ لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، جَعَلَ الْبَرَكَةَ فِي الْحَلَالِ وَإِنْ قَلَّ، وَمَحَقَ الرِّبَا وَإِنْ كَثُرَ وَجَلَّ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، حَذَّرَ أُمَّتَهُ مِنْ أَسْبَابِ الْهَلَاكِ، وَبَيَّنَ لَهُمْ سُبُلَ الْفَلَاحِ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الْمَآبِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Dari mimbar yang mulia ini, khatib mewasiatkan diri pribadi dan segenap jamaah untuk terus berusaha merealisasikan takwa kepada Allah Ta’ala. Karena takwa adalah kunci keberuntungan dunia dan akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

‎وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 130)

Sidang Jama’ah Jum’at yang Allah muliakan…

Di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian; nilai rupiah melemah, harga-harga kebutuhan pokok terus meningkat, lapangan pekerjaan semakin sempit, dan penghasilan yang terasa tidak lagi mencukupi kebutuhan hidup, di situlah kesabaran seorang mukmin benar-benar diuji.

Allah Ta’ala telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia memang merupakan tempat ujian:

‎وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Karena itu, seorang mukmin tidak memandang krisis hanya sebagai persoalan ekonomi semata. Ia melihatnya dengan pandangan iman. Ia bertanya kepada dirinya: “Pesan apa yang Allah ingin sampaikan kepadaku melalui musibah ini?”

Sebab tidaklah berbagai kerusakan dan kesulitan menimpa manusia kecuali karena dosa-dosa yang mereka lakukan.

Allah Ta’ala berfirman:

‎ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)

Perhatikanlah, Allah tidak mengatakan agar mereka binasa. Allah mengatakan:

‎لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Agar mereka kembali.”

Artinya, musibah sering kali merupakan panggilan kasih sayang dari Allah agar hamba-Nya kembali kepada-Nya, memperbaiki diri, dan meninggalkan dosa-dosa yang selama ini dianggap remeh.

Maka hendaknya setiap kita melakukan muhasabah.

Seberapa dekat hubungan kita dengan Rabb kita?

Seberapa serius kita menjalankan syariat-Nya?

Seberapa besar perhatian kita terhadap akhirat dibandingkan dunia?

Seberapa kuat persiapan kita menuju kampung abadi yang akan kita tempati selamanya?

Jika ia mendapati dirinya berada di atas ketaatan, hendaklah ia memuji Allah dan memohon keteguhan. Namun jika ia menemukan banyak kekurangan dan kemaksiatan dalam dirinya, maka hendaknya ia segera bertaubat sebelum terlambat.

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Di antara perkara yang sangat layak kita evaluasi bersama, yang dampaknya bukan hanya bagi individu namun juga bagi kondisi ekonomi masyarakat secara luas, adalah persoalan riba.

Perkara ini dapat kita mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar, tanpa harus menunggu kebijakan pemerintah atau perubahan sistem yang besar.

Allah Ta’ala berfirman:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۝ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang masih ada jika kalian benar-benar beriman. Jika kalian tidak melakukannya, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 278-279)

Perhatikanlah, Allah menjadikan meninggalkan riba sebagai bukti keimanan.

Bahkan tidak ada dosa lain yang ancamannya disebut dengan kalimat yang begitu menggetarkan:

‎فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya” bagi mereka yang tidak mau meninggalkan riba.

Ancaman ini menunjukkan betapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh riba, baik terhadap agama, akhlak, maupun kehidupan ekonomi manusia.

Ummatal Islam…

Bentuk riba yang paling dikenal adalah riba nasi’ah, yaitu tambahan yang disyaratkan karena penangguhan pembayaran utang.

Inilah bentuk riba yang dikenal pada masa jahiliyah.

Ketika jatuh tempo pembayaran utang, kreditur berkata kepada debitur:

‎أَتَقْضِي أَمْ تُرْبِي؟

“Apakah engkau akan melunasi sekarang atau menambah jumlah utangnya?”

Maksudnya, jika utang tidak mampu dibayar saat jatuh tempo, maka tenggat waktu diperpanjang namun jumlah utang ditambah. Inilah riba jahiliyah yang dikecam oleh Al-Qur’an.

Ironisnya, pada zaman sekarang praktik yang terjadi sering kali lebih buruk. Seseorang sudah dibebani bunga sejak awal akad, meskipun ia membayar tepat waktu. Jika terlambat, bunga dan denda bertambah. Bahkan di sebagian akad, ketika seseorang ingin melunasi lebih cepat justru dikenakan penalti.

Maka tidak mengherankan jika banyak ulama menyebut bahwa sebagian praktik riba modern mengandung bentuk kezaliman yang lebih luas daripada riba jahiliyah.

