Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizhahullah
Musibah adalah ujian yang membuka hakikat manusia. Ada orang yang ketika diuji justru semakin dekat kepada Allah. Namun ada pula yang kehilangan arah, putus asa, bahkan menghancurkan dirinya sendiri. Di sinilah tampak perbedaan besar antara orang beriman dan orang yang hidup tanpa iman. Seorang mukmin mengembalikan seluruh keadaan kepada Allah. Saat tertimpa musibah, ia berkata:
“Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” (HR. Muslim no. 2664).
Ia bersabar, berharap pahala, dan meyakini bahwa Allah tidak menakdirkan sesuatu dengan sia-sia. Karena itu, meskipun sedih, ia tetap memiliki sandaran hidup.
Berbeda dengan seorang mulhid (atheis). Ketika kehilangan sandaran iman, musibah sering kali berubah menjadi kehancuran batin. Banyak dari mereka tidak mampu menanggung tekanan hidup sehingga memilih untuk bunuh diri, narkoba, mabuk, atau berbagai pelarian yang merusak diri. Mereka kehilangan tempat kembali ketika dunia terasa sempit.
Ini bukan sekadar teori. Disebutkan ada seorang pengelana kafir yang pernah melakukan perjalanan di Jazirah Arab. Ia melihat kehidupan sederhana kaum badui dengan kambing dan tenda-tenda mereka. Suatu hari datang angin kencang yang menghancurkan sebagian tenda dan mencerai-beraikan ternak mereka. Namun yang membuatnya heran, ia mendengar mereka mengatakan:
“قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ”
“Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.”
Mereka tetap tenang dan ridho. Padahal musibah seperti itu, jika menimpa banyak orang yang jauh dari iman, bisa membuat mereka kehilangan kendali bahkan menghancurkan hidupnya sendiri. Inilah kekuatan iman.
Iman tidak selalu menghilangkan musibah, tetapi membuat seseorang mampu bertahan menghadapi musibah. Karena hati seorang mukmin terhubung dengan Allah, bukan sekadar dengan dunia.
Dan pembahasan ini akan semakin jelas pada artikel berikutnya: “Iman Adalah Tempat Berlindung dalam Semua Keadaan”
Bagaimana iman menjadi tempat kembali seorang mukmin dalam nikmat, musibah, ketaatan, bahkan ketika terjatuh dalam dosa? Dan mengapa iman adalah nikmat terbesar yang membuat hati tetap kokoh di tengah perubahan hidup?
Sumber: Wajhun ‘Ajibun wa ‘Azhimun fi Ibthalil Ilhad oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizhahullah via channel YouTube Fawa’idul Badr




