Salah satu pilar utama keimanan adalah beriman kepada takdir, yang berakibat baik maupun buruk. Takdir adalah ketentuan Allah Ta’ala atas segala makhluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu dan tuntunan hikmah-Nya.
Takdir memiliki empat tingkatan :
Pertama: Ilmu
Kita meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia tahu apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan bagaimana sesuatu akan terjadi dengan ilmu-Nya yang azali (tanpa permulaan) dan abadi. Ilmu Allah tidak baru muncul setelah sebelumnya tidak tahu, dan Dia tidak akan pernah lupa.
Kedua: Penulisan
Setelah meyakini bahwa ilmu Allah mencakup segala sesuatu, kita pun meyakini bahwa Allah telah menetapkan seluruh apa yang akan terjadi hingga hari kiamat dalam bentuk tulisan. Dia memerintahkan Pena untuk menuliskan seluruh takdir tersebut di Lauhul Mahfuz.
Allah berfirman:
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya itu semua telah tertulis dalam sebuah kitab (Lauhul Mahfuz). Sungguh, yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمُ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ، قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ.
“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Pena itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah semua takdir segala sesuatu sampai hari kiamat terjadi.’” (HR. Abu Dawud, no. 4700 dengan sanad yang shahih).
Ketiga: Kehendak
Selanjutnya kita meyakini bahwa segala yang ada di langit dan bumi terjadi dengan kehendak Allah. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا
“Kalian tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. Al-Insan: 30)
Keempat: Penciptaan
Lalu kita juga meyakini bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Allah berfirman:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. Milik-Nya kunci-kunci langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62–63)
Keempat tingkatan ini mencakup segala sesuatu, baik yang dilakukan oleh Allah sendiri maupun yang dilakukan oleh hamba. Semua ucapan, perbuatan, dan apa yang ditinggalkan oleh manusia, semuanya diketahui oleh Allah, tertulis di sisi-Nya, dikehendaki, dan diciptakan oleh-Nya. Allah berfirman:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Bagi siapa di antara kalian yang ingin menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah, Rabb semesta alam, menghendaki.” (QS. At-Takwir: 28–29)
Dan firman-Nya:
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
“Seandainya Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan saling berperang. Namun Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 253)
Dan firman-Nya:
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
“Seandainya Allah menghendaki, mereka tidak akan melakukannya. Maka biarkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An‘am: 137)
Dan firman-Nya:
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.” (QS. Ash-Shaffat: 96)
Namun demikian, kita juga meyakini bahwa Allah memberikan kepada manusia pilihan dan kemampuan, yang dengannya ia melakukan perbuatannya.
Dalil bahwa manusia memiliki pilihan dan kemampuan:
فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ
“Maka datangilah ladang (istri)-mu kapan saja dan dengan cara yang kalian kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223)
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً
“Seandainya mereka benar-benar ingin keluar (berjihad), tentu mereka akan menyiapkan persiapan untuk itu.” (QS. At-Taubah: 46)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa manusia bertindak dengan kehendak dan keinginannya.
Lalu adanya perintah dan larangan dalam syariat.
Jika manusia tidak punya pilihan dan kemampuan, tentu perintah dan larangan itu menjadi beban yang mustahil dilakukan. Ini tidak sesuai dengan hikmah dan rahmat Allah. Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Allah juga memuji orang yang berbuat baik dan mencela yang berbuat buruk, serta memberi balasan sesuai amalnya. Jika manusia tidak punya kehendak, maka pujian dan hukuman menjadi tidak adil, dan Allah Mahasuci dari ketidakadilan.
Kemudian Allah mengutus para rasul:
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“(Kami utus) para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, agar manusia tidak punya alasan lagi di hadapan Allah setelah diutusnya para rasul. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa: 165)
Jika manusia tidak memiliki kehendak dan pilihan, maka apa makna diutusnya para rasul agar manusia tidak lagi memiliki alasan di hadapan Allah? Ini jelas tidak sejalan dengan akal yang sehat dan bertentangan dengan hikmah Allah Yang Mahabijaksana.
Kemudian setiap orang merasakan bahwa ia melakukan sesuatu atau meninggalkannya tanpa paksaan.
Ia berdiri, duduk, bepergian, atau tinggal, semuanya dengan kehendaknya sendiri. Ia bisa membedakan antara sesuatu yang ia lakukan dengan sukarela dan yang dipaksa.
