Kesabaran adalah poros keimanan, namun tidak semua jenis sabar memiliki tingkat kesulitan yang sama.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
مَشَقَّةُ الصَّبْرِ بِحَسَبِ قُوَّةِ الدَّاعِي إِلَى الْفِعْلِ وَسُهُولَتِهِ عَلَى الْعَبْدِ، فَإِذَا اجْتَمَعَ فِي الْفِعْلِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ كَانَ الصَّبْرُ عَنْهُ أَشَقَّ شَيْءٍ عَلَى الصَّابِرِ.
“Beratnya kesabaran itu bergantung pada kuatnya dorongan untuk melakukan suatu perbuatan dan mudahnya perbuatan itu bagi seorang hamba.
Jika pada suatu perbuatan terkumpul dua hal tersebut (dorongan yang kuat dan kemudahan untuk melakukannya), maka bersabar untuk meninggalkannya menjadi perkara yang paling berat bagi orang yang bersabar.” (Lihat: ‘Uddatusshbirin, hlm. 122)
Di sinilah puasa hadir sebagai “madrasah” tahunan untuk melatih otot-otot kesabaran kita pada titik yang paling sulit tersebut.
1. Menundukkan Syahwat yang Bergejolak
Ibnul Qayyim menekankan bahwa sabar bagi pemuda terhadap kemaksiatan atau sabar bagi orang kaya terhadap syahwat adalah kesabaran yang sangat tinggi kedudukannya. Mengapa? Karena fasilitas dan kekuatannya ada.
Puasa melatih hal ini dengan cara “memutus jalur” kekuatan syahwat tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu, maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa itu adalah tameng (penunduk syahwat) baginya.” (HR. Bukhari, no. 1905 dan Muslim, no. 1400)
Secara biologis dan spiritual, puasa melemahkan dorongan fisik yang liar, sehingga seorang hamba belajar untuk tetap patuh meski memiliki kemampuan untuk melanggar.
2. Mengendalikan “Lidah” yang Tak Bertulang
Jenis kesabaran yang menurut Ibnul Qayyim paling sulit kedua adalah sabar terhadap maksiat lisan. Beliau menyebut lisan adalah “buah bibir” manusia; ghibah, namimah (adu domba), dusta, dan memuji diri sendiri adalah perkara yang sangat mudah dilakukan namun sangat sulit ditinggalkan karena sudah menjadi kebiasaan.
Beliau memotret fenomena yang memilukan seraya berkata:
“Seringkali anda dapati seseorang yang sanggup shalat malam dan puasa di siang hari, ia sangat wara’ (berhati-hati) bahkan untuk sekadar bersandar pada bantal sutra, namun ia dengan ringannya melepaskan lidahnya dalam ghibah, namimah, dan merusak kehormatan orang lain.” (Lihat: ‘Uddatusshabirin, hlm. 124)
Puasa hadir untuk mengerem keganasan lisan ini. Karena puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan menahan lisan dari “memakan daging” saudara sendiri. Jika seorang yang berpuasa dipancing emosinya, ia diperintahkan untuk berkata:
إِنِّي صَائِمٌ
“Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” HR. Bukhari, no. 1894)
Ia menahan lisan bukan karena tidak mampu membalas, tetapi karena takut pahala puasanya gugur dan menjadi sia-sia di hadapan Allah. Inilah pendidikan kesabaran lisan yg didapatkan dari ibadah puasa.
Rasulullah ﷺ memperingatkan:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh terhadap upayanya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari, no. 1903)
Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa di antara tujuh golongan yang dinaungi Allah adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah dan orang yang diajak berzina namun menolak karena takut kepada Allah. Kedua hal ini membutuhkan sabar syahwat yang luar biasa, dan puasa adalah sarana latihan (riyadhah) terbaik untuk mencapai level tersebut.
Penutup
Puasa adalah momentum untuk memperbaiki hierarki dalam diri kita: agar akal dan iman memimpin di atas syahwat dan emosi. Tanpa kesabaran lisan dan syahwat, puasa hanyalah perpindahan jam makan yang tidak meninggalkan bekas di timbangan amal. Wallahu a’lam.