Solusi Al-Qur’an Bagi yang Mendambakan Keturunan Shalih & Shalihah

Banyak orang mendambakan seorang anak yang shalih. Ada yang bertahun-tahun menanti buah hati namun belum juga dikaruniai keturunan. Ada pula yang telah memiliki anak, tetapi diuji dengan pembangkangan, jauhnya mereka dari agama, atau akhlak yang tidak diharapkan.

Sekilas kedua masalah ini berbeda. Namun ketika kita membuka Al-Qur’an, ternyata Allah menunjukkan satu jalan keluar yang sama: kembalilah kepada Allah dengan sebenar-benarnya.

Bukan sekadar memperbanyak metode pendidikan, membaca berbagai teori parenting, atau sibuk memikirkan masa depan finansial anak. Semua itu adalah sebab yang boleh ditempuh, tetapi Al-Qur’an mengajarkan bahwa sebab terbesar adalah keshalihan orang tua dan kuatnya penghambaan kepada Allah.

Ironisnya, solusi ini sangat jelas, tetapi justru paling sedikit peminatnya. Banyak orang rela menghabiskan waktu dan harta demi berbagai metode, sementara memperbaiki shalat, taubat, ketakwaan, dzikir, dan ibadah justru sering berada di urutan terakhir.

Padahal Al-Qur’an berulang kali mengajarkan bahwa di situlah letak kuncinya.

Nabi Ibrahim: Sibuk Menuju Allah, Lalu Meminta Anak Shalih

Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim ’alaihis salam:

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ ۝ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ۝ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

“Dan Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya aku pergi menuju Rabbku, Dia pasti akan memberiku petunjuk.’ ‘Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih.’ Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” (QS. Ash-Shaffat: 99–101)

Perhatikan urutannya.

Sebelum memohon keturunan, Ibrahim terlebih dahulu menyatakan,

إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ

“Sesungguhnya aku menuju Rabbku. Dia pasti akan memberiku petunjuk.”

Inilah sikap seorang hamba. Fokus utamanya bukan sekadar mendapatkan anak, tetapi menuju Allah, mencari petunjuk-Nya, dan menyempurnakan penghambaan kepada-Nya.

Barulah setelah itu beliau berdoa,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabbku, karuniakanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang shalih.”

Menariknya, yang diminta bukan sekadar anak, tetapi anak yang shalih.

Doa ini juga relevan bagi orang yang telah memiliki anak. Ia dapat bermakna memohon agar Allah menganugerahkan keturunan yang shalih, atau menjadikan anak yang telah ada sebagai anak yang shalih.

Lalu Allah mengabulkan doa tersebut dengan menganugerahkan Ismail ’alaihis salam.

Nabi Zakariya: Amal Shalih Mendahului Doa

Demikian pula kisah Nabi Zakariya ’alaihis salam.

Allah berfirman:

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zakariya ketika ia berdoa kepada Rabbnya, ‘Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, sedangkan Engkau adalah sebaik-baik pewaris.’” (QS. Al-Anbiya’: 89)

Lalu Allah berfirman,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Maka Kami mengabulkan doanya, Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya mampu mengandung. Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam berbagai kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan takut, serta mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Perhatikan alasan dikabulkannya doa tersebut.

Allah tidak hanya menyebut doa Zakariya, tetapi juga menyebut keadaan beliau dan keluarganya:
•⁠ ⁠bersegera dalam berbagai amal shalih,
•⁠ ⁠selalu berdoa dengan penuh harap dan takut,
•⁠ ⁠senantiasa khusyuk kepada Allah.

Seakan-akan Allah mengajarkan bahwa suasana hidup yang dipenuhi ibadah merupakan salah satu sebab turunnya karunia-Nya.

Dalam surat Ali ’Imran, doa beliau lebih jelas lagi:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali ’Imran: 38)

Yang diminta bukan sekadar keturunan, tetapi dzurriyyah thayyibah, keturunan yang baik.

Setelah kabar gembira itu turun, Allah tetap berfirman kepada Zakariya,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Dan ingatlah Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ali ’Imran: 41)

Sebelum memperoleh anak, beliau sibuk menghamba kepada Allah.

Sesudah memperoleh kabar gembira pun, beliau tetap diperintahkan memperbanyak dzikir.

Artinya, estafet ketakwaan tidak pernah berhenti.

Keshalihan Orang Tua Menjadi Sebab Terjaganya Anak

Kisah Nabi Khidhir bersama Nabi Musa memberikan pelajaran yang sangat indah.

Khidhir menegakkan kembali sebuah dinding yang hampir roboh tanpa meminta upah sedikit pun. Ketika Musa bertanya alasannya, Khidhir menjelaskan:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا…

“Adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota itu. Di bawahnya tersimpan harta bagi keduanya, dan ayah mereka adalah seorang yang shalih…” (QS. Al-Kahfi: 82)

Lihatlah sebab yang Allah sebutkan.

Bukan karena kedua anak itu telah dewasa.

Bukan pula karena mereka mampu menjaga hartanya sendiri.

Tetapi,

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Ayah mereka adalah seorang yang shalih.”

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الرَّجُلَ الصَّالِحَ يُحْفَظُ فِي ذُرِّيَّتِهِ، وَتَشْمَلُ بَرَكَةُ عِبَادَتِهِ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ…

“Ayat ini menjadi dalil bahwa seorang yang shalih akan dijaga pada keturunannya. Keberkahan ibadahnya meliputi anak-anaknya di dunia dan di akhirat. Bahkan derajat mereka diangkat sehingga menyejukkan pandangan matanya.” (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 5/158)

Subhanallah!

Keshalihan orang tua tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, tetapi menjadi sebab Allah menjaga anak-anaknya.

Khawatir Terhadap Masa Depan Anak? Allah Menunjukkan Jalan Keluarnya

Sebagian orang tua sangat mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya.

Mereka bekerja tanpa henti, menumpuk aset, membeli berbagai investasi, dan menyiapkan biaya hingga puluhan tahun ke depan.

Ikhtiar semacam ini tentu tidak tercela seutuhnya.

Namun Allah mengingatkan bahwa fondasi utamanya bukanlah harta.

Allah berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Hendaklah takut orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatirkan keadaannya. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9)

Perhatikan solusinya.

Allah tidak mengatakan, “Perbanyaklah hartamu.”

Allah tidak mengatakan, “Amankan seluruh investasi kalian.”

Tetapi Allah berfirman:

فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ

“Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah.”

Ketakwaan adalah sebab terbesar yang Allah letakkan untuk menjaga masa depan anak-anak.

Jangan Sampai Anak Menjadi Penghalang Ketaatan

Allah juga mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian. Maka berhati-hatilah terhadap mereka.” (QS. At-Taghabun: 14)

Bukan berarti mereka selalu menjadi musuh, tetapi terkadang kecintaan kepada mereka membuat seseorang lebih menuruti keinginan keluarga daripada perintah Allah.

Ada yang enggan berinfak karena seluruh hartanya ingin disimpan demi anak-anak.

Ada yang menunda amal shalih karena alasan keluarga.

Padahal Allah mengingatkan di ayat setelahnya:

وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan di sisi Allah terdapat pahala yang sangat besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Lalu Allah memberikan solusi:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian, dengarkanlah, taatilah, dan berinfaklah. Itu lebih baik bagi diri kalian. Barang siapa dijaga dari sifat kikir, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16)

Perhatikan firman Allah. Setelah mengingatkan bahwa istri, anak, dan harta bisa menjadi fitnah, Allah memerintahkan kita untuk bertakwa, mendengar, taat, dan berinfak. Lalu Allah menegaskan:

وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ

“Dan berinfaklah, itu lebih baik bagi diri kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)

Betapa sering seseorang menahan hartanya demi anak-anaknya, padahal Allah justru memerintahkannya berinfak demi kebaikannya sendiri.

Bisa jadi, keberkahan infak itulah yang Allah jadikan sebab lahirnya anak-anak yang bertakwa, dewasa, mandiri, dan mampu menjalani kehidupan tanpa bergantung terus kepada orang tuanya. Sebaliknya, memanjakan anak dengan harta secara berlebihan belum tentu menjadi kebaikan bagi mereka, jika tidak dibangun di atas fondasi iman dan ketakwaan. Oleh karenanya Allah berfirman:

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Barang siapa dijaga dari sifat kikir, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16)

Kemudian Allah berfirman:

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Dia akan melipatgandakannya untuk kalian dan mengampuni kalian. Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun.” (QS. At-Taghabun: 17)

Seakan-akan Allah kembali menegaskan bahwa jalan keluarnya adalah ketakwaan, dan salah satu wujud terbesarnya adalah berinfak.

Allah bahkan menyebut infak sebagai “pinjaman kepada Allah”.

Subhanallah. Allah menggunakan ungkapan pinjaman untuk menumbuhkan keyakinan pada hamba-Nya bahwa harta itu tidak akan hilang. Bahkan, Allah sendiri menjamin akan mengembalikannya dengan kelipatan dan keberkahan, sekaligus menganugerahkan ampunan kepada pelakunya.

Dengan berinfak, ketakwaan semakin kokoh, hati dijauhkan dari sifat kikir, dan seseorang mendidik dirinya untuk lebih mencintai Allah daripada harta. Bukankah orang tua seperti inilah yang paling layak menjadi teladan bagi anak-anaknya? Dengan izin Allah, mereka pun tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa, mandiri, dewasa, serta tidak bergantung kepada kemewahan yang dimanjakan orang tuanya.

Dan keuntungannya tidak berhenti sampai di sana. Harta yang diinfakkan tidak berkurang di sisi Allah, bahkan dijanjikan ganti yang lebih baik, dilipatgandakan pahalanya, dan dosa-dosa pelakunya diampuni.

Betapa Mahamulia, Mahapemurah, dan Mahabenar janji-Mu!

Muhasabah Sebelum Menuntut Keshalihan Anak

Setelah menelaah ayat-ayat Al-Qur’an tentang Nabi Ibrahim, Nabi Zakariya, kisah dua anak yatim dalam Surah Al-Kahfi, dan berbagai ayat tentang ketakwaan, mungkin ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri:

Sudahkah kita memperbaiki diri sebelum menuntut keshalihan anak-anak kita?

