Hari Raya Qurban bukan sekadar tentang menyembelih hewan. Di balik ibadah agung ini terdapat pelajaran besar tentang bagaimana seorang hamba harus mampu menyembelih hawa nafsunya, ego, kesombongan, gengsi, kerakusan, dan syahwat dunia. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam rela mengorbankan sesuatu yang paling beliau cintai demi ketaatan kepada Allah. Inilah hakikat qurban yaitu mendahulukan ridho Allah di atas keinginan diri sendiri.
Namun ironisnya, di zaman sekarang banyak manusia justru mengorbankan agama, ketenangan hidup, bahkan keluarganya demi mempertahankan citra sosial dan gengsi di hadapan manusia. Ada yang memaksakan gaya hidup mewah, rela berutang demi terlihat “sukses”, terjerat pinjaman online, bahkan masuk judi online demi mengejar kekayaan instan. Semua itu sering berawal dari satu penyakit hati yaitu ingin dipandang tinggi oleh manusia.
Ketika Gengsi Mengalahkan Akal Sehat
Media sosial membuat manusia semakin mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain. Akibatnya, banyak orang merasa harus selalu terlihat kaya, mapan, berhasil, dan “naik kelas”. Padahal kemampuan finansial sebenarnya tidak mendukung.
Akhirnya lahirlah budaya cicilan demi gaya hidup, paylater demi nongkrong, pinjol demi gengsi, judi online demi mengejar uang cepat. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله pernah menjelaskan dampak buruk budaya bermewah-mewahan dan berlebihan dalam acara-acara kehidupan. Beliau menerangkan:
إِمَّا أَنْ يُمَاثِلَهُ وَيُشَابِهَهُ فَيَتَكَلَّفَ الدُّيُونَ
“Akhirnya orang lain ikut menirunya dan menyerupainya, lalu membebani dirinya dengan utang.”
Lihat betapa relevannya ucapan ini dengan kondisi hari ini. Awalnya hanya ingin “tidak kalah”, namun akhirnya terjerat utang dan kehilangan ketenangan hidup.
UTANG, Awalnya GELISAH, Akhirnya PERMUSUHAN
Islam tidak melarang utang secara mutlak. Namun islam sangat memperingatkan bahaya menjadikan utang sebagai gaya hidup, terlebih demi kemewahan dan gengsi.
Nabi ﷺ sendiri sering berlindung kepada Allah dari lilitan utang, beliau berdoa:
« اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ »
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.”
Ketika ditanya mengapa beliau sering berlindung dari utang, Nabi ﷺ menjelaskan:
« إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ، وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ »
“Karena seseorang jika terlilit utang, ia akan berbicara lalu berdusta, dan berjanji lalu mengingkari.” (HR. Muslim no. 589).
Bahkan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu telah mengingatkan dampak buruk utang sejak dahulu. Beliau berkata:
أَوَّلُ الدَّيْنِ هَمٌّ، وَآخِرُهُ حَرْبٌ
“Awal utang adalah kegelisahan, dan akhirnya adalah permusuhan.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“إِيَّاكُمْ وَالدَّيْنَ، فَإِنَّ أَوَّلَهُ هَمٌّ وَآخِرَهُ حَرْبٌ”
“Jauhilah oleh kalian utang, karena awalnya adalah kegelisahan dan akhirnya adalah permusuhan.”(Al-Bayan wa at-Tabyin, 2/81)
Betapa banyak hari ini keluarga pecah karena pinjol, sahabat bermusuhan karena utang, rumah tangga hancur karena judi online, bahkan sebagian nekat mencuri dan menipu demi menutup cicilan. Awalnya hanya ingin terlihat “mampu”, akhirnya hidup dipenuhi kegelisahan.
Pamer dan Bermegah-megahan: Penyakit Hati yang Mematikan
Budaya flexing dan pamer hari ini telah menjadi wabah sosial. Orang tidak lagi hidup demi kebutuhan, tetapi demi penilaian manusia. Padahal para ulama telah menjelaskan bahwa sifat membanggakan diri dan saling bermegah-megahan termasuk akhlak tercela. Masalahnya, budaya pamer hari ini tidak hanya menyerang orang kaya. Banyak orang yang sebenarnya kesulitan ekonomi pun dipaksa terlihat kaya.
Akhirnya rela berutang demi konten, rela judi demi status sosial, rela menipu demi dianggap berhasil. Ini bukan sekadar masalah ekonomi, akan tetapi ini adalah penyakit hati.
Hakikat Qurban: Menyembelih Nafsu, Bukan Memeliharanya
Qurban mengajarkan bahwa seorang mukmin harus mampu berkata, “Tidak semua yang saya inginkan harus saya miliki.”, inilah lawan dari budaya konsumtif modern. Karena Qurban mendidik manusia untuk taat walau berat, sederhana walau mampu, ikhlas walau tidak dipuji manusia.
Sementara budaya gengsi justru mengajarkan tampil walau berutang, mewah walau sengsara, dipuji manusia walau dimurkai Allah. Padahal kemuliaan bukan terletak pada kendaraan, pakaian, gadget, pesta, atau citra media sosial. Kemuliaan sejati ada pada ketakwaan dan kehormatan diri.
Hidup Berkah Dimulai dari Qana’ah
Salah satu keberanian terbesar di zaman ini adalah berani hidup sesuai kemampuan. Berani berkata “Saya belum mampu.”, “Saya tidak harus mengikuti standar orang lain.”, “Saya tidak perlu memaksakan diri.”. Orang yang qana’ah mungkin tidak terlihat mewah di media sosial. Namun hidupnya tenang, ia tidak dikejar debt collector, tidak gelisah karena cicilan, tidak takut karena judi online, atau stres mempertahankan pencitraan.
Sebaliknya, banyak orang yang tampak “wah” justru menyimpan kegelisahan besar di balik layar kehidupannya.
Menyembelih Ego demi Keberkahan
Hari Raya Qurban seharusnya menjadi momentum muhasabah “Apa sebenarnya yang perlu kita sembelih?”. Mungkin bukan hewan qurban yang paling berat, akan tetapi ego, gengsi, nafsu pamer, kerakusan, dan syahwat ingin dipuji manusia. Karena selama gengsi masih dipelihara, manusia akan terus mudah terjerumus riba, masuk pinjol, tertipu judi online, dan kehilangan keberkahan hidupnya.
Kebahagiaan bukan tentang TERLIHAT KAYA, akan tetapi tentang hati yang cukup, rezeki yang halal, dan hidup yang tenang dalam ketaatan kepada Allah.
Sumber: Hukmu al-Israf fi al-Hafalat – website resmi Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, Al-Fakhr: Ma‘nahu wa Khuthuratuhu, Fatwa No. 48287 – website IslamWeb.net, Seriousness of Debt in Islam – website IslamQA.info.
Tim Shahihfiqih, 9 Dzulhijjah 1447H / 26 Mei 2026M





