Jjika seorang kafir tidak sedang melakukan kejahatan, tidak mengajak kepada kesesatan, dan hanya menjalani aktivitas sehari-hari, apakah ia tetap berdosa karena kekafirannya?
Untuk menjawabnya, para ulama telah membahas sebuah kaidah penting dalam ilmu usul fikih, yaitu:
هَلِ الْكُفَّارُ مُخَاطَبُونَ بِفُرُوعِ الشَّرِيعَةِ؟
“Apakah orang-orang kafir juga dibebani dengan cabang-cabang syariat?”
Pendapat mayoritas ulama menyatakan bahwa iya. Orang-orang kafir tidak hanya diperintahkan untuk beriman, tetapi juga dibebani dengan kewajiban-kewajiban syariat. Hanya saja, seluruh amal mereka tidak akan diterima hingga mereka memeluk Islam. (Lihat: Roudhot an-Nazhir, 1/162)
Konsekuensinya, mereka tidak hanya diazab karena kekufurannya, tetapi juga karena meninggalkan kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah Ta’ala ketika menceritakan dialog penghuni Surga dengan penghuni Neraka:
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ
“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam (Neraka) Saqar?’ Mereka menjawab, ’Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat. Kami juga tidak memberi makan orang miskin. Kami biasa berbicara batil bersama orang-orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami al-yaqin (kematian).” (QS. Al-Muddatstsir: 42–47)
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya diazab karena mendustakan hari pembalasan, tetapi juga karena meninggalkan shalat dan kewajiban-kewajiban syariat lainnya.
Lantas, apakah berarti orang kafir mendapatkan dosa atas kekafirannya setiap hari?
Jawaban yang lebih hati-hati adalah: selama ia tetap berada di atas kekafiran, ia terus berada dalam keadaan bermaksiat kepada Allah. Setiap kali datang kewajiban yang Allah bebankan kepadanya lalu ia tetap tidak beriman dan tidak menunaikannya, maka dosa-dosanya terus bertambah.
Bahkan, dalam ayat yang lain Allah mengabarkan bahwa Dia mengirim setan-setan kepada orang-orang kafir untuk terus menghasung dan mendorong mereka kepada kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا فَلَا تَعْجَلْ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا
“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Kami telah mengirim setan-setan kepada orang-orang kafir untuk terus menghasung dan mendorong mereka dengan sungguh-sungguh (kepada kemaksiatan). Maka janganlah engkau tergesa-gesa (meminta azab) terhadap mereka. Sesungguhnya Kami hanya sedang menghitung (hari-hari dan umur) mereka dengan hitungan yang teliti.” (QS. Maryam: 83–84)
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata ketika menafsirkan ayat tersebut:
أَنْفَاسُهُمْ الَّتِي يَتَنَفَّسُونَهَا فِي الدُّنْيَا، فَهِيَ مَعْدُودَةٌ وَآجَالُهُمْ.
“Napas-napas yang mereka hirup di dunia telah dihitung, demikian pula ajal mereka.” (Lihat: Jami’ al-Bayan, 6/554)
Artinya, setiap napas mereka mengurangi umur yang Allah tetapkan. Betapa besar kerugian seseorang yang menghabiskan seluruh umurnya dalam keadaan berpaling dari Rabbnya.
Lebih Berat Lagi Jika Mengajak Kepada Kesesatan
Apabila kekafiran itu disertai dengan mengajak manusia kepada kesesatan, maka dosanya menjadi lebih besar lagi.
Allah Ta’ala berfirman:
قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِنْ لَا تَعْلَمُونَ
“Allah berfirman, ‘Masuklah kalian ke dalam Neraka bersama umat-umat dari kalangan jin dan manusia yang telah lebih dahulu sebelum kalian.’ Setiap kali suatu umat masuk, mereka melaknat umat yang lain. Hingga ketika mereka semua telah berkumpul di dalamnya, orang-orang yang datang belakangan berkata, ‘Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, maka timpakanlah kepada mereka azab yang berlipat ganda.’ Allah berfirman, ‘Masing-masing mendapat azab yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.’” (QS. Al-A’raf: 38)
Allah juga berfirman:
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
“Agar mereka memikul dosa-dosa mereka secara sempurna pada hari Kiamat, dan juga memikul sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu. Ingatlah, alangkah buruknya beban dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl: 25)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا.
“Barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dosa mereka.” (HR. Muslim no. 2674).
Di dalam Al-Qur’an, Allah juga mengabarkan bahwa manusia tidak memiliki posisi yang netral. Ia hanya berada di antara dua keadaan: maju dengan keimanan dan ketaatan, atau mundur dengan kekufuran dan kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
”(Al-Qur’an ini adalah peringatan) bagi siapa di antara kalian yang ingin maju atau ingin mundur.” (QS. Al-Muddatstsir: 37)
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Dalam perjalanan menuju akhirat, tidak ada posisi netral. Seseorang sedang melangkah maju dengan iman dan ketaatan, atau sedang mundur dengan kekufuran dan kemaksiatan.
Keadaan Orang Beriman Berbeda
Jika demikian keadaan orang yang berpaling dari Allah, maka sebaliknya keadaan orang yang beriman justru sangat berbeda. Selama seorang mukmin menjaga keimanannya dan terus berusaha menaati Allah, ia berada dalam jalan yang dipenuhi tambahan pahala.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus-putus.” (QS. At-Tin: 6)
Imam As-Sa’di rahimahullah berkata:
غَيْرُ مَقْطُوعٍ وَلَا نَافِدٍ، بَلْ هُوَ مُسْتَمِرٌّ مَدَى الْأَوْقَاتِ، مُتَزَايِدٌ عَلَى السَّاعَاتِ، مُشْتَمِلٌ عَلَى جَمِيعِ اللَّذَّاتِ وَالْمُشْتَهَيَاتِ.
“Pahala itu tidak terputus dan tidak habis. Bahkan terus berlangsung sepanjang waktu, senantiasa bertambah dari waktu ke waktu, serta mencakup seluruh kenikmatan dan segala yang diinginkan.” (Lihat: Taisirul Karim al-Mannan, hlm. 744)
Namun, tambahan pahala tersebut tidaklah sama pada setiap orang. Ia bergantung pada kadar keimanan, keikhlasan, dan amal saleh masing-masing hamba.
Bahkan, tambahan pahala seorang mukmin tidak selalu bergantung pada banyaknya amal lahiriah yang tampak. Ada amalan hati yang pahalanya terus mengalir selama hati itu tetap hidup bersama Allah. Hal inilah yang dijelaskan dengan sangat indah oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. (Lihat: Madarij As-Salikin, 2/561-562)
“Ya Allah, jagalah kami dengan Islam ketika kami berdiri, jagalah kami dengan Islam ketika kami duduk, dan jagalah kami dengan Islam ketika kami berbaring. Janganlah Engkau jadikan musuh maupun orang yang dengki bergembira karena musibah yang menimpa kami. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu segala kebaikan yang perbendaharaannya berada di tangan-Mu, dan kami berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang perbendaharaannya berada di tangan-Mu.”
Wallahu a’lam.
Tim Shahihfiqih, 17 Juli 2026 / 1 Shafar 1448





