Di tengah kenaikan harga BBM, melemahnya daya beli masyarakat, dan semakin beratnya biaya hidup, banyak orang larut dalam keluhan dan kecemasan. Sebagian menghabiskan waktunya untuk mengeluhkan keadaan, menyalahkan berbagai pihak, dan membicarakan kesulitan yang sedang terjadi.
Padahal seorang muslim tidak diperintahkan untuk menyerah kepada keadaan. Ia diperintahkan untuk beriman, bersabar, bertawakal, dan berusaha.
Di antara petunjuk agung yang diajarkan Islam adalah bahwa seorang mukmin harus menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada masing-masing terdapat kebaikan.” (HR. Muslim, no. 2664)
Hadits ini tidak hanya mencakup kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan mental, ilmu, keterampilan, ekonomi, dan kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Karena itu, ketika kondisi ekonomi sedang sulit, seorang mukmin tidak hanya bertanya:
“Mengapa ini terjadi?”
Tetapi juga bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan?”
Sebab mengeluh tidak akan menambah penghasilan. Menyalahkan keadaan tidak akan memperbaiki kondisi. Namun produktivitas, kerja keras, kreativitas, dan doa dapat menjadi sebab dibukakannya pintu-pintu rezeki.
Allah tidak menyukai seorang hamba yang menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti berusaha.
Sebaliknya, sering kali kesulitan justru menjadi pendorong lahirnya berbagai peluang dan kemampuan yang sebelumnya tidak pernah muncul.
Berapa banyak usaha yang lahir dari kondisi krisis.
Berapa banyak keterampilan yang dipelajari karena keadaan memaksa.
Berapa banyak orang yang menjadi lebih kuat karena pernah mengalami masa-masa sulit.
Krisis sering kali bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari perubahan.
Bagaimana menjadi produktif di tengah krisis ekonomi?
Pertama, gunakan waktu dengan lebih baik.
Ketika keadaan sedang sulit, waktu menjadi aset yang sangat berharga. Jangan habiskan berjam-jam hanya untuk mengikuti berita yang membuat cemas atau perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa.
Gunakan waktu untuk belajar keterampilan baru, memperbaiki kemampuan yang dimiliki, membaca, bekerja, atau mencari peluang tambahan yang halal.
Kedua, tingkatkan nilai diri.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, orang yang memiliki kemampuan lebih akan memiliki peluang yang lebih besar.
Belajarlah hal-hal yang dibutuhkan masyarakat. Kuasai keterampilan yang dapat menghasilkan manfaat dan bernilai ekonomi.
Jangan pernah meremehkan kemampuan kecil yang dimiliki. Banyak usaha besar berawal dari keterampilan yang sederhana.
Ketiga, tinggalkan gaya hidup konsumtif.
Tidak sedikit orang yang sebenarnya mengalami kesulitan bukan karena kurang penghasilan, tetapi karena pengeluarannya tidak terkendali.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Janganlah engkau menghambur-hamburkan harta secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)
Krisis ekonomi adalah saat yang tepat untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Keempat, jangan malu mencari rezeki yang halal.
Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu pernah berkata:
لاَ يَقْعُدُ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ وَيَقُول اللَّهُمَّ اُرْزُقْنِي، وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ السَّمَاءَ لاَ تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً.
“Janganlah salah seorang di antara kalian duduk berpangku tangan dari mencari rezeki, lalu berkata: ‘Ya Allah, berilah aku rezeki,’ padahal kalian telah mengetahui bahwa langit tidak menurunkan hujan emas dan perak.” (Ihya ‘Ulumuddin 2/62)
Para sahabat adalah generasi yang paling bertawakal kepada Allah. Namun mereka juga termasuk manusia yang paling giat bekerja dan mencari nafkah.
Mereka memahami bahwa tawakal bukanlah meninggalkan sebab, tetapi menggunakan sebab sambil menggantungkan hati kepada Allah.
Kelima, perbanyak doa dan istighfar.
Produktivitas tanpa pertolongan Allah tidak akan membawa keberkahan. Sebaliknya, usaha yang disertai doa, tawakal, dan istighfar akan mendatangkan pertolongan yang tidak disangka-sangka.
Allah berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
“Maka aku berkata: Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian.” (QS. Nuh: 10–12)
Krisis ekonomi memang tidak mudah. Namun seorang mukmin tidak menghadapi krisis dengan putus asa. Ia menghadapinya dengan iman, kesabaran, dan produktivitas.
Ia tidak menjadikan keadaan sebagai alasan untuk berhenti bergerak. Ia menjadikan keadaan sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik.
Mungkin kita tidak bisa mengendalikan harga BBM.
Mungkin kita tidak bisa mengendalikan kondisi ekonomi dunia.
Namun kita masih bisa mengendalikan bagaimana kita menggunakan waktu, mengelola harta, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Dan sering kali, perubahan besar dalam kehidupan dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Semoga Allah memberikan kepada kita semangat untuk terus berikhtiar, keberkahan dalam rezeki, kemudahan dalam urusan, serta menjadikan kita termasuk amba-hamba-Nya yang produktif, bermanfaat, dan kuat dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Aamiin.
Tim Shahihfiqih, 24 Dzulhijjah 1447 / 10 Juni 2026



