Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah :
Berbaik sangka kepada Allah adalah fondasi penting dalam keimanan seorang hamba. Ia bukan sekadar perasaan positif, tetapi keyakinan yang kokoh dalam hati. Berbaik sangka kepada Allah berarti meyakini dengan penuh bahwa Allah adalah Rabb kita, Pencipta kita, dan satu-satunya yang memberi rezeki kepada kita. Dialah yang memberikan petunjuk, yang menghidupkan dan mematikan, dan di tangan-Nya seluruh kebaikan berada. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ketika keyakinan ini tertanam kuat, maka seorang hamba akan terdorong untuk selalu berbaik sangka kepada Allah dan senantiasa berharap kebaikan dari-Nya, dalam kondisi apa pun. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sesuai yang ia inginkan.” (HR. Ad-Darimi no. 2649)
Hadits ini menunjukkan betapa besar pengaruh prasangka seorang hamba kepada Rabb-nya. Siapa yang berharap kebaikan, maka Allah akan membukakan jalan kebaikan baginya. Sebaliknya, siapa yang berburuk sangka, maka ia sedang menyiapkan keburukan untuk dirinya sendiri. Allah juga mencela orang-orang musyrik karena buruknya prasangka mereka kepada-Nya. Ketika mereka masuk neraka, Allah berfirman:
وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ فَإِنْ يَصْبِرُوا فَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ ۖ وَإِنْ يَسْتَعْتِبُوا فَمَا هُم مِّنَ الْمُعْتَبِينَ
“Dan itulah prasangka kalian kepada Rabb kalian yang telah membinasakan kalian, sehingga kalian termasuk orang-orang yang rugi. Jika mereka bersabar, maka nerakalah tempat tinggal mereka. Dan jika mereka meminta untuk kembali (ke dunia), maka mereka tidak akan dikabulkan.” (QS. Fussilat: 23–24).
Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa buruk sangka kepada Allah bukan perkara ringan. Ia bisa menjadi sebab kebinasaan dan kerugian yang abadi. Oleh karena itu, orang-orang musyrik, kafir, dan munafik dihukum dengan akhir yang buruk karena mereka berburuk sangka kepada Allah.
Sebaliknya, orang-orang yang beriman memiliki sikap yang berbeda. Mereka berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Mereka yakin bahwa setiap ketetapan Allah pasti mengandung kebaikan, meskipun terkadang belum terlihat. Hasilnya pun berbeda. Akhir kehidupan mereka baik, dan tempat kembali mereka pun penuh kebaikan.
Sumber: Hakikat Husnudzon kepada Allah ‘azza wajalla – Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah