Ketika Nabi Luth Merasa Lemah Menghadapi Kaumnya

Syaikh Sa’ad Al-Khotslan hafizhahullah

Di antara momen paling menyentuh dalam kisah Nabi Luth ‘alaihissalam adalah ketika beliau menghadapi kaumnya yang telah rusak fitrahnya dan ingin melakukan perbuatan keji kepada tamu-tamunya. Saat para malaikat datang dalam rupa manusia, Nabi Luth belum mengetahui siapa mereka sebenarnya. Karena itu beliau merasa sangat sedih dan sempit dadanya. Allah berfirman:

﴿ وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ ﴾

“Ketika utusan-utusan Kami datang kepada Luth, beliau merasa sedih dan dadanya terasa sempit. Ia berkata: ‘Ini adalah hari yang sangat sulit.’” (QS. Hud: 77)

Kesedihan beliau bukan karena takut pada dirinya sendiri, tetapi karena khawatir tidak mampu melindungi tamunya dari kaumnya yang brutal dan tenggelam dalam penyimpangan. Dalam keadaan terdesak, Nabi Luth berkata:

﴿ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ ﴾

“Seandainya aku memiliki kekuatan atau tempat berlindung yang kuat.” (QS. Hud: 80)

Yang dimaksud *“Ruknun Syadid”* adalah sandaran dan perlindungan yang sangat kuat. Secara lahiriah, Nabi Luth berharap memiliki kaum atau keluarga yang dapat melindunginya. Namun hakikatnya, perlindungan paling kuat hanyalah Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda:

« وَيَرْحَمُ اللَّهُ لُوطًا لَقَدْ كَانَ يَأْوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ »

“Semoga Allah merahmati Luth. Sungguh beliau berlindung kepada sandaran yang sangat kuat.” (HR. Bukhari no. 3372 dan Muslim no. 151).

Maksudnya, Allah adalah sekuat-kuat perlindungan dan sebaik-baik tempat bersandar. Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda:

« مَا بَعَثَ اللَّهُ بَعْدَ لُوطٍ نَبِيًّا إِلَّا فِي ثَرْوَةٍ مِنْ قَوْمِهِ »

“Allah tidak mengutus nabi setelah Luth kecuali memiliki kaum yang melindunginya.” (HR. Tirmidzi no. 3116).

Kisah ini mengajarkan bahwa seorang mukmin terkadang merasa lemah dan tidak memiliki penolong. Namun pertolongan Allah jauh lebih kuat daripada seluruh kekuatan manusia. Ketika semua sandaran dunia terasa lemah, Allah tetap menjadi *“Ruknun Syadid”* (tempat berlindung paling kokoh) yang tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.

Sumber: Qishshatu Ityanil Mala’ikah Li Ihlaki Qoumi Luth ‘Alaihissalam via channel YouTube Syaikh Sa’ad Al-Khotslan hafizhahullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button