Pertanyaan :
Assalamualaikum waramatulahi wabarakatuh, apakah ada dalil / hukum nya salaman / berjabat tangan setelah sholat?
Jawaban:
Sejauh yang kami ketahui, tidak ada satu pun hadits shahih yang menganjurkan berjabat tangan secara khusus setiap selesai shalat fardhu. Padahal, para sahabat radhiyallahu ’anhum adalah orang-orang yang paling bersemangat mengikuti setiap tuntunan Rasulullah ﷺ. Seandainya berjabat tangan setelah shalat merupakan sunnah, niscaya mereka akan meriwayatkannya sebagaimana mereka meriwayatkan dzikir-dzikir yang dibaca Rasulullah ﷺ setelah shalat.
Justru yang diriwayatkan dari beliau ﷺ adalah berbagai dzikir dan doa setelah shalat, di antaranya:
1. Beristighfar tiga kali
Dari Tsauban radhiyallahu ’anhu, beliau berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا، وَقَالَ:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Rasulullah ﷺ apabila selesai dari shalatnya, beliau beristighfar sebanyak tiga kali, kemudian membaca: ALLAHUMMA ANTAS SALAAMU WA MINKAS SALAAMU TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM.” (HR. Muslim no. 591)
2. Membaca dzikir tauhid
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ’anhu:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُولُ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Bahwa Nabi ﷺ biasa membaca setelah setiap shalat wajib: LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THAITA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADD.” (HR. Bukhari no. 844 dan Muslim no. 593)
3. Tasbih, tahmid, dan takbir
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، ثُمَّ قَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ؛ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
“Barang siapa bertasbih, bertahmid, dan bertakbir masing-masing tiga puluh tiga kali setiap selesai shalat, kemudian menyempurnakan hitungan yang keseratus dengan membaca: LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim no. 597)
4. Membaca Ayat Kursi
Dari Abu Umamah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ، لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ
“Barang siapa membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.” (HR. Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, no. 9928; dengan sanad yang shahih).
5. Membaca Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas
Dari ’Uqbah bin ’Amir radhiyallahu ’anhu, beliau berkata:
أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ
“Rasulullah ﷺ memerintahkanku agar membaca surat-surat Al-Mu’awwidzat (Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas) setiap selesai shalat.” (HR. Abu Dawud no. 1523 dan Nasa’i no. 1336)
Demikianlah tuntunan Rasulullah ﷺ setelah shalat. Hadits-hadits yang menjelaskan amalan setelah shalat sangatlah banyak. Namun, tidak ada satu pun riwayat shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ ataupun para sahabat membiasakan berjabat tangan setiap selesai shalat.
Oleh karena itu, mengkhususkan berjabat tangan setiap selesai shalat bukanlah amalan yang disyariatkan. Seorang muslim hendaknya mencukupkan diri dengan amalan-amalan yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Adapun apabila kita shalat di masjid yang masyarakatnya telah terbiasa berjabat tangan setelah shalat, maka tidak perlu kita mendahului mengulurkan tangan. Akan tetapi, apabila ada saudara kita yang mengulurkan tangannya, maka tidak mengapa kita menerimanya demi menjaga persaudaraan dan menghindari perselisihan.
Wallahu a’lam.
Tim Shahihfiqih, 23 Juli 2026 M / 7 Shafar 1448 H