Maka, tidak ada alasan bagi pelaku maksiat untuk berdalih dengan takdir.
Menepis Alasan “Sudah Takdir” bagi Pelaku Maksiat
Seseorang tidak boleh membenarkan maksiatnya dengan alasan takdir. Mengapa?
1. Takdir itu Rahasia
Pelaku maksiat memilih dosanya secara sadar sebelum ia tahu apa takdirnya. Seseorang baru tahu takdirnya setelah perbuatan itu terjadi. Bagaimana mungkin menjadikannya alasan untuk sesuatu yang belum ia ketahui?
Allah berfirman:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا
“Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan dia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)
2. Pilih-pilih dalam Takdir
Mengapa dalam urusan dunia kita memilih yang terbaik? Jika ada dua jalan ke Mekkah, satu berbahaya dan satu aman, Anda pasti pilih yang aman. Jika ada dua pekerjaan, Anda pasti pilih yang gajinya besar. Mengapa dalam urusan akhirat Anda justru memilih jalan yang buruk lalu menyalahkan takdir?
Allah berfirman:
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِندَكُم مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ
Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan azab Kami. Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka, dan kamu hanya mengira.” (QS. Al-An‘am: 148)
3. Berusaha Sembuh
Jika tubuh Anda sakit, Anda pergi ke dokter dan rela minum obat pahit demi sembuh. Mengapa Anda tidak melakukan hal yang sama untuk mengobati penyakit hati (maksiat)?
Nabi ﷺ melarang kita untuk bersandar pada takdir, dan justru memerintahkan kita untuk beramal sebagai bentuk mengikhtiarkan takdir terbaik, beliau bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ. قَالُوا: أَفَلَا نَتَّكِلُ؟ قَالَ: لَا، اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditentukan tempatnya di surga atau neraka.” Mereka bertanya, “Kalau begitu, apakah kita cukup berserah saja?” Beliau menjawab, “Tidak, beramallah! Setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya.” (HR. Bukhari, no. 4945 dan Muslim, no. 2647)
Tentang Penisbatan Keburukan Kepada Allah
Keburukan tidak disandarkan kepada Allah, karena kesempurnaan rahmat dan hikmah-Nya. Nabi ﷺ bersabda:
وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ
“Dan keburukan tidak disandarkan kepada-Mu.” (HR. Muslim, no. 771)
Artinya, keputusan Allah itu sendiri tidak pernah buruk. Keburukan hanya ada pada objek atau dampak dari takdir tersebut. Namun, keburukan itu pun tidak murni buruk; selalu ada hikmah di baliknya.
Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41)
Bencana atau kemiskinan mungkin terasa buruk, tapi hikmahnya adalah agar manusia kembali kepada Allah.
Hukuman bagi pencuri terasa pahit bagi si pelaku, tapi itu adalah penghapus dosanya di akhirat sekaligus pelindung bagi keamanan masyarakat.
Buah Manis Beriman kepada Takdir
1. Tawakal yang Kuat
Kita berusaha maksimal namun tetap bersandar pada Allah karena sadar semua sebab-akibat ada di tangan-Nya.
2. Ketenangan Hati
Orang yang beriman pada takdir hidupnya paling tentram. Ia tahu bahwa apa yang ditakdirkan menimpanya tidak akan meleset, sehingga ia ridha dengan ketentuan Tuhan.
3. Menjauhkan Sifat Sombong
Saat sukses, ia tidak jumawa karena tahu itu adalah karunia dan takdir Allah, bukan semata karena kehebatannya.
4. Menghilangkan Putus Asa
Saat gagal atau tertimpa musibah, ia tidak terpuruk karena yakin itu adalah ketetapan Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi.
Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Tidak ada musibah yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis sebelum Kami menciptakannya. Yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dari kalian, dan tidak berlebihan dalam bergembira atas apa yang diberikan kepada kalian. Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22–23)
Semoga Allah meneguhkan kita di atas akidah ini, memberikan buahnya dalam kehidupan kita, menambah karunia-Nya kepada kita, tidak memalingkan hati kita setelah diberi petunjuk, dan menganugerahkan rahmat dari sisi-Nya. Dialah Maha Pemberi. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.
(Sumber: Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hlm. 27-31, 34)





