Pertanyaan:
Apakah Abdul Malik bin Marwan seorang tabi’in, ahli fiqih, dan memiliki keutamaan? Bagaimanakah cara kita menyikapi konflik Abdul Malik bin Marwan terhadap Abdullah bin Zubair dan apa pelajaran yang dapat diambil dari konflik tsb?
Jawaban:
Bismillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du.
Jazakumullahu khairan atas pertanyaannya, semoga Allah memberikan hidayah dan taufik-Nya agar kami bisa memberikan respon dengan sebaik mungkin.
Ya. Abdul Malik bin Marwan (26–86 H) termasuk tabi’in, karena sempat bertemu dan belajar kepada sejumlah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Utsman bin Affan, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, dan lainnya.
Sebelum menjadi khalifah, beliau dikenal sebagai ahli fiqih dan ahli ibadah di Madinah. Imam Adz-Dzahabi berkata:
كَانَ قَبْلَ الْخِلَافَةِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمَدِينَةِ، يُعَدُّ فِي الْفُقَهَاءِ
“Sebelum menjadi khalifah, ia termasuk ulama Madinah dan dihitung sebagai salah seorang ahli fiqih.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 4/246).
Imam Ibnu Katsir juga menyebutkan:
وَكَانَ مِنْ فُقَهَاءِ الْمَدِينَةِ، وَعُبَّادِهِمْ
“Ia termasuk ahli FIQIH dan ahli ibadah di Madinah.” (Al-Bidayah wan Nihayah 9/59).
Di samping itu, beliau juga memiliki jasa besar dalam menyatukan kembali kaum muslimin setelah masa fitnah dan melakukan berbagai pembenahan administrasi Daulah Islam.
Bagaimana Menyikapi Konfliknya dengan Abdullah bin Zubair?
Ahlus sunnah bersikap adil dalam menyikapi peristiwa ini.
Di satu sisi, Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat mulia, sehingga kedudukannya lebih utama daripada Abdul Malik bin Marwan.
Di sisi lain, Abdul Malik tetap merupakan seorang tabi’in, ahli fiqih, dan khalifah kaum muslimin yang memiliki banyak jasa. Karena itu, kita tidak menghapus seluruh keutamaannya hanya karena kesalahan yang terjadi dalam konflik politik tersebut.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Orang berilmu dan shalih tetap bisa keliru dalam masalah ijtihad dan politik.
Fitnah politik dapat menimbulkan kerusakan besar meskipun melibatkan tokoh-tokoh terbaik umat.
Seorang muslim wajib bersikap adil, mengakui keutamaan seseorang, tetapi tidak membenarkan kesalahannya. Perselisihan generasi awal Islam dijadikan pelajaran, bukan bahan fanatisme atau saling mencela.
Inilah manhaj ahlus sunnah, mencintai para sahabat dan tabi’in, menjaga lisan dari celaan yang melampaui batas, serta menimbang setiap peristiwa dengan ilmu dan keadilan. Semoga Allah memberikan kita semua hidayah dan taufik agar tidak terjerumus dalam kebinasaan dengan mencela salah satunya apa lagi keduanya. Wallahu ‘alamu bishshawab
Tim Shahihfiqih, 20 Shafar 1447 H / 3 Agustus 2026 M