Allah Ta’ala berfirman:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memakan riba yang berlipat ganda, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.”
(QS. Ali ’Imran: 130)

Ikhwatal Iman rahimani wa rahimakumullah…

Mungkin ada yang bertanya: “Ayat-ayat tersebut tampaknya berbicara tentang orang yang memberi pinjaman berbunga. Bagaimana dengan kami yang justru menjadi peminjam? Apakah kami juga terkena ancaman tersebut?”

Jawabannya terdapat dalam hadits yang sangat tegas dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhuma.

Beliau berkata:

‎لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba (kreditur), pemberi riba (debitur), penulis akadnya (teller), dan kedua saksinya.” Lalu beliau bersabda, “Mereka semuanya sama (di dalam laknat).” (HR. Muslim no. 1598)

Perhatikanlah. Rasulullah ﷺ tidak hanya melaknat pihak yang mengambil keuntungan dari riba. Bahkan seluruh pihak yang membantu berlangsungnya transaksi tersebut ikut mendapatkan ancaman yang sama.

Ini menunjukkan bahwa Islam ingin memutus mata rantai riba sampai ke akar-akarnya.

Ummatal Islam…

Agama ini tidaklah memerintahkan sesuatu kecuali karena di dalamnya terdapat kebaikan bagi manusia. Dan tidaklah melarang sesuatu kecuali karena di dalamnya terdapat kerusakan.

Kadang kerusakan itu hanya menimpa pelakunya. Namun ada pula dosa yang dampaknya menjalar kepada masyarakat luas.

Riba termasuk di antaranya.

Ketika negara bergantung kepada utang luar negeri yang berbunga, maka sebagian besar anggaran akan tersedot untuk membayar cicilan dan bunga utang. Akibatnya beban ekonomi pada akhirnya kembali kepada rakyat.

Ketika perusahaan dan pelaku usaha menjalankan bisnis dengan pinjaman berbunga, biaya bunga tersebut akan dimasukkan ke dalam harga produk dan jasa. Akhirnya masyarakat membeli barang dengan harga yang lebih mahal.

Ketika pembelian rumah dan kendaraan didorong oleh kredit berbunga yang mudah diperoleh, permintaan melonjak jauh lebih cepat daripada ketersediaan barang. Akibatnya harga tanah dan rumah terus meningkat.

Orang yang membeli rumah dengan sistem riba harus menanggung tambahan pembayaran selama belasan bahkan puluhan tahun.

Sementara generasi muda yang tidak ikut dalam praktik tersebut justru kesulitan memiliki rumah karena harga sudah terlampau tinggi.

Inilah salah satu bentuk kerusakan sosial yang ditimbulkan oleh riba.

Sebagian orang bertransaksi dengan riba, namun dampaknya dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas.

Demikian pula ketika dana-dana masyarakat lebih banyak mengalir ke sektor pembiayaan berbasis utang dibandingkan sektor riil seperti pertanian, perdagangan, industri, dan usaha produktif, maka kesempatan kerja menjadi lebih terbatas dan pertumbuhan ekonomi yang sehat menjadi terhambat.

Karena itu, riba bukan sekadar persoalan dosa individu. Ia juga menjadi sebab berbagai problem ekonomi yang menimpa masyarakat.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya:

‎وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَا فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ ۖ

“Dan sesuatu riba yang kalian berikan agar bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak bertambah di sisi Allah.” (QS. Ar-Rum: 39)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا، وَأَغْنَى مَنْ شَاءَ بِفَضْلِهِ وَجُودِهِ، وَأَفْقَرَ مَنْ شَاءَ بِحِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، جَعَلَ الْقَنَاعَةَ كَنْزًا لَا يَفْنَى، وَالْبَرَكَةَ ثَمَرَةَ التَّقْوَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَرَ بِالْكَسْبِ الطَّيِّبِ، وَنَهَى عَنْ أَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Setelah mengetahui besarnya dosa riba dan dampak buruk yang ditimbulkannya, mungkin ada di antara kita yang bertanya:

“Lalu bagaimana jika saya sudah terlanjur terjerumus ke dalam transaksi riba?”

Jawabannya adalah: pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.

Namun bentuk taubat dari riba berbeda-beda sesuai dengan keadaan masing-masing.

Jika seseorang sedang berada dalam proses pengajuan pinjaman ribawi, belum menandatangani akad, atau masih memungkinkan untuk membatalkannya, maka hendaknya ia segera membatalkan niat tersebut.

Yakinlah bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki.

Rezeki tidak akan tertukar dan tidak akan berkurang hanya karena kita meninggalkan sesuatu yang haram demi mencari ridha-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

‎إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya engkau tidaklah meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad no. 23074, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Tugas kita adalah memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbanyak ketaatan, kemudian berikhtiar dengan cara yang halal dan bertawakal kepada-Nya.

Adapun jika seseorang sudah terlanjur terikat dalam akad ribawi dan belum mampu keluar darinya saat ini, maka hendaknya ia menjadikan akad tersebut sebagai yang terakhir dalam hidupnya.

