Antara Informasi Dan Celaan: Batasan Dalam Menyikapi Waktu

Syaikh Sa’ad bin Turki Al-Khotslan hafizhahullah

Tidak termasuk mencela waktu jika sekadar menyampaikan informasi.‎

Nabi Luth ‘alaihissalam berkata:‎

‏﴿هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ﴾‏

‎“Ini adalah hari yang sangat sulit” (QS. Hud: 77).‎

Tentang hari-hari sial; Allah menyebutkan tentang keadaan kaum ‘Ad:‎

‏﴿أَيَّامٍ نَّحِسَاتٍ﴾‏

‎“(Yaitu) beberapa hari yang penuh kesialan” (QS. Fussilat: 16).‎

Jika itu hanya dalam bentuk informasi, maka tidak masalah. Yang terlarang adalah jika berupa celaan dan ‎makian. Inilah yang dilarang, yaitu mencela waktu, sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi:‎

يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ‎ ‎وَأَنَا الدَّهْرُ‎ ‎أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

‎“Anak Adam menyakiti-Ku, ia mencela waktu. Padahal Aku-lah (Pengatur) waktu. Aku yang membolak-‎balikkan malam dan siang” (HR. Bukhari no. 7491).‎

Maka, mencela waktu tidak boleh, mencela bulan Syawal, atau bulan apa pun, itu terlarang. Namun, jika ‎itu bukan celaan, melainkan hanya informasi bahwa bulan ini misalnya pendek, atau bulan ini panjang, ‎atau bulan ini sering terjadi hal tertentu, jika dalam rangka informasi, maka itu tidak mengapa.‎

Sebagaimana Nabi Luth ‘alaihissalam berkata:‎

‏﴿هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ﴾‏

‎“Ini adalah hari yang sangat sulit” (QS. Hud: 77).‎

Sumber: Hal washfu syahri Syawwal bi annahu syahrun thawil wa syahru khumul yu‘tabaru min sabbid-‎dahr? Via Channel Youtube resmi Syaikh Sa’ad bin Turki Al-Khotslan hafizhahullah.‎