Sering kali kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana memperbaiki anak, padahal Al-Qur’an berkali-kali mengarahkan pandangan kita kepada diri sendiri terlebih dahulu.

Bagaimana shalat kita?

Apakah kita termasuk orang yang menjaga shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki, ataukah masih sering meremehkannya tanpa alasan syar’i?

Bagaimana kekhusyukan kita ketika berdiri di hadapan Allah?

Bagaimana shalat-shalat rawatib kita?

Bagaimana witir kita?

Bagaimana qiyamul lail kita ketika kebanyakan manusia sedang terlelap?

Sudah berapa lama kita tidak menangis karena takut kepada Allah?

Bagaimana hubungan kita dengan Al-Qur’an?

Apakah ia benar-benar menjadi teman harian kita, atau hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu saja?

Bagaimana dzikir pagi dan petang kita?

Bagaimana dzikir sebelum tidur kita?

Bagaimana istighfar kita setiap hari?

Padahal lisan yang basah dengan dzikir adalah salah satu sebab hati menjadi hidup, sedangkan hati yang hidup lebih mudah melahirkan keluarga yang hidup dengan iman.

Lalu bagaimana keadaan kita ketika sedang sendirian?

Karena hakikat seorang hamba bukanlah apa yang tampak di hadapan manusia, tetapi apa yang ia lakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya selain Allah.

Bagaimana pandangan mata kita?

Apa yang kita lihat melalui layar ponsel kita?

Apa yang kita dengarkan?

Apa yang kita simpan dalam hati kita?

Bagaimana hubungan kita dengan kedua orang tua?

Apakah masih ada kedurhakaan yang belum kita sadari?

Masih adakah hati yang pernah kita sakiti?

Masih adakah saudara yang kita putus hubungan dengannya?

Masih adakah tetangga yang terganggu oleh sikap kita?

Masih adakah amanah orang lain yang belum kita tunaikan sebagaimana mestinya?

Kemudian marilah kita melihat ke dalam hati.

Adakah riya yang masih bercokol?

Adakah ujub yang membuat kita merasa lebih baik daripada orang lain?

Adakah sum’ah yang membuat kita senang dipuji manusia?

Adakah kibr yang membuat kita sulit menerima nasihat?

Adakah nifaq yang menjadikan penampilan lahir lebih baik daripada keadaan batin?

Adakah rasa merasa berjasa kepada agama, kepada dakwah, kepada manusia, atau bahkan kepada keluarga kita?

Adakah amal yang kita lakukan karena mengharapkan balasan manusia?

Sementara Allah hanya menerima amal yang ikhlas untuk-Nya semata.

Kemudian lihatlah harta kita.

Dari mana ia berasal?

Apakah seluruhnya halal?

Ataukah masih ada syubhat yang selama ini kita anggap ringan?

Masih adakah transaksi riba yang belum kita tinggalkan?

Masih adakah praktik yang Allah dan Rasul-Nya murkai?

Masih adakah hutang yang belum kita lunasi padahal kita mampu membayarnya?

Masih adakah hak manusia yang belum kita kembalikan?

Sungguh tidak diragukan bahwa makanan yang halal, nafkah yang halal, dan harta yang halal memiliki pengaruh besar terhadap keberkahan keluarga dan kebaktian anak-anak.

Betapa banyak orang tua yang sangat serius memilih sekolah terbaik bagi anaknya, tetapi kurang serius memastikan setiap rupiah yang masuk ke rumahnya benar-benar halal di sisi Allah.

Padahal para nabi dan orang-orang shalih dahulu lebih dahulu memperbaiki penghambaan mereka kepada Allah sebelum berharap perbaikan pada keturunan mereka.

Maka sebelum kita mengeluhkan anak yang belum shalih, sebelum kita bersedih karena belum dikaruniai keturunan, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri:

Bagaimana keadaan penghambaan kita kepada Allah?

Karena Allah berfirman:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah Mahamencukupi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

فَالْكِفَايَةُ التَّامَّةُ مَعَ الْعُبُودِيَّةِ التَّامَّةِ، وَالنَّاقِصَةُ مَعَ النَّاقِصَةِ، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“Kecukupan Allah yang sempurna akan diberikan sesuai dengan kesempurnaan penghambaan seorang hamba. Jika penghambaan itu berkurang, maka kecukupan itu pun berkurang. Barang siapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan barang siapa mendapatkan selain itu, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” (Lihat: Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 5)

Maka marilah kita memperbaiki penghambaan kita kepada Allah.

Karena bisa jadi yang menghalangi datangnya karunia bukanlah kurangnya usaha kita mencari sebab-sebab duniawi, melainkan masih banyaknya kekurangan dalam ubudiyah kita kepada Rabb semesta alam.

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (agar terus menyembah-Mu).” (QS. Al-Fatihah: 5)

Tim Shahihfiqih 26 Muharrom 1448 / 12 Juli 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *