Gempa bumi besar yang terjadi di Filipina hingga memicu peringatan tsunami di sebagian wilayah Indonesia bukan sekadar berita geologi yang lewat di layar ponsel lalu hilang tertimpa konten lain. Dalam pandangan Islam, peristiwa seperti ini termasuk ayat kauniyyah, tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang mengajak manusia untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan merenung. Namun, Islam tidak pernah mengajarkan reaksi yang berlebihan. Kita diperintahkan untuk mengambil pelajaran, bukan tenggelam dalam spekulasi yang tidak berdasar.
Kerapuhan Manusia di Hadapan Kekuasaan Allah
Ketika bumi yang kita pijak tampak stabil setiap hari, manusia sering merasa hidup berada dalam kendali penuh. Namun Allah ﷻ mengingatkan:
﴿ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ ﴾
“Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya.” (QS. Az-Zumar: 67).
Gempa datang sebagai pengingat keras bahwa:
- Bangunan paling kokoh bisa runtuh dalam hitungan detik;
- Teknologi secanggih apa pun tidak mampu menahan gerak bumi;
- Rasa aman yang kita anggap “normal” sebenarnya adalah nikmat yang sangat rapuh.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan lemahnya pengagungan manusia terhadap Allah, padahal seluruh kekuatan dan pengaturan alam berada di tangan-Nya. (lihat: Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/308, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).
Gempa dan Bayangan Hari Kiamat
Allah ﷻ berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ ﴾
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan Hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar.” (QS. Al-Hajj: 1).
Gempa yang terjadi di dunia ini hanyalah peringatan kecil, seperti bayangan dari peristiwa yang jauh lebih dahsyat, yaitu GUNCANGAN HARI KIAMAT. Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini bertujuan agar manusia membandingkan guncangan dunia dengan kedahsyatan akhirat, sehingga hati mereka tersadar dan kembali kepada Allah. (lihat: Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an, 12/3, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).
Tawakal yang Benar: Ikhtiar dan Ketergantungan kepada Allah
Dalam situasi seperti peringatan tsunami, Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Rasulullah ﷺ bersabda:
« اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ »
“Ikatlah (unta itu) lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi no. 2517).
Artinya, iman bukan alasan untuk diam, dan tawakal bukan alasan untuk menolak tindakan penyelamatan. Mengungsi, menjauhi pantai, mengikuti peringatan BMKG, semuanya adalah bagian dari ikhtiar yang justru diperintahkan. Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ تَعَالَى صِدْقُ الِاعْتِمَادِ عَلَى اللهِ فِي جَلْبِ الْمَنَافِعِ وَدَفْعِ الْمَضَارِّ، مَعَ فِعْلِ الْأَسْبَابِ الَّتِي أَذِنَ اللهُ فِيهَا
“Tawakal kepada Allah adalah benar-benar bersandar kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat, disertai melakukan sebab-sebab yang Allah izinkan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin, 25/165).
Kematian Tidak Menunggu Waktu Siap
Allah ﷻ berfirman:
﴿ أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ ﴾
“Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian.” (QS. An-Nisa’: 78).
Gempa mengingatkan bahwa hidup manusia tidak pernah memiliki kepastian panjang atau pendek. Semua rencana bisa terputus dalam sekejap. Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan dalam Jāmi‘ul ‘Ulum wal Hikam:
وَفِي هَذَا تَحْذِيرٌ مِنْ طُولِ الْأَمَلِ، فَإِنَّ الْمَوْتَ يَأْتِي بَغْتَةً
“Dan dalam hal ini terdapat peringatan agar tidak memiliki angan-angan panjang, karena sesungguhnya kematian itu datang secara tiba-tiba.” (Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam, syarah hadits ke-40).
Kembali Berdoa Saat Tak Berdaya
Allah ﷻ menggambarkan keadaan manusia ketika berada dalam situasi genting:
﴿ وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ﴾
“Apabila bahaya menimpamu di lautan, hilanglah apa yang kalian seru selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 67).
Saat bumi berguncang dan peringatan tsunami berbunyi, banyak manusia secara spontan kembali kepada Allah. Inilah fitrah yang tidak pernah benar-benar hilang.
Adab dalam Menyikapi Bencana
Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat musibah adalah tergesa-gesa menyimpulkan bahwa suatu bencana adalah adzab untuk kelompok tertentu.
Padahal Allah ﷻ berfirman:
﴿ وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا ﴾
“Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. Al-Isra’: 59).
Dalam aqidah Ahlus Sunnah, musibah bisa memiliki banyak makna: bisa adzab, bisa ujian, bisa penghapus dosa, atau bisa peninggian derajat. Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa musibah yang menimpa seorang mukmin adalah penghapus dosa, bukan semata tanda kebinasaan. (lihat: Syarh Shahih Muslim, kitab al-Birr wa Shilah / bab penjelasan musibah).
Syukur atas Nikmat Aman yang Sering Dilupakan
Allah ﷻ mengingatkan:
﴿ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ﴾
“Yang memberi mereka makan dari kelaparan dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4).
Rasa aman adalah nikmat besar yang sering tidak disadari sampai ia terganggu.
Penutup
Gempa dan peringatan tsunami bukan sekadar berita yang berlalu di antara konten viral lainnya. Ia adalah pengingat yang lembut sekaligus keras tentang siapa diri kita sebenarnya di hadapan Allah. Islam mengajarkan keseimbangan yang indah: takut kepada Allah, mengambil sebab, dan bertawakal dengan benar. Sebab bumi ini tidak bergerak tanpa izin-Nya. Dan ketika Dia menghendaki sesuatu terjadi, tidak ada sistem manusia yang mampu menghentikannya, yang ada hanya kesempatan bagi manusia untuk kembali dan merenung sebelum semuanya terlambat.
Tim Shahihfiqih, 22 Dzulhijjah 1447H / 8 Juni 2026





