Trending

Bulan Dzulhijjah dan Dzikir

Ada keterkaitan kuat antara Bulan Dzulhijjah dan ibadah berdzikir. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah, dan tidak ada amal yang lebih dicintai oleh-Nya dibandingkan amal yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah). Maka perbanyaklah di dalamnya membaca tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad, no. 5446)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan dalam Majmu’ Fatawa (10/660): bahwa secara umum para ulama bersepakat mengenai amalan terbaik setelah yang wajib adalah senantiasa berdzikir. Hal ini ditegaskan dalam sabda Nabi ﷺ:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مِلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا لِدَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِعْطَاءِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا رِقَابَهُمْ وَيَضْرِبُونَ رِقَابَكُمْ؟ ذِكْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Maukah kalian aku beritahu tentang amalan terbaik kalian, yang paling suci di sisi Tuhan kalian, yang paling tinggi derajatnya, lebih baik daripada memberi emas dan perak, dan lebih utama daripada menghadapi musuh lalu kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian? Amalan tersebut adalah berdzikir.” (HR. Tirmidzi, no. 3377 dan dinilai shahih oleh Al-Albani)

Jika dzikir secara umum merupakan amalan yang paling utama, maka dzikir yang dikerjakan pada hari-hari terbaik tentu memiliki keutamaan dan kecintaan yang jauh lebih besar di sisi Allah.

Tujuan Ritual Haji Adalah Untuk Menegakkan Dzikir

Sebagian besar rangkaian ibadah haji dilaksanakan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, mulai dari ihram bagi yang berhaji tamattu’, mabit di Mina, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, melempar jumrah Aqabah, menyembelih hewan hadyu, tahallul, hingga thawaf ifadhah dan sa’i, dan semua itu tujuannya untuk menegakkan syariat berdzikir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ؛ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى

“Sesungguhnya thawaf di Ka’bah, (sa’i) antara Shafa dan Marwah, disyariatkan untuk menegakkan dzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Abu Dawud, no. 1888, Tirmidzi, no. 902, dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah 4/475)

Bagi yang tidak menunaikan haji, mereka tetap disyariatkan untuk menyembelih hewan qurban pada hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq.

Beragam bentuk ibadah yang terkumpul dalam waktu singkat ini tidak ditemukan pada hari-hari lain dalam setahun ini menunjukkan betapa agung dan istimewanya sepuluh hari Dzulhijjah.

Allah Ta’ala berfirman:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا ٱسْمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۖ فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ

“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (10 hari pertama Dzulhijjah) atas rezeki yang telah diberikan-Nya kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata:
“Memperbanyak dzikir kepada Allah di sepuluh hari Dzulhijjah itu merupakan bentuk syukur atas nikmat-nikmat yang Allah khususkan melalui hewan ternak, yang sebagian nikmat itu berkaitan dengan urusan agama para jamaah haji, dan sebagian lainnya berkaitan dengan urusan dunia mereka.” (Lihat: Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 599)

Dzikir Apa yang Kita Baca?

Dzikir yang dianjurkan bisa berupa dzikir yang terikat dengan waktu atau aktivitas tertentu, seperti dzikir setelah shalat, dzikir pagi dan petang, dzikir ketika masuk dan keluar rumah atau masjid, serta dzikir saat naik kendaraan dan aktivitas lainnya.

Bagi jamaah haji, ragam dzikir semakin banyak, mulai dari doa safar, bacaan talbiyah, takbir di setiap putaran thawaf, doa sapu jagad di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad, dan berbagai dzikir lain yang disyariatkan dalam pelaksanaan manasik haji.

Selain itu, dzikir yang tidak terikat waktu atau tempat tertentu juga sangat dianjurkan untuk dibaca, seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan terkhusus takbir, serta dzikir-dzikir lainnya.

Betapa mulianya sepuluh hari ini, sampai-sampai Allah bersumpah dalam Al-Qur’an:

وَٱلۡفَجۡرِ (١) وَلَيَالٍ عَشۡرٖ

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)

Sebagian besar ulama tafsir menjelaskan bahwa “malam yang sepuluh” dalam ayat ini adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. (Lihat: Tafsir Ibni Katsir 8/390)

Himpunan riwayat dan ucapan para ulama yang telah disebutkan menunjukkan betapa agungnya dzikir serta eratnya kaitan dzikir dengan bulan Dzulhijjah.

Karena itu, seorang muslim yang berakal hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu dan usia yang Allah anugerahkan kepadanya, terlebih di bulan haram yang mulia ini. Apalagi, amal shalih yang dikerjakan pada 10 hari pertama Dzulhijjah adalah amalan yang sangat dicintai Allah, melebihi amalan pada hari-hari lainnya.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk memperbanyak dzikir, memakmurkan hari-hari mulia ini dengan amal shalih, dan menerima seluruh amal ibadah kita.

Aamiin Ya Rabbal ‘alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *