Ketika Dunia Ramai, Tetapi Hati Justru Sepi
Setiap hari kita disuguhi berbagai berita, perdebatan, hiburan, dan peristiwa yang silih berganti. Apa yang hari ini menjadi pembicaraan utama, belum tentu diingat seminggu kemudian. Dunia bergerak begitu cepat.
Namun ada sebuah pertanyaan penting yang layak kita renungkan: Ketika Muharram datang, apakah hati kita ikut menyambutnya? Ataukah perhatian kita masih sepenuhnya tersita oleh hal-hal yang hanya ramai sesaat?
Tidak ada yang salah dengan mengetahui berita dan perkembangan keadaan. Akan tetapi, seorang Muslim hendaknya memiliki skala prioritas yang benar. Ada momentum-momentum yang Allah muliakan, yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti apa yang sedang menjadi pembicaraan manusia. Muharram adalah salah satunya.
Muharram Bukan Sekadar Pergantian Tahun
Sebagian orang memandang tahun baru hijriyah hanya sebagai pergantian angka pada kalender. Padahal dalam syariat, Muharram memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian mendzolimi diri kalian pada bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36).
Para ulama menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut dengan larangan yang lebih ditekankan dari berbagai bentuk kedzoliman karena kemuliaan dan kehormatannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/148).
Artinya, dosa tetap buruk kapan pun dilakukan. Namun melakukan kemaksiatan pada waktu yang dimuliakan Allah menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap syiar-syiar-Nya. Sebaliknya, amal shalih yang dilakukan pada waktu mulia juga memiliki keutamaan yang lebih besar.
Masalahnya Kita Bukan Kurang Informasi, Tetapi Kurang Perhatian
Ironisnya, banyak orang mampu menghafal nama tokoh yang sedang viral, memahami detail sebuah kontroversi, bahkan mengikuti perkembangan berita dari hari ke hari. Namun ketika ditanya: ”Apa keutamaan Muharram?”, ”Kapan puasa Asyura?”, “Mengapa Muharram termasuk bulan haram?”, “Amal apa yang dianjurkan pada bulan ini?”. Tidak sedikit yang kesulitan menjawab. Padahal perkara-perkara tersebut berkaitan langsung dengan keselamatan akhirat kita.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:
“Rusaknya hati terjadi ketika hati lebih sibuk dengan sesuatu yang tidak bermanfaat daripada sesuatu yang bermanfaat baginya.” (Al-Fawaid, hlm. 109).
Inilah penyakit yang perlu diwaspadai. Bukan karena berita dunia selalu haram atau terlarang, tetapi karena sering kali ia mengambil porsi perhatian yang jauh lebih besar daripada urusan agama.
Allah Menilai Apa yang Mengisi Hati Kita
Seorang Muslim tidak hanya dituntut menjaga anggota badan, tetapi juga menjaga arah perhatian hatinya. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Hati yang sehat akan mudah tersentuh ketika datang musim-musim ketaatan. Ketika Ramadhan datang, ia bergembira. Ketika Dzulhijjah tiba, ia bersemangat beramal. Ketika Muharram datang, ia ingin memperbanyak ibadah. Sebaliknya, hati yang keras sering kali lebih antusias terhadap isu-isu dunia daripada panggilan Allah.
Muharram Adalah Kesempatan Emas yang Sering Terlewat
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada Bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim no. 1163).
Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ menyebutnya: “Syahrullah” (Bulan Allah).
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
“Dalam hadits ini terdapat penegasan bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah Muharram.” (Syarh Shahih Muslim, 8/55).
Betapa banyak manusia yang sibuk membahas hal-hal yang mungkin tidak lagi diingat beberapa pekan ke depan, sementara kesempatan meraih pahala besar di Bulan Allah justru berlalu begitu saja.
Trending Topic Akan Berlalu, Catatan Amal Akan Tetap Tinggal
Setiap tahun kita menyaksikan fenomena yang sama. Topik yang kemarin menguasai media sosial hari ini sudah dilupakan. Tokoh yang sempat menjadi pusat perhatian kini tidak lagi dibicarakan. Perdebatan yang dahulu dianggap penting ternyata tidak mengubah apa pun dalam kehidupan kita. Tetapi catatan amal tidak pernah hilang. Allah Ta’ala berfirman:
وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا
“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.” (QS. An-Naba’: 29).
Imam As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa seluruh amal manusia, baik yang besar maupun yang kecil, semuanya dicatat dan akan diperlihatkan pada Hari Kiamat. (Taisir Karimur Rahman, tafsir QS. An-Naba’: 29).
Karena itu seorang Muslim yang cerdas tidak hanya bertanya: “Apa yang sedang ramai dibicarakan manusia?” Tetapi juga bertanya: “Apa yang sedang Allah cintai untuk aku kerjakan saat ini?”.
Menyambut Muharram dengan Kesadaran Iman
Datangnya Muharram semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi diri. Apakah selama setahun terakhir shalat 5 waktu kita semakin baik? Hubungan kita dengan Al-Qur’an semakin dekat? Dzikir dan doa semakin rutin? Taubat semakin sering dilakukan? Silaturahim semakin terjaga? Tawakal kepada Allah semakin kuat?
Inilah pertanyaan yang lebih layak memenuhi pikiran kita dibanding sekadar mengikuti setiap arus percakapan yang berubah dari hari ke hari.
Penutup: Jangan Sampai Kita Kehilangan Musim Kebaikan
Muharram datang setiap tahun, tetapi tidak ada jaminan kita akan menjumpai Muharram berikutnya.
Trending topic akan terus berganti. Berita akan terus berubah. Perbincangan manusia tidak akan pernah berhenti. Namun kesempatan beramal shalih memiliki batas waktu. Karena itu, ketika Muharram tiba, jangan hanya memperhatikan pergantian angka pada kalender hijriyah. Jadikan ia sebagai alarm keimanan untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah.
Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah banyaknya informasi yang pernah kita ikuti, melainkan banyaknya amal shalih yang berhasil kita bawa menghadap Allah. Semoga Allah menjadikan Muharram tahun ini sebagai awal taubat yang tulus, awal perbaikan diri yang sungguh-sungguh, dan awal perjalanan menuju ridho-Nya.
Tim Shahihfiqih, 1 Muharram 1448 H / 16 Juni 2026



