Pertanyaan :
Assalamu’alaikum, afwan mohon nasehat nya,sering ana melihat bapak ana shalat nya tdk di masjid jika beliau pergi keluar misal untuk membeli barang,atau makan,biasanya pada waktu isya, dan shalat nya ketika pulang bersama ibu ana, itu bagaimana ya, syukron
Jawaban :
Sholat berjamaah merupakan salah satu syiar Islam yang memiliki keutamaan sangat besar. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa pahala sholat berjamaah jauh lebih besar dibandingkan sholat sendirian.
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Sholat berjamaah lebih utama daripada sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650)
Dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu disebutkan:
صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا… وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ، لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ
“Sholat seseorang secara berjamaah dilipatgandakan atas sholatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat… Hal itu karena apabila ia berwudhu dengan sempurna, kemudian keluar menuju masjid semata-mata untuk sholat, maka setiap satu langkahnya mengangkat satu derajat dan menghapus satu dosa.” (HR. Bukhari, no. 647 dan Muslim, no. 649)
Keutamaan sholat berjamaah bukan hanya berupa pahala yang berlipat ganda. Seorang yang rutin datang ke masjid biasanya memiliki peluang lebih besar untuk menjaga kekhusyukan. Sebelum sholat ia mengerjakan tahiyyatul masjid atau sholat qabliyah, lisannya dipenuhi dzikir, ia bertemu dengan kaum muslimin yang saleh, saling memberi salam, saling mengenal, dan saling mendoakan. Semua itu menjadi sebab bertambahnya keimanan dan kokohnya persaudaraan.
Bahkan Allah menjadikan masjid sebagai tempat orang-orang yang memakmurkan iman.
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah. Maka mereka itulah yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah: 18)
Tidak sedikit ulama juga menjelaskan bahwa ketaatan kepada Allah merupakan sebab datangnya berbagai keberkahan dunia. Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Karena itu, seorang yang ikhlas menjaga sholat berjamaah umumnya akan tampak pengaruh ibadahnya pada akhlak. Tutur katanya lebih lembut, pertimbangannya lebih bijak, lisannya lebih terjaga, dan hatinya lebih mudah menerima nasihat. Inilah buah dari ibadah yang benar.
Bagaimana Menyikapi Orang Tua yang Belum Rutin ke Masjid?
Jika orang tua belum terbiasa sholat berjamaah, maka hadapilah dengan hikmah. Selama mereka tidak menolak syariat atau meremehkan sholat berjamaah, jangan jadikan hal itu sebagai alasan untuk bersikap keras kepada mereka.
Yang pertama kali harus mereka lihat adalah perubahan pada diri kita. Jadilah anak yang lebih santun sejak rajin ke masjid. Lebih ringan membantu orang tua, lebih lembut berbicara, lebih sabar, dan lebih menghormati mereka. Ketika mereka melihat bahwa sholat berjamaah benar-benar melahirkan akhlak yang indah, mereka akan lebih mudah tertarik untuk mengikutinya.
Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Ajaklah mereka dengan kalimat yang sederhana dan penuh penghormatan.
“Pak, yuk kita ke masjid.”
“Ayah, adzan sudah berkumandang. Semoga kita bisa sholat berjamaah bersama.”
Ucapan yang lembut sering kali lebih menyentuh daripada nasihat yang panjang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)
Jangan lupa pula memperbanyak doa untuk kedua orang tua. Mintalah kepada Allah agar mengampuni dosa mereka, memberi hidayah, menjaga kesehatan dan keselamatan mereka, serta meneguhkan hati mereka untuk istiqamah dalam ibadah.
Yang perlu lebih banyak ditonjolkan adalah keindahan dan manfaat sholat berjamaah, bukan ancaman-ancamannya. Sebab hati manusia umumnya lebih mudah tersentuh ketika melihat buah dari sebuah amalan.
Di samping itu, teruslah bersabar. Allah berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan sholat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, justru Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)
Perhatikan bahwa Allah tidak hanya berfirman وَاصْبِرْ (bersabarlah), tetapi menggunakan bentuk yang lebih kuat, yaitu وَاصْطَبِرْ. Para ulama bahasa menjelaskan bahwa bentuk ini menunjukkan kesungguhan, usaha yang terus-menerus, dan kesabaran yang lebih besar. Seakan-akan Allah mengabarkan bahwa mengajak keluarga kepada sholat memang membutuhkan kesabaran yang ekstra, pengulangan, ketelatenan, dan keteguhan hati. (Lihat: Al-Bahr Al-Muhith, 7/401)
Lalu Allah menenangkan hati para hamba-Nya dengan firman-Nya:
لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ
“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, justru Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”
Seakan Allah mengingatkan, jangan sampai urusan dunia, pekerjaan, atau kekhawatiran tentang rezeki membuat kita mengabaikan sholat berjamaah atau enggan mengajak keluarga kepadanya. Rezeki bukan berada di tangan kita. Allah-lah yang menjaminnya. Sedangkan tugas kita adalah menaati-Nya dan mengajak keluarga menuju ketaatan.
Maka jangan pernah putus asa. Teruslah menjadi teladan, terus mengajak dengan kelembutan, terus mendoakan, dan terus bersabar. Sebab hidayah berada di tangan Allah, sedangkan kewajiban kita hanyalah menyampaikan dengan cara yang paling baik.
Wallahu a’lam.
Tim Shahihfiqih, 17 Juli 2026 / 1 Shafar 1448