Jangan menambah akad ribawi yang baru.

Perbanyak istighfar dan taubat kepada Allah.

Berusahalah semaksimal mungkin untuk mempercepat pelunasan jika memungkinkan tanpa menimbulkan mudarat yang lebih besar.

Dan jangan pernah mengajak orang lain untuk ikut terjerumus ke dalam praktik yang sama.

Sebab dosa yang terus mengalir adalah ketika seseorang bukan hanya bermaksiat, tetapi juga menjadi sebab orang lain melakukan maksiat tersebut.

Hadirin yang Allah muliakan…

Di antara doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ agar seseorang terbebas dari utang adalah doa agung yang dibaca sebelum tidur:

‎اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

“Ya Allah, Rabb tujuh langit dan Rabb Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Yang membelah biji dan inti, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya berada dalam genggaman-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkaulah Yang Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat selain-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran.” (HR. Muslim no. 2713)

Selain itu, rutinkan pula doa:

‎اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang serta tekanan manusia.” (HR. Bukhari no. 6369)

Bagi para jamaah yang membutuhkan teks kedua doa tersebut, insya Allah dapat menghubungi kami setelah shalat untuk kami bagikan.

Sidang Jamaah Jumat yang berbahagia…

Khusus bagi saudara-saudara kita yang bekerja di lembaga keuangan konvensional dan belum mampu meninggalkan pekerjaannya saat ini, maka janganlah menolak nasihat ini dengan kesombongan.

Terimalah kebenaran sebagai kebenaran.

Akuilah dalam hati bahwa riba adalah sesuatu yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya.

Boleh jadi hari ini kita belum mampu keluar dari suatu keadaan, tetapi ketika hati menerima nasihat dan terus berusaha mencari jalan keluar, Allah akan membukakan pintu rezeki yang tidak pernah kita sangka.

Allah Ta’ala berfirman:

‎وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Di antara ikhtiar yang bisa dilakukan untuk meminimalkan keterlibatan dengan riba adalah memindahkan dana yang tersimpan di rekening bank konvensional ke rekening yang lebih dekat kepada prinsip-prinsip syariah.

Memang kita menyadari bahwa sebagian praktik perbankan syariah pada hari ini masih membutuhkan banyak perbaikan dan penyempurnaan.

Namun setidaknya seorang muslim berusaha menjauh dari bunga yang jelas-jelas diharamkan dan terus mendorong agar lembaga-lembaga keuangan syariah semakin sesuai dengan tuntunan syariat.

Ikhwatal Iman…

Yakinlah bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil.

Apa yang kita bahas hari ini hanyalah satu jenis dosa, yaitu riba.

Padahal seluruh bentuk kemaksiatan wajib kita tinggalkan.

Jangan sampai kita begitu sedih ketika kehilangan dunia, namun tidak pernah sedih ketika kehilangan akhirat.

Jangan sampai kita begitu cemas karena penghasilan berkurang, namun tidak pernah cemas ketika hari demi hari berlalu sementara shalat berjamaah kita tinggalkan.

Jangan sampai kita begitu gelisah karena harga kebutuhan naik, namun tidak pernah gelisah ketika Al-Qur’an berdebu di rak rumah dan tidak pernah kita baca.

Wal’iyadzu billah.

Sesungguhnya ini menunjukkan bahwa orientasi hidup kita masih terlalu tertuju kepada dunia.

Padahal dunia hanyalah tempat singgah yang sebentar, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal selamanya.

Karena itu, perbaikilah hubungan dengan Allah.

Tegakkan shalat lima waktu.

Perbanyak membaca Al-Qur’an.

Jauhi dosa-dosa yang tampak maupun tersembunyi.

Jadikan akhirat sebagai tujuan utama.

Karena ketika seorang hamba menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.

Allah Ta’ala berfirman:

‎وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin, melapangkan rezeki mereka dengan cara yang halal, menjauhkan negeri ini dari berbagai krisis dan musibah, serta menganugerahkan kepada kita keberkahan dari langit dan bumi. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin

أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهُ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًاً مُطْمَئِنًا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ ٱقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ ٱلْيَقِينِ مَا يُهَوِّنُ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ ٱلدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَٱجْعَلْهُ ٱلْوَارِثَ مِنَّا، وَٱجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَىٰ مَنْ ظَلَمَنَا، وَٱنْصُرْنَا عَلَىٰ مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ ٱلدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَجَنِّبْهُمْ بِطَانَةَ السُّوءِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ ٱلِلَّهَ يَأْۡمُرُ بِٱلِۡعَدْۡلِ وَٱلِۡإِحْۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلِۡقُرْۡبَىٰ وَيَنْۡهَىَٰ عَنِ ٱلِۡفَحْۡشَآءِ وَٱلِۡمُنْكَرِ وَٱلْبَغٍّۡيِۚ يَعِظُكُمْۡ لَعَلَّكُمْۡ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يُذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلِذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *