Salah satu Al-Asma’ Al-Husna yang Allah miliki adalah Al-Hakim: Dzat Yang Maha Bijaksana.
إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ
“Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 220)
وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا
“Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 17)
Kebijaksanaan Allah semakin sempurna tatkala disertai dengan keperkasaan dan pengetahuan yang menyeluruh.
Allah Maha Bijaksana dalam syariatnya yang diturunkan kepada para rasul-Nya. Maha Bijaksana dalam takdir yang dipilihkan untuk para makhluk-Nya.
Kebijaksanaan Allah dalam Urusan Takdir
Dan salah satu bentuk kebijaksanaan-Nya adalah: tidak semua takdir hidup ini berjalan sesuai harapan kita.
Ada yang tidak lahir dari keluarga berada.
Ada yang sejak kecil sudah diuji dengan sakit atau cacian.
Ada yang kehilangan orang tua di usia muda.
Ada yang diuji dengan sulitnya jodoh.
Ada yang diuji dengan pasangan hidup.
Ada yang lama menanti hadirnya buah hati.
Ada yang diuji dengan anak yang durhaka, menjadi beban keluarga…
Begitulah, setiap manusia menjalani takdirnya masing-masing, sering kali tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Namun semua itu terjadi dalam bingkai hikmah Allah yang sempurna.
Allah berfirman:
وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Hikmah yang paling bisa segera kita petik: adanya pahala dibalik itu semua.
وَلَا تَهِنُواْ فِي ٱبۡتِغَآءِ ٱلۡقَوۡمِۖ إِن تَكُونُواْ تَأۡلَمُونَ فَإِنَّهُمۡ يَأۡلَمُونَ كَمَا تَأۡلَمُونَۖ وَتَرۡجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا يَرۡجُونَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan (pahala) dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 104)
Takdir Manusia Telah ditentukan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُبْعَثُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، وَيُقَالُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ، وَرِزْقَهُ، وَأَجَلَهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ
“Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dikumpulkan di perut ibunya selama 40 hari. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula. Lalu menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian diutus malaikat dan diperintahkan untuk menulis empat hal: amalnya, rezekinya, ajalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia.” (HR. Bukhari, no. 3208 dan Muslim, no. 2643)
Dan salah satu rukun iman adalah beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
Mahalnya Nikmat Dapat dirasakan Jika Pernah Ada Musibah
Salah satu hikmah besar dari takdir yang tidak sesuai harapan adalah: agar kita lebih mensyukuri nikmat yang Allah berikan.
Coba bayangkan, jika ada orang yang hidupnya selalu mulus:
Tak pernah sakit, tak pernah sedih, tak pernah gagal…
Bagaimana ia bisa merasakan nikmatnya sehat jika tak pernah sakit?
Bagaimana ia tahu nikmat makanan jika tak pernah merasakan lapar?
Bagaimana ia bersyukur punya rumah jika tak pernah kehujanan?
Bagaimana ia tahu nikmatnya punya pasangan jika tak pernah kesepian?
Allah ingin kita sabar saat menghadapi ujian, lalu bersyukur ketika nikmat datang. Dengan itulah sempurna ibadah kita sebagai hamba-Nya.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (QS. Ibrahim: 5)
Saat kita sedang menjalani kehidupan yang berat, kita bersabar. Dan tatkala Allah hilangkan kesusahan itu, kita bersyukur. Dengan demikian terkumpulah dua ibadah besar: sabar dan syukur.
Beribadah 24 Jam
Perhatikan dua firman Allah berikut ini:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: 56)
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Kita tahu bahwa ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji hanya dikerjakan pada waktu-waktu tertentu. Bandingkan waktunya dengan keseluruhan umur kita, persentasenya sangatlah sedikit.
Maka Allah mentakdirkan kita diuji, agar waktu kita bisa terisi dengan dua ibadah besar yang bisa dilakukan sepanjang hari: sabar dan syukur.
Nabi ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman! Semua urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak dimiliki siapa pun selain orang beriman. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)
Doa Inti Ibadah
Salah satu ibadah terbesar yang bisa terus kita maksimalkan, terutama saat takdir belum sesuai harapan, adalah: berdoa.
