Serial Rapuhnya Atheisme Part 1 – Mengapa Orang Beriman Lebih Kuat Menghadapi Ujian Hidup?

Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizhahullah

Hidup tidak pernah tetap. Kadang seseorang berada dalam nikmat, lalu berubah menjadi kesulitan. Hari ini sehat, besok sakit. Hari ini lapang, besok sempit. Karena dunia memang tempat ujian dan perubahan. Di sinilah letak keistimewaan seorang mukmin. Ia tidak hancur hanya karena keadaan berubah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

« عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ »

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika tertimpa musibah ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Inilah mental seorang mukmin. Saat mendapatkan nikmat, ia tidak sombong, akan tetapi ia mengatakan:
“Ini termasuk karunia Rabb-ku.” (QS. An-Naml: 40)

Ia bersyukur dan memuji Allah. Sebaliknya, ketika musibah datang, ia tidak langsung putus asa, akan tetapi ia berkata: “Allah telah menakdirkan dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” (HR. Muslim no. 2664)

Ia bersabar, berharap pahala dari Allah, dan yakin bahwa di balik ujian ada hikmah. Karena itu, seorang mukmin selalu berada dalam kebaikan:
•⁠ ⁠Ketika lapang ia mendapat pahala karena bersyukur.
•⁠ ⁠Ketika sempit ia mendapat pahala karena bersabar.

Iman menjadikan hati lebih tenang menghadapi perubahan hidup. Berbeda dengan orang yang tidak memiliki iman. Ketika musibah datang, banyak dari mereka kehilangan arah, kehilangan harapan, bahkan kehilangan alasan untuk bertahan hidup.

Dan inilah yang akan kita bahas pada artikel berikutnya: “Ketika Musibah Datang: Perbedaan Mental Mukmin dan Mulhid” .

Sumber: Wajhun ‘Ajibun wa ‘Azhimun fi Ibthalil Ilhad oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizhahullah via channel YouTube Fawa’idul Badr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button