Belakangan ini, banyak orang merasa hidup semakin berat. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang usahanya sepi. Ada yang dihantui cicilan dan kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat. Sebagian lainnya tidak sedang kekurangan harta, tetapi hidup dalam kecemasan yang tak kunjung selesai. Belum lagi derasnya arus media sosial yang menghadirkan berbagai godaan, syubhat, dan maksiat yang merusak hati.
Di saat seperti ini, seorang muslim membutuhkan pegangan yang kokoh. Bukan sekadar kata-kata motivasi, tetapi janji dari Allah yang tidak mungkin dusta. Allah Ta’ala berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5-6).
Ayat ini bukan hanya penghibur bagi orang yang sedang bersedih. Ia adalah kabar gembira yang berlaku bagi seluruh kaum mukmin hingga hari kiamat.
Satu Kesulitan Tidak Akan Mengalahkan Dua Kemudahan
Para ulama menjelaskan bahwa pada ayat tersebut Allah mengulang kata yusr (kemudahan) dalam bentuk nakirah (umum), sedangkan kata al-‘usr (kesulitan) diulang dengan bentuk ma’rifah (tertentu). Karena itu, para ulama mengatakan bahwa kesulitan yang disebut pada ayat pertama dan kedua adalah satu kesulitan yang sama, sedangkan kemudahan yang disebut pada keduanya adalah dua kemudahan yang berbeda.
Diriwayatkan dari sahabat mulia Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata:
لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ
“Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Jami’ al-Bayan, 24/496).
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
لَا يَغْلِبُ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ
“Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Jami’ Al-Bayan, tafsir QS. Asy-Syarh: 5-6).
Janji Allah ini menjadi cahaya bagi berbagai kesulitan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Saat Rezeki Terasa Sempit
Di berbagai daerah, tidak sedikit orang yang mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan, menurunnya omzet usaha, atau kebutuhan hidup yang semakin besar. Sebagian mulai putus asa dan mengira bahwa kesulitan ekonomi adalah tanda Allah meninggalkannya. Padahal Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).
Sering kali manusia hanya melihat pintu yang tertutup di hadapannya, sementara Allah sedang membuka pintu lain yang belum ia lihat. Imam As-Sa’di rahimahullah berkata:
“Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan memberikan rezeki dari arah yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.” (_Taisir Karim Rahman, hlm. 868).
Mungkin hari ini seseorang kehilangan pekerjaan. Namun karena itu ia belajar keterampilan baru, membuka usaha baru, atau menemukan jalan rezeki yang lebih baik daripada sebelumnya. Kesulitan itu nyata. Tetapi kemudahan yang Allah siapkan lebih nyata.
Ketika Bencana Mengingatkan Manusia
Indonesia termasuk negeri yang sering mengalami gempa bumi, banjir, longsor, dan berbagai bencana alam lainnya. Bagi seorang muslim, bencana bukan sekadar fenomena alam. Ia juga menjadi pengingat agar manusia kembali kepada Rabb-nya. Allah ﷻ berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30).
Namun di balik musibah, sering kali Allah munculkan berbagai kemudahan. Muncul kepedulian sosial. Muncul semangat membantu sesama. Muncul kesadaran untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Musibah dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa dan diangkatnya derajat seorang mukmin apabila ia bersabar.” (Syarh Riyadh ash-Shalihin, 1/104).
Bencana memang menyakitkan. Tetapi sering kali ia juga menjadi pintu hidayah bagi banyak manusia.
Wabah Kecemasan di Era Digital
Di zaman sekarang, banyak orang tidak kekurangan makanan, tetapi kekurangan ketenangan. Setiap hari mereka membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain di media sosial. Melihat orang lain sukses. Melihat orang lain kaya. Melihat orang lain terlihat bahagia. Akhirnya muncul kecemasan, iri hati, dan perasaan gagal. Padahal Allah ﷻ berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
يهِ فَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا إِلَّا مَحَبَّتُهُ وَالْإِنَابَةُ إِلَيْهِ وَدَوَامُ ذِكْرِهِ وَصِدْقُ الْإِخْلَاصِ لَهُ، وَلَوْ أُعْطِيَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَمْ تَسُدَّ تِلْكَ الْفَاقَةَ مِنْهُ أَبَدًا
“Di dalam hati terdapat kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi kecuali dengan mencintai Allah, kembali kepada-Nya, terus mengingat-Nya, dan tulus beribadah kepada-Nya. Seandainya seseorang diberi dunia dan seluruh isinya, niscaya itu tidak akan mampu menutupi kebutuhan tersebut selamanya.” (Madarij as-Salikin, 3/156).
Banyak orang mengira solusi kegelisahan adalah menambah hiburan. Padahal yang dibutuhkan hati sering kali adalah menambah kedekatan kepada Allah.
Sulit Menjaga Agama di Tengah Fitnah Internet
Generasi saat ini menghadapi tantangan yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Dalam hitungan detik, seseorang bisa mengakses syubhat, pornografi, kemaksiatan, dan berbagai pemikiran menyimpang. Karena itu, menjaga agama pada zaman ini termasuk ujian yang berat. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang suatu masa ketika orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi no. 2260, dinilai hasan oleh Al-Albani).
Namun justru di balik kesulitan itu terdapat kemudahan. Kajian dapat diakses dengan mudah. Al-Qur’an dapat dibaca kapan saja. Ilmu para ulama tersebar luas. Jika dahulu seseorang harus menempuh perjalanan jauh untuk belajar agama, kini banyak pintu ilmu tersedia dalam genggaman. Maka teknologi bisa menjadi sebab kerusakan, tetapi juga bisa menjadi sebab keselamatan.
Ketika Dosa Membuat Hidup Semakin Berat
Sebagian kesulitan yang dialami manusia berasal dari maksiat yang mereka lakukan sendiri. Judi online menghancurkan ekonomi keluarga. Pornografi merusak hati dan hubungan rumah tangga. Riba menimbulkan berbagai kesempitan hidup. Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
“Ia tidak mendapatkan ketenangan, tidak ada kelapangan dada, bahkan hidup dalam kesempitan.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Thaha: 124).
Kabar baiknya, pintu taubat selalu terbuka. Kesulitan pertama adalah dosa. Kemudahan pertama adalah kesadaran untuk bertaubat. Kemudahan kedua adalah ampunan Allah yang luas. Allah ﷻ berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).
Jangan Berhenti di Tengah Ujian
Saat ini mungkin anda sedang menghadapi kesulitan yang berat, masalah ekonomi, musibah, konflik keluarga, kecemasan, atau perjuangan meninggalkan maksiat. Jangan hanya melihat kesulitannya, lihat pula janji Allah di baliknya. Allah tidak mengatakan bahwa kemudahan akan datang setelah kesulitan selesai. Allah ﷻ berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5).
Perhatikan, Allah menggunakan kata “ma’a” (bersama), bukan ba’da (setelah). Artinya, ketika kesulitan itu ada, Allah sebenarnya telah menyiapkan berbagai kemudahan yang menyertainya. Hanya saja manusia sering lebih fokus pada luka daripada hikmah yang Allah bentangkan di sekelilingnya.
Karena itu, jangan berputus asa. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Itu bukan slogan motivasi buatan manusia yang bertahan sampai tren berikutnya muncul. Itu adalah janji dari Allah, Rabb semesta alam, yang tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Tim Shahihfiqih, 24 Dzulhijjah 1447 H / 10 Juni 2026 M



