Belakangan masyarakat dikejutkan dengan sebuah kasus penculikan anak yang diduga berawal dari percakapan sederhana antara orang tua korban dan seorang pengemudi ojek online. Dalam perjalanan, orang tua korban tanpa sengaja menceritakan bahwa mereka sedang mengurus uang dalam jumlah besar. Informasi yang bagi sebagian orang mungkin hanya obrolan ringan, ternyata menjadi bahan pertimbangan bagi pelaku untuk menjalankan kejahatannya.
Kasus ini mengandung pelajaran penting yang sering terlupakan: TIDAK SEMUA INFORMASI layak disampaikan kepada SEMUA ORANG. Islam sejak dahulu telah mengajarkan prinsip menjaga rahasia, menjaga keamanan diri, dan tidak membuka informasi yang dapat mendatangkan mudarat.
Tidak Semua Hal Perlu Diceritakan
Sebagian orang beranggapan bahwa keterbukaan adalah sesuatu yang selalu baik. Padahal syariat mengajarkan adanya perbedaan antara kejujuran dan membuka seluruh urusan pribadi kepada orang lain. Allah Ta’ala mengabadikan nasihat Nabi Ya’qub kepada putranya, Nabi Yusuf ‘alaihimassalam:
﴿ قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ﴾
“Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, karena mereka akan membuat tipu daya terhadapmu.” (QS. Yusuf: 5).
Perhatikan bahwa yang dilarang oleh Nabi Ya’qub ‘alaihissalam bukanlah kebohongan, tetapi menyampaikan informasi yang dapat memancing bahaya. Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi Ya’qub ‘alaihisalam khawatir saudara-saudara Yusuf akan merasa iri sehingga melakukan makar terhadapnya. Oleh sebab itu beliau memerintahkan Yusuf untuk tidak menceritakan mimpinya kepada mereka. (lihat: Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/371, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan dianjurkannya seseorang menyembunyikan nikmat atau keistimewaan tertentu apabila dikhawatirkan akan menimbulkan hasad atau gangguan dari orang lain. Karena itu, tidak setiap informasi tentang:
- Kondisi keuangan;
- Aset yang dimiliki;
- Rencana perjalanan;
- Alamat rumah;
- Sekolah anak;
- Aktivitas keluarga.
Boleh diketahui oleh orang lain. (lihat: Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 443, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam).
Menjaga Rahasia Adalah Amanah
Rasulullah ﷺ bersabda:
« إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ »
“Apabila seseorang menyampaikan suatu pembicaraan kemudian ia menoleh, maka pembicaraan itu adalah amanah.” (HR. Abu Dawud no. 4868 dan Tirmidzi no. 1959).
Imam Al-Khaththabi rahimahullah berkata:
لِأَنَّ الْتِفَاتَهُ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَخَافُ أَنْ يَسْمَعَهُ غَيْرُهُ
“Karena menolehnya merupakan isyarat bahwa ia khawatir pembicaraan tersebut didengar oleh orang lain.” (Ma‘alimus Sunan, syarah hadits “إذا حدث الرجل بالحديث ثم التفت فهي أمانة”).
Hadits ini menunjukkan bahwa pada asalnya seorang muslim harus menjaga informasi yang dipercayakan kepadanya. Sayangnya, budaya media sosial dan kebiasaan bercerita kepada orang yang baru dikenal membuat sebagian orang kehilangan kehati-hatian dalam menjaga informasi pribadi. Padahal tidak semua orang yang mendengar cerita kita memiliki niat baik.
Kejahatan Sering Berawal dari Informasi Kecil
Ketika masyarakat membayangkan pelaku kejahatan, sering yang terlintas adalah peralatan canggih, jaringan kriminal, atau perencanaan yang rumit. Padahal banyak kejahatan justru berawal dari informasi sederhana:
- Mengetahui siapa anggota keluarga kita;
- Mengetahui kondisi ekonomi kita;
- Mengetahui jadwal harian kita;
- Mengetahui kapan rumah kosong;
- Mengetahui siapa yang menjemput anak.
Pelaku kejahatan sering kali hanya memanfaatkan informasi yang diberikan secara sukarela oleh korbannya. Karena itu Islam mengajarkan prinsip menutup pintu-pintu yang mengantarkan kepada keburukan. Seorang muslim tidak hanya diperintahkan menjauhi bahaya, tetapi juga menjauhi sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada bahaya.
Tawakal Tidak Berarti Lalai
Ada sebagian orang yang berkata: “Kalau Allah menjaga saya, tidak akan terjadi apa-apa.” Kalimat ini benar dari satu sisi, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan ikhtiar. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah aku ikat untaku lalu bertawakal, atau aku lepaskan lalu bertawakal?”, Beliau ﷺ menjawab:
« اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ »
“Ikatlah ia, lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi no. 2517).
Hadits ini menjadi kaidah besar dalam Islam terkait bagaimana konsep tawakkal yang tepat. Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ تَعَالَى صِدْقُ الِاعْتِمَادِ عَلَى اللهِ فِي جَلْبِ الْمَنَافِعِ وَدَفْعِ الْمَضَارِّ، مَعَ فِعْلِ الْأَسْبَابِ الَّتِي أَذِنَ اللهُ فِيهَا
“Tawakal kepada Allah adalah benar-benar bersandar kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat, disertai melakukan sebab-sebab yang Allah izinkan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin, 25/165).
Adapun meninggalkan sebab lalu mengaku bertawakal, maka itu bukan tawakal, melainkan kelemahan dan kekeliruan dalam memahami agama. Menjaga data pribadi, mengawasi anak, tidak mengumbar informasi keluarga, dan berhati-hati kepada orang yang belum dikenal adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan syariat.
Pelajaran Penting untuk Orang Tua
Kasus semacam ini juga menjadi pengingat bagi para orang tua. Sering kali tanpa sadar kita membicarakan:
- Nama sekolah anak;
- Jadwal kegiatan anak;
- Siapa yang menjemput anak;
- Kondisi ekonomi keluarga;
- Lokasi rumah.
Padahal informasi tersebut dapat digunakan oleh orang yang berniat buruk. Menjaga anak bukan hanya dengan memberi makan, pakaian, dan pendidikan. Menjaga anak juga berarti menjaga informasi yang berkaitan dengan keselamatan mereka.
Penutup
Kasus penculikan yang berawal dari obrolan santai ini mengingatkan kita, bahwa tidak semua hal harus diceritakan kepada orang lain. Islam mengajarkan keseimbangan yang indah:
- Jujur tanpa menjadi ceroboh;
- Ramah tanpa membuka seluruh rahasia;
- Bertawakal tanpa meninggalkan ikhtiar.
Sebagaimana Nabi Ya’qub ‘alaihisalam mengingatkan Nabi Yusuf ‘alaihisalam agar tidak menceritakan semua yang diketahuinya, demikian pula seorang muslim hendaknya bijak dalam menjaga informasi pribadi, keluarga, dan hartanya. Terkadang musibah tidak masuk melalui pintu yang terbuka lebar. Ia masuk melalui kalimat yang dianggap sepele, lalu didengar oleh telinga yang salah.
Tim Shahihfiqih, 22 Dzulhijjah 1447H / 8 Juni 2026