Doa bukan sekadar permintaan, ia adalah inti ibadah itu sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa itu adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud, no. 1479)
Semakin banyak kebutuhan dan masalah yang kita hadapi, maka semakin sering pula seorang hamba tunduk dan bersimpuh di hadapan Rabb-nya, memohon dengan rendah hati kepada Dzat Yang Maha Tinggi, Maha Mendengar, dan Maha Pengasih.
Lihatlah Nabi Ibrahim ’alaihis salam. Betapa lamanya beliau menanti kehadiran seorang anak. Namun selama itu pula, beliau tak pernah berhenti meminta kepada Allah. Justru karena panjangnya penantian itu, semakin banyak doa yang beliau panjatkan, maka semakin banyak ibadah dan kebaiakan yang beliau raih.
Lihatlah pula Nabi Muhammad ﷺ. Sejak awal diutus, beliau selalu berdoa agar umatnya menerima ajaran yang beliau bawa. Namun ketika ditolak dan diusir oleh kaumnya, beliau tidak putus harapan. Beliau pergi ke Thaif, berharap pertolongan. Tapi pertolongan itu belum juga datang… Hingga akhirnya, setelah 13 tahun penuh doa dan perjuangan, Allah izinkan beliau berhijrah ke Madinah, dan di sanalah beliau disambut oleh kaum Anshar yang setia.
Oleh karenanya, inilah alasan salah satu tanda cinta Allah kepada hambanya adalah: ditimpakan musibah. Tujuannya agar hamba tersebut terus bermunajat dan berduaan dengan Allah, meminta, memohon, dan merengek agar masalah hidupnya segera diberikan jalan keluar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ.
“Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.
Barangsiapa ridha, maka baginya keridhaan (dari Allah). Dan barangsiapa murka (tidak menerima), maka baginya kemurkaan (dari Allah).” (HR. Ahmad, no. 23633)
Kita semua sepakat bahwa para nabi dan rasul adalah manusia pilihan, mereka adalah makhluk kecintaan Allah. Namun cinta tersebut bukan sekedar klaim, Allah ingin agar mereka membuktikan cinta tersebut dengan sabar di berbagai macam ujian dan cobaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً: الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ العُلَمَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ.
“Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian para ulama, lalu orang-orang saleh yang bertingkat-tingkat sesuai kadar keutamaannya.” (HR. Hakim 6/105)
Inti dari Doa adalah Ibadahnya, Bukan Terkabulnya
Seringkali, Allah menangguhkan pengabulan doa kita, bukan karena Allah tidak peduli, tetapi karena Allah ingin kita lebih lama beribadah dengan doa itu sendiri.
Kita berdoa agar bisa kuliah, agar diberi kemudahan menulis skripsi, agar diterima kerja, agar dimudahkan dalam bisnis, agar dipertemukan dengan jodoh yang baik, agar dikaruniai anak, agar anak kita menjadi sholeh, agar diberi kesehatan, agar dilapangkan rezeki, agar bisa umrah dan haji…
Semua harapan ini adalah jalan-jalan ibadah, karena setiap doa yang kita panjatkan adalah bentuk penghambaan kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِيٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, mereka akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60)
Para sahabat adalah generasi terbaik dalam memahami hakikat doa ini. Sampai-sampai Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنِّي لَا أَحْمِلُ هَمَّ الْإِجَابَةِ، وَلَكِنْ هَمَّ الدُّعَاءِ، فَإِذَا أُلْهِمْتُ الدُّعَاءَ عَلِمْتُ أَنَّ الْإِجَابَةَ مَعَهُ
“Aku tidak khawatir tentang jawaban doa, yang aku khawatirkan adalah kemauan untuk terus berdoa. Sebab jika aku diberi taufik untuk berdoa, maka aku tahu bahwa jawabannya pasti menyertainya.” (Lihat: Ad-Da’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 29)
Orang-orang yang mengisi hari-harinya dengan doa, menggantungkan harapannya hanya kepada Allah, mereka adalah orang-orang yang telah dijamin oleh Nabi ﷺ bahwa mereka tidak akan pernah celaka.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَعْجَزُوا فِي الدُّعَاءِ، فَإِنَّهُ لَا يَهْلِكُ مَعَ الدُّعَاءِ أَحَدٌ
“Jangan lemah dalam berdoa. Karena tidak ada seorang pun yang binasa bersama doa.” (HR. Al-Hakim, no. 1818)
Bentuk Janji Allah dalam Mengabulkan Doa
Allah tidak pernah ingkar janji. Ketika Dia memerintahkan kita untuk berdoa, dia juga berjanji untuk mengabulkannya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِيٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian.” (QS. Ghafir: 60)
Bahkan saat hati ini lemah dan langkah terasa berat, Allah tetap dekat, sangat dekat. Dia mendengar setiap bisikan doa, bahkan sebelum lisan ini mengucapkannya.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, maka (katakanlah): Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa ketika ia berdoa.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Sebagai orang beriman, kita harus yakin sepenuhnya—tanpa ragu sedikit pun—bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya. Namun, ada dua hal penting yang perlu kita pahami:
1. Apakah syarat-syarat doa sudah terpenuhi? Apakah ada penghalang yang menghalangi terkabulnya doa?
2. Apa makna dikabulkannya doa?
Pertama, salah satu syarat terkabulnya doa adalah: hati yang yakin dan tidak lalai. Bukan sekadar lisan yang bergerak, tapi hati pun ikut hadir dalam doa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai dan sibuk.” (HR. Tirmidzi, no. 3479)
Kedua, salah satu penghalang doa adalah: makanan, minuman, pakaian, dan penghasilan yang haram. Jika seorang hamba mengisi tubuhnya dengan sesuatu yang haram, maka doanya terhalang dari langit.
Nabi ﷺ menceritakan tentang seorang yang berdoa dalam keadaan lusuh, mengangkat tangan ke langit, memohon: “Ya Rabb, ya Rabb…” tapi ternyata:
مَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“…makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan tubuhnya tumbuh dari yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim, no. 1015)
Ketiga, doa juga bisa terhalang karena sikap tergesa-gesa. Orang yang terlalu cepat ingin melihat hasil, lalu menyerah karena merasa belum dikabulkan, justru itu yang menjadi sebab doanya tidak diterima.
Nabi ﷺ bersabda:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ، أَوْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.
“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan,
selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutus tali silaturahmi, dan tidak tergesa-gesa, dengan berkata: “Aku sudah berdoa, tapi belum juga dikabulkan.” (HR. Muslim, no. 2735)
Lalu, bagaimana bentuk pengkabulan doa menurut Allah?
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap doa hamba akan dikabulkan dalam satu dari tiga bentuk:
1. Dikabulkan langsung sesuai permintaan.
2. Disimpan sebagai pahala di akhirat.
3. Dijadikan penghalang dari keburukan yang sebanding.
Beliau ﷺ bersabda:
ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا مَأْثَمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يَسْتَجِيبَ لَهُ دَعْوَتَهُ، أَوْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا، أَوْ يَدَّخِرَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَهَا
“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa atau memutus tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga: dikabulkan segera, disimpan untuk akhirat, atau dijauhkan dari keburukan yang sebanding dengannya.”
Para sahabat bertanya:
إِذًا نُكْثِرُ؟
“Kalau begitu kami akan memperbanyak doa!”
Beliau menjawab:
اللهُ أَكْثَرُ
“Allah lebih banyak (dalam memberi).” (HR. Hakim, no. 1840)
Kesimpulannya…
Allah memerintahkan kita untuk mengisi hidup dengan ibadah. Namun, karena keterbatasan semangat dan tenaga, kita tentu tidak mungkin menghabiskan seluruh waktu dengan ibadah fisik seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan amalan lainnya.
Maka, dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya, Allah mengarahkan takdir kita—kadang dengan hal-hal yang jauh dari harapan—agar kita banyak bersabar dan berdoa. Karena sabar dan doa adalah inti ibadah itu sendiri. Dan ketika nikmat datang, kita pun diperintahkan untuk bersyukur.
Inilah jalan ibadah yang Allah susun bagi hamba-Nya: antara sabar, doa, dan syukur.
Jika kita tetap berdoa, terus menjaga hati, dan menjauh dari penghalang terkabulnya doa, maka yakinlah: tiada doa yang sia-sia.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَعْجَزُوا فِي الدُّعَاءِ، فَإِنَّهُ لَا يَهْلِكُ مَعَ الدُّعَاءِ أَحَدٌ
“Jangan lemah dalam berdoa. Karena tidak ada seorang pun yang binasa bersama doa.” (HR. Al-Hakim, no. 1818)
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa berharap, terus berdoa, dan tidak pernah putus asa, sehingga bisa memaksimalkan kehidupan yang Allah berikan dengan ibadah. Aamiin.





