Pertanyaan:
Bagaimana cara saya fokus menuntut ilmu, fokus beribadah sedangkan saya bekerja setiap hari? Tenaga yang saya gunakan hampir sepenuhnya untuk mencari nafkah. Baca Quran sedikit, ke kajian seminggu sekali saja. Sepertinya saya kurang jujur dan tidak bisa menggunakan waktu dengan baik
Jawaban:
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, ’amma ba’du. Jazakumullahu khairan atas pertanyaannya, semoga Allah memberikan taufik dan hidayahnya buat kita semua.
Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Ada yang setiap hari bekerja dari pagi sampai sore, bahkan malam. Tenaga sudah banyak habis untuk mencari nafkah. Pulang kerja ingin membaca Al-Qur’an, tetapi badan sudah lelah. Mau belajar, sulit fokus. Kajian mungkin hanya sempat sekali dalam sepekan. Lalu muncul perasaan, “Sepertinya saya kurang jujur. Saya tidak bisa menggunakan waktu dengan baik. Jangan-jangan saya terlalu sibuk dengan dunia.”
Perasaan seperti ini perlu kita lihat dengan adil. Jangan langsung menyimpulkan bahwa antum malas atau tidak peduli dengan agama. Bisa jadi antum memang masih perlu memperbaiki pengaturan waktu. Tetapi bisa juga antum sedang terlalu keras menilai diri sendiri.
Bekerja Mencari Nafkah Juga Bisa Menjadi Ibadah
Kalau pekerjaan kita halal dan kita bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halal, memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, maka insyaaallah itu bukan sekadar urusan dunia. Nabi ﷺ bersabda:
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا
“Dinar yang engkau belanjakan untuk keluargamu adalah yang paling besar pahalanya.” (HR. Muslim no. 995).
Artinya, jangan sampai kita pulang kerja lalu merasa, “Hari ini saya hanya bekerja. Saya tidak beribadah.” Tidak selalu begitu. Ketika seseorang bekerja dengan cara yang halal, jujur, menjaga amanah, kemudian menggunakan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, itu bisa menjadi bagian dari amal shalih.
Jadi, jangan merasa bahwa “bekerja” selalu berlawanan dengan “ibadah.” Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai pekerjaan membuat kita meninggalkan kewajiban yang lain.
Tetapi Jangan Jadikan Kesibukan Sebagai Alasan Untuk Berhenti Belajar
Di sisi lain, kita juga tidak boleh berkata, “Karena saya sibuk bekerja, berarti tidak perlu belajar agama.” Tetap harus ada waktu untuk belajar. Hanya saja, kita tidak harus langsung membuat target yang terlalu besar. Tidak perlu berpikir, “Saya harus belajar 2–3 jam setiap hari.” Bagi sebagian orang, target seperti ini justru memberatkan, sehingga akhirnya tidak belajar sama sekali.
Mulailah dari yang paling ringan, misalnya 15–20 menit setiap hari. Sedikit, tetapi terus berjalan. Nabi ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus dilakukan, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783).
Jadi, jangan meremehkan amal yang sedikit. Membaca Al-Qur’an 2 halaman setiap hari lebih baik daripada semangat membaca 1 juz hari ini, lalu berhenti berhari-hari. Belajar 20 menit setiap hari lebih baik daripada punya target belajar berjam-jam, tetapi tidak pernah benar-benar dimulai.
Jangan Menunggu Punya Banyak Waktu
Kadang kita berkata, “Nanti kalau pekerjaan saya sudah lebih ringan, saya akan serius belajar.” Masalahnya, belum tentu pekerjaan akan menjadi lebih ringan, malah seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Karena itu, jangan menunggu waktu menjadi longgar, cari waktu yang memang sudah ada.
Misalnya setelah subuh membaca Al-Qur’an 10 menit. Saat perjalanan atau waktu istirahat, dengarkan kajian. Sebelum tidur, baca buku atau materi pelajaran selama 15–20 menit. Kemudian usahakan hadir kajian sekali dalam sepekan dan pertahankan itu. Jangan berpikir bahwa karena hanya sempat sekali seminggu, berarti tidak ada manfaatnya, itu keliru. Manfaatnya pasti ada, yang penting terus hadir dan terus ditambah walau sedikit-sedikit.
