Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya tentang bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ, maka beliau menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Ahmad no. 25302)
Allah Ta’ala juga memuji keluhuran akhlak beliau:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Mengapa akhlak beliau begitu agung?
Karena Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sempurna dalam mengamalkan petunjuk Al-Qur’an. Di antara petunjuk Allah kepada beliau adalah agar mengambil pelajaran dari para nabi terdahulu:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An‘am: 90) Dan salah satu nabi yang Allah jadikan pelajaran bagi Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi Dawud ‘alaihissalam.
Allah berfirman:
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً ۖ كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ وَهَلْ أَتَاكَ نَبَأُ الْخَصْمِ إِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَ إِذْ دَخَلُوا عَلَىٰ دَاوُودَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ خَصْمَانِ بَغَىٰ بَعْضُنَا عَلَىٰ بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَىٰ سَوَاءِ الصِّرَاطِ
“Bersabarlah atas apa yang mereka katakan. Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan. Sungguh, dia sangat taat kepada Allah.
Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia pada waktu petang dan pagi. Dan Kami kumpulkan burung-burung dalam keadaan terkumpul; semuanya sangat taat kepada Allah. Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah serta kemampuan menyelesaikan perkara dengan tepat. Dan apakah telah sampai kepadamu berita tentang orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab?
Ketika mereka masuk menemui Dawud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, ‘Jangan takut. Kami adalah dua pihak yang sedang berselisih. Sebagian dari kami telah berbuat zalim kepada sebagian yang lain. Maka berilah keputusan di antara kami dengan adil, jangan menyimpang, dan tunjukilah kami jalan yang lurus.’” (QS. Shad: 17–22)
Perhatikan awal ayat tersebut.
Allah berfirman:
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ
“Bersabarlah (wahai Muhammad) atas apa yang mereka katakan.”
Kemudian Allah langsung mengingatkan Nabi ﷺ tentang Dawud ‘alaihissalam:
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan. Sungguh, dia sangat taat kepada Allah.”
Seakan-akan ada pelajaran yang hendak Allah tanamkan kepada Nabi ﷺ:
Ketika menghadapi ucapan manusia yang menyakitkan, belajarlah untuk bersabar. Ingatlah bagaimana hamba-hamba Allah yang saleh menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.
Nabi Dawud tidak membalas ketidaksopanan dengan kemarahan
Nabi Dawud ‘alaihissalam saat itu sedang berada di mihrab, tempat beliau beribadah.
Tiba-tiba dua orang datang dengan cara yang tidak biasa. Allah berfirman:
إِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَ
“Ketika mereka memanjat dinding mihrab.”
Mereka masuk melalui dinding, bukan melalui pintu sebagaimana mestinya. Maka wajar jika Nabi Dawud terkejut:
فَفَزِعَ مِنْهُمْ
“Lalu dia terkejut karena kedatangan mereka.”
Namun lihat bagaimana beliau merespons. Beliau tidak langsung marah. Tidak mengusir mereka.
Tidak berkata, “Kalian tidak tahu adab? Ini bukan waktunya!” Bahkan ketika mereka menyampaikan perkara yang mereka inginkan, beliau tetap menerima mereka dan siap mendengarkan. Padahal mereka sendiri datang dengan cara yang kurang beradab.
Bahkan mereka berkata kepada seorang nabi sekaligus raja:
فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ
“Maka berilah keputusan di antara kami dengan adil dan jangan menyimpang.”
Subhanallah!
Mereka datang secara tiba-tiba, dengan cara yang kurang beradab, membuat Nabi Dawud terkejut, lalu mereka meminta beliau agar berlaku adil dan tidak menyimpang?
Namun Nabi Dawud tidak membalas dengan emosi.
Ada pelajaran besar di sini:
Orang lain mungkin salah dalam cara menyampaikan nasihat, tetapi itu tidak selalu berarti nasihatnya harus ditolak.
Seorang mukmin tidak hanya belajar dari orang yang sempurna adabnya.
Terkadang Allah menyampaikan sebuah kebenaran kepada kita melalui orang yang cara menyampaikannya justru membuat kita tidak nyaman.
Dan di sinilah terlihat keluhuran jiwa. Akhlak ini juga terlihat pada Nabi Muhammad ﷺ Perhatikan kisah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Ia berkata:
كُنْتُ أَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ، فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَبَذَهُ بِرِدَائِهِ جَبْذَةً شَدِيدَةً، فَنَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عُنُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ أَثَّرَتْ بِهَا حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَبْذَتِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ! مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ، فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضَحِكَ، ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ.
“Aku pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ. Beliau mengenakan selendang Najrani yang tebal bagian tepinya. Kemudian seorang Arab Badui menyusul beliau dan menarik selendangnya dengan sangat kuat.
Aku melihat bekas tarikan selendang itu pada leher Rasulullah ﷺ. Kemudian orang Badui itu berkata, ‘Wahai Muhammad! Perintahkan agar aku diberi sebagian dari harta Allah yang ada padamu.’ Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya lalu tertawa, kemudian beliau memerintahkan agar orang itu diberi sesuatu.” (HR. Bukhari no. 3149 dan Muslim no. 1057)
Lihatlah! Selendang beliau ditarik dengan begitu keras hingga meninggalkan bekas pada leher. Setelah itu orang tersebut masih meminta harta. Namun Nabi ﷺ tidak membalas kekasaran itu dengan kekasaran. Beliau justru tersenyum, lalu memberikan apa yang diminta. Inilah akhlak yang lahir dari jiwa yang telah dididik oleh wahyu.
Dan bukankah sebelumnya Allah telah berfirman kepada beliau:
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ
“Bersabarlah atas apa yang mereka katakan.”
Kemudian Allah mengingatkan beliau kepada Dawud ‘alaihissalam?
Maka ketika kita membaca kisah Nabi Dawud dalam surat Shad, jangan hanya melihatnya sebagai kisah tentang dua orang yang datang menghadap beliau.
Lihatlah juga pelajaran akhlaknya.
Allah sedang mendidik Rasul-Nya ﷺ melalui kisah para nabi sebelum beliau.
Dan Rasulullah ﷺ benar-benar mengamalkan petunjuk tersebut.
Karena itu, ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang akhlak beliau, jawabannya sangat singkat, tetapi sangat dalam:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Ahmad no. 25302)
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca.
Ia adalah petunjuk untuk membentuk cara kita bersikap ketika dihormati maupun diremehkan, ketika dipuji maupun dicela, ketika diperlakukan dengan baik maupun ketika orang lain tidak menjaga adab kepada kita.
Dan semakin seseorang dekat dengan Al-Qur’an, seharusnya semakin tampak keluhuran akhlaknya.
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي
“Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu; yang Engkau gunakan untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu.
Jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghapus kegelisahanku.” (HR. Ahmad, no. 3712)
Wallahu a’lam.
Tim Shahihfiqih, 24 September 2026 M / 11 Rabi’ul Akhir 1448 H





