Menjelang Idul Adha, terkadang ada sebagian masyarakat yang mengoleskan darah hewan kurban ke dahi, badan, kendaraan, atau rumah dengan keyakinan agar mendapat berkah, keselamatan, atau menolak bala.
Amalan seperti ini tidak memiliki dasar dari syariat Islam. Tidak ada riwayat shahih bahwa Nabi ﷺ, para sahabat, ataupun para ulama salaf mengoleskan darah kurban ke tubuh untuk mencari berkah.
Bahkan, Islam datang justru untuk menghapus tradisi jahiliyah semacam itu.
Allah Ta’ala berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menunjukkan bahwa yang Allah nilai dari ibadah kurban bukanlah darah yang diusap-usapkan atau ritual tertentu, tetapi ketakwaan dan keikhlasan hati.
Di masa jahiliyah, orang-orang musyrik dahulu biasa melumurkan darah hewan sembelihan ke Ka’bah sebagai bentuk pengagungan. Lalu Allah membatalkan keyakinan tersebut dan menjelaskan bahwa darah itu tidaklah mendatangkan kedekatan kepada Allah.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini:
وَقَدْ كَانُوا فِي جَاهِلِيَّتِهِمْ إِذَا ذَبَحُوهَا لِآلِهَتِهِمْ وَضَعُوا عَلَيْهَا مِنْ لُحُومِ قَرَابِينِهِمْ، وَنَضَحُوا عَلَيْهَا مِنْ دِمَائِهَا، فَقَالَ تَعَالَى: ﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا﴾.
“Dahulu pada masa jahiliyah, apabila mereka menyembelih hewan untuk sesembahan-sesembahan mereka, mereka meletakkan sebagian daging kurban itu pada berhala-berhala mereka dan memercikkan darahnya di atasnya. Maka Allah Ta‘ala berfirman: ‘Daging-dagingnya dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah.’” (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 5/421)
Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang diterima oleh-Nya adalah ketakwaan, bukan darah sembelihan tersebut.
Karena itu, mengoleskan darah kurban ke badan atau dahi dengan keyakinan mencari berkah termasuk amalan yang tidak diajarkan dalam agama. Jika diyakini memiliki kekuatan khusus untuk keselamatan atau penolak bala, maka keyakinan seperti ini sangat berbahaya dan bisa menyeret kepada kesyirikan kecil, bahkan besar jika meyakini darah itu memberi manfaat secara gaib.
Keberkahan dalam Islam diperoleh dengan:
• Keimanan dan ketakwaan.
• Doa dan dzikir.
• Amal saleh yang sesuai sunnah.
• Menjalankan ibadah dengan ikhlas.
Bukan dengan ritual-ritual yang tidak memiliki tuntunan dari Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.”
(HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Maka, hendaknya seorang muslim mencukupkan diri dengan tata cara kurban yang diajarkan syariat, tanpa menambah ritual-ritual tertentu yang tidak ada tuntunannya.
Wallahu a’lam.





