Kapan Harus Berkata dan Kapan Lebih Baik Diam?

Lidah adalah anggota tubuh yang kecil, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan bisa melukai hati, merusak persaudaraan, bahkan menjerumuskan pembicaranya sendiri. Sebaliknya, satu kalimat yang tepat bisa menenangkan, menguatkan, atau menyelamatkan seseorang dari kesalahan. Karena itu, para ulama menjadikan menjaga lisan sebagai salah satu pondasi utama akhlak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari, no. 6135 dan Muslim, no. 48)

Perhatikan bahwa pilihan yang diberikan hanya dua: berkata yang baik atau diam. Tidak ada pilihan ketiga berupa berkata sembarangan. Hadits ini menjadi dasar bagi pembahasan kita kali ini.

Lisan Adalah Pintu Akhlak

Menjaga lisan berarti mengendalikan dan membatasi ucapan agar hanya keluar yang bermanfaat. Dalam pembahasan akhlak, ini bukan perkara kecil. Seseorang yang tidak bisa menjaga lisannya sulit dikatakan memiliki adab yang baik, sekalipun ibadahnya tampak rajin.

Hadis tersebut juga mengandung ajakan untuk berpikir sebelum berbicara. Kata yang belum terucap masih berada dalam kendali kita. Begitu ia keluar, ia sudah berpindah dari kita ke orang lain, dan kita tidak bisa menariknya kembali. Dari sinilah kebiasaan berpikir sejenak sebelum menjawab menjadi bagian dari akhlak seorang mukmin.

Tiga Keadaan Sebelum Berbicara

Ketika seseorang hendak berbicara, setidaknya ada tiga kemungkinan tentang ucapan yang akan ia sampaikan.

Keadaan pertama, ucapan itu jelas kebaikannya. Misalnya menasihati dengan lembut, mengucapkan selamat, menjawab pertanyaan yang bermanfaat, atau menyampaikan ilmu. Dalam keadaan ini, berbicara adalah hal yang dianjurkan.

Keadaan kedua, ucapan itu jelas keburukannya. Termasuk di sini ghibah, namimah (mengadu domba), dusta, mencela, dan candaan yang menyakiti orang lain. Dalam keadaan ini, diam adalah kewajiban, dan menahan diri dari kalimat tersebut adalah bagian dari ketakwaan.

Keadaan ketiga, kita tidak yakin apakah ucapan itu baik atau buruk. Di sinilah banyak orang tergelincir, karena merasa “cuma bercerita” atau cuma bertanya”. Untuk keadaan seperti ini, Rasulullah ﷺ memberikan panduan:

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

“Barangsiapa menjaga diri dari perkara-perkara yang samar, ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.” (HR. Muslim, no. 1599)

Beliau juga bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

“Tinggalkan apa yang meragukanmu, menuju apa yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2518 dan Nasa’i, no. 5711; dinilai shahih oleh Al-Albani)

Jika kita ragu apakah sebuah kalimat membawa manfaat atau mudarat, lebih selamat untuk menahannya. Diam dalam kondisi ragu bukanlah kelemahan, melainkan kehati-hatian.

Diam Bukan Berarti Bisu

Meski hadis menganjurkan diam, bukan berarti seorang muslim harus selalu membisu. Yang dituntut adalah ucapan yang tepat. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Yang dimaksud adalah perkataan yang lurus dan tepat sasaran, yaitu lawan dari perkataan yang berbelit, asal-asalan, atau menyakitkan. Seseorang yang diam ketika ia seharusnya memberi nasihat, membela yang benar, atau mengoreksi kesalahan, juga belum tepat menjalankan adab ini.

Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan betapa berbahayanya lisan yang tidak terjaga. Kepada Mu’adz bin Jabal, beliau bersabda:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Tidaklah manusia dicampakkan ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka, atau di atas hidung-hidung mereka, kecuali karena hasil panen lisan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2616)

Ungkapan “hasil panen lisan” menggambarkan bahwa setiap ucapan akan tumbuh menjadi buah, baik atau buruk, dan kita yang akan memetiknya.

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang lisannya basah dengan dzikir, dan jika berbicara, yang keluar darinya hanyalah kebaikan. Aamiin.

Dikembangkan dari: Ahadits al-Akhlaq, hlm. 16-18, karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-‘Abbad al-Badr.

Tim Shahihfiqih, 21 Oktober 2026 M / 9 Jumadal Ula 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *