Mengenal Tahap Demi Tahap Diwajibkannya Puasa Ramadhan

Puasa pertama yang diwajibkan adalah puasa ‘Asyura (10 Muharram), yaitu pada tahun pertama Hijriyah setelah Nabi ﷺ tiba di Madinah. Adapun ketika masih di Makkah, beliau sudah terbiasa berpuasa ‘Asyura, namun kewajibannya ditetapkan setelah beliau berada di Madinah.

Di tahun yang sama, Allah mensyariatkan puasa Ramadhan. Pada tahap awal, hukumnya belum bersifat wajib sepenuhnya; kaum muslimin diberi pilihan antara berpuasa atau membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Kemudian pada tahun kedua Hijriyah, turun