Hampir tidak ada satu hari pun berlalu dalam kehidupan seorang muslim kecuali ia mendengar kumandang adzan. Lima kali sehari, seruan yang agung itu menggema dari masjid-masjid, memanggil manusia menuju keberuntungan dan keselamatan.
Namun sangat disayangkan, tidak sedikit yang mendengarnya sekadar sebagai rutinitas. Adzan berlalu di telinga tanpa meninggalkan bekas di hati. Padahal, di balik beberapa menit yang singkat itu, tersimpan amalan-amalan ringan dengan pahala yang sangat besar.
Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita untuk sekadar mendengar adzan, tetapi juga menghidupkan lisan dan hati bersamanya.
1. Menjawab Adzan dengan Penuh Penghayatan
Ketika muadzin mengumandangkan adzan, Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk mengulangi lafazh yang diucapkannya.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ
“Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin.” (HR. Bukhari, no. 611 dan Muslim, no. 383)
Namun ketika muadzin mengucapkan:
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
Maka kita menjawab:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Karena tidak ada daya dan kekuatan untuk melaksanakan shalat serta meraih keberuntungan kecuali dengan pertolongan Allah.
Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa orang yang mengucapkannya dari hari (penuh keyakinan dan penghayatan) akan memperoleh kabar gembira berupa surga. (HR. Muslim no. 385)
2. Membaca Dzikir Setelah Syahadat Muadzin
Di sela-sela adzan terdapat dzikir yang sering terlupakan, yaitu setelah kita mengulangi lafazh muadzin yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dzikir tersebut adalah:
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ رَسُولًا
“Aku ridha Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai rasulku.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa mengucapkannya, niscaya diampuni dosanya.” (HR. Muslim no. 386)
Betapa mudahnya ampunan Allah diraih melalui dzikir yang hanya memerlukan beberapa detik ini.
3. Bershalawat kepada Nabi ﷺ Setelah Adzan
Setelah adzan selesai, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk membaca shalawat kepada beliau.
Shalawat bisa dengan lafazh yang singkat seperti:
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
atau:
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ
atau membaca shalawat Ibrahimiyyah yang lebih sempurna.
Keutamaannya sangat besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
فَإِنَّ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Sesungguhnya barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 384)
4. Memohonkan Al-Wasilah untuk Nabi ﷺ
Setelah bershalawat, kita dianjurkan membaca doa:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
“Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berilah Muhammad al-Wasilah dan al-Fadhilah, serta bangkitkan beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan.” (HR. Bukhari, no. 614, 4719)
Rasulullah ﷺ bersabda:
ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“(Setelah mengulangi lafazh adzan muadzin dan membaca shalawat), kemudian mintalah kepada Allah untukku Al-Wasilah, karena ia adalah suatu kedudukan di surga yang tidak pantas kecuali bagi seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, dan aku berharap akulah orang itu. Barang siapa memohonkan Al-Wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim no. 384)
5. Berdoa untuk Diri Sendiri
Setelah seluruh amalan di atas selesai, masih ada kesempatan emas yang sangat berharga: berdoa kepada Allah.
Ketika ada sahabat yang mengeluhkan bahwa para muadzin memperoleh banyak keutamaan, maka Rasulullah ﷺ bersabda:
قُلْ كَمَا يَقُولُونَ، فَإِذَا انْتَهَيْتَ، فَسَلْ تُعْطَهْ
“Ucapkanlah seperti yang mereka ucapkan. Apabila engkau telah selesai, maka mintalah (berdoalah), niscaya engkau akan diberi.” (HR. Abu Dawud no. 524, dengan sanad yang hasan)
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa waktu antara adzan dan iqamah merupakan salah satu waktu mustajab untuk berdoa. (HR. Abu Dawud no. 521 dan At-Tirmidzi no. 3594, hasan)
Para sahabat bertanya apa yang sebaiknya diminta pada waktu tersebut, Rasulullah ﷺ menjawab:
سَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Mintalah kepada Allah al-’afiyah (keselamatan, perlindungan, dan kesejahteraan) di dunia dan di akhirat.” (HR. Tirmidzi no. 3594)
Salah satu opsi doa terbaik yang dapat dibaca adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.” (HR. Abu Dawud no. 5074, At-Tirmidzi no. 3514, dengan sanad yang shahih)
Kesimpulan Sunnah-sunnah Saat Adzan
Dengan demikian, terdapat lima sunnah agung yang dapat diamalkan ketika mendengar adzan:
- Menjawab adzan dengan hati yang hadir dan penuh penghayatan.
- Mengucapkan:
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ رَسُولًا
setelah mengikuti syahadat muadzin.Bershalawat kepada Nabi ﷺ setelah adzan.
- Memohonkan Al-Wasilah dan Al-Fadhilah untuk beliau ﷺ.
- Berdoa untuk diri sendiri, terutama memohon al-’afiyah.
Subhanallah!
Hanya dalam hitungan beberapa menit, seorang muslim dapat mengumpulkan berbagai keutamaan yang luar biasa: harapan masuk surga, ampunan dosa, syafaat Nabi ﷺ, shalawat dari Allah, dan kesempatan memperoleh doa yang dikabulkan.
Semua itu hadir lima kali setiap hari. Tidak membutuhkan biaya, tidak pula tenaga yang besar. Hanya membutuhkan hati yang sadar dan lisan yang mau berdzikir.
Sungguh benar apa yang dikatakan Malik bin Dinar rahimahullah:
اتَّخِذْ طَاعَةَ اللَّهِ تِجَارَةً، تَأْتِكَ الْأَرْبَاحُ مِنْ غَيْرِ بِضَاعَةٍ
“Jadikanlah ketaatan kepada Allah sebagai perniagaanmu, niscaya keuntungan-keuntungan akan datang kepadamu tanpa memerlukan modal barang dagangan.” (Lihat: Raudhat al-‘Uqola, hlm. 27)
Betapa banyak manusia yang menunggu kesempatan besar dalam hidupnya, sementara kesempatan-kesempatan menuju surga berkumandang dari menara masjid setiap hari, namun berlalu tanpa diperhatikan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menghidupkan sunnah-sunnah ini, mengamalkannya dengan penuh keikhlasan dan istiqamah melakukannya hingga akhir hayat.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”
Aamiin.
Tim Shahihfiqih, 23 Dzulhijjah 1447 / 09 Juni 2026