Coba Evaluasi Waktu Dengan Jujur
Nah, di bagian ini kita memang perlu jujur kepada diri sendiri. Apakah benar seluruh tenaga dan waktu kita habis untuk bekerja? Atau sebenarnya ada waktu yang terbuang tanpa kita sadari? Misalnya membuka media sosial sebentar, lalu tahu-tahu sudah setengah jam. Menonton satu video, kemudian berlanjut ke video berikutnya. Mau istirahat 10 menit, tetapi akhirnya satu jam.
Kalau memang ada yang seperti ini, tidak perlu langsung menyalahkan diri. Cukup perbaiki sedikit demi sedikit, daripada mencari tambahan waktu dua jam, coba selamatkan dulu 20–30 menit yang selama ini tercecer.
Jangan Bandingkan Diri Dengan Orang Lain
Ada orang yang pekerjaannya memungkinkan belajar setiap hari, ada yang waktunya sangat fleksibel, ada juga yang pekerjaannya menguras tenaga dari pagi sampai malam.
Maka jangan terus membandingkan diri, “Kenapa saya tidak bisa seperti dia?” Yang lebih penting adalah bertanya, “Dengan kondisi yang Allah berikan kepada saya, apakah saya sudah berusaha semaksimal mungkin?” Kalau ternyata belum, maka perbaiki.
Kalau sudah berusaha tetapi kemampuan kita memang terbatas, maka jangan terus-menerus menyiksa diri dengan rasa bersalah. Allah berfirman:
فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16).
Buat Target Yang Sederhana
Jangan membuat jadwal ibadah yang ideal di atas kertas tetapi sulit dijalankan. Buat target minimum yang realistis. Misalnya, setiap hari membaca Al-Qur’an minimal 2 halaman, lalu belajar agama 15–20 menit, menjaga dzikir pagi dan petang, menjaga shalat lima waktu, dan satu kali dalam sepekan menghadiri kajian.
Kalau suatu hari Allah beri tenaga lebih, silakan tambahkan. Tetapi kalau sedang capek sekali, jangan sampai semuanya ditinggalkan. Pertahankan yang minimum. Karena tujuan kita bukan sekadar semangat sesaat, tetapi istiqomah.
Jadi, Apakah Antum Kurang Jujur?
Mungkin ada waktu yang masih bisa diperbaiki, tetapi jangan langsung mengatakan, “Saya tidak jujur kepada Allah.” Lebih tepat mengatakan, “Saya merasa masih banyak waktu yang belum saya manfaatkan dengan baik, dan saya ingin memperbaikinya.” Kalimat seperti ini membuat kita tetap melakukan muhasabah, tetapi tidak membuat kita tenggelam dalam rasa bersalah.
Jangan sampai karena merasa belum maksimal, akhirnya kita malah berhenti beramal. Mulai saja dari yang sederhana, hari ini baca beberapa halaman, besok baca lagi. Pekan ini hadir kajian, pekan depan hadir lagi. Belajar sedikit demi sedikit. Karena bisa jadi yang Allah lihat bukan seberapa banyak waktu yang antum punya, tetapi kesungguhan antum dalam menggunakan waktu yang ada untuk taat kepada-Nya.
Dan satu hal lagi yang penting, jangan menunggu hidup menjadi sepi dari kesibukan untuk mendekat kepada Allah. Belajarlah mendekat kepada Allah di tengah kesibukan. Bekerjalah dengan baik, carilah nafkah yang halal, tunaikanlah kewajiban. Khususkan waktu untuk Al-Qur’an dan untuk belajar, dan terus berjalan, meskipun langkahnya kecil. Karena yang paling berbahaya bukanlah berjalan pelan, tetapi yang berbahaya adalah berhenti. Wallahu a’lamu bishshawab.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil’alamin.
Tim Shahihfiqih, 20 Rabi’uts Tsani 1448 H/ 1 Oktober 2026 M



