Serial Rapuhnya Atheisme Part 3 – Iman Adalah Tempat Berlindung Dalam Semua Keadaan

Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizhahullah

Iman bukan hanya bermanfaat saat seseorang berada di masjid atau ketika ibadah saja. Iman adalah tempat kembali seorang mukmin dalam seluruh keadaan hidupnya. Ketika mendapat nikmat, iman membimbingnya untuk bersyukur. Ketika tertimpa musibah, iman mengajarkannya untuk bersabar. Ketika lemah dan jatuh dalam dosa, iman membawanya kepada taubat dan kembali kepada Allah. Karena itu, orang yang memiliki iman tidak mudah kehilangan arah.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman bahwa di antara buah terbesar iman adalah:

أَنَّ الْإِيمَانَ يَحْمِلُ صَاحِبَهُ عَلَى الشُّكْرِ فِي حَالَةِ السَّرَّاءِ، وَالصَّبْرِ فِي حَالَةِ الضَّرَّاءِ، وَكَسْبِ الْخَيْرِ فِي كُلِّ أَوْقَاتِهِ

“Iman membuat seseorang mampu bersyukur saat mendapat nikmat, bersabar ketika ditimpa musibah, dan tetap meraih kebaikan dalam seluruh keadaan hidupnya.” ( At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman , hal 80, cet. Darul Minhaj, Riyadh).

Iman menenangkan hati ketika dunia membuat manusia gelisah, karena iman melahirkan tawakal kepada Allah, ridho terhadap takdir, ketenangan jiwa dan kekuatan menghadapi ujian hidup. Karena seorang mukmin mengetahui bahwa Allah mengatur seluruh urusannya dengan hikmah.

Berbeda dengan orang yang hidup tanpa iman. Sebesar apa pun ilmunya tentang dunia, ketika musibah besar datang ia sering kehilangan tempat bersandar. Sebagian melarikan diri kepada narkoba, mabuk, hiburan yang merusak, bahkan bunuh diri. Sebab hatinya kosong dari hubungan dengan Allah.

Sedangkan seorang mukmin diberi nikmat yang jauh lebih besar daripada sekadar materi, yaitu ketenangan iman, manisnya ibadah, keyakinan terhadap takdir dan kedekatan dengan Allah. Inilah yang membuat seorang mukmin tetap kuat meskipun hidup tidak selalu mudah. Karena itu, kebutuhan terbesar manusia sebenarnya bukan hanya harta atau jabatan. Tetapi hati yang terhubung dengan Allah.

Sumber: Wajhun ‘Ajibun wa ‘Azhimun fi Ibthalil Ilhad oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizhahullah via channel YouTube Fawa’idul Badr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button