Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab :
ูู ูุฐุง ุชูุตูู ุฃู ุง ุงูุณูุท ูุจู ุฃู ุชููุฎ ููู ุงูุฑูุญ ููุฐุง ูุง ูุณู ู ููุง ูุนู ุนููุ ููุง ูุฌุจ ุชุบุณููู ููุง ุชูููููุ ููุง ุงูุตูุงุฉ ุนูููุ ูุฃูู ูุทุนุฉ ูุญู ููุฏูู ูู ุฃู ู ูุงู
“Dalam hal ini ada perincian.
Apabila keguguran tersebut terjadi sebelum ditiupkan padanya ruh (usia janin kurang dari empat bulan), tidak perlu diberi nama dan tidak pula diakikahi. Tidak diwajibkan memandikannya, tidak pula mengafaninya, dan menyalatinya. Sebab, hakikatnya itu hanyalah sepotong daging. Selanjutnya, ia bisa dimakamkan di tempat mana pun.”
๐ Fathu Dzil Jalali wal Ikram (6/97)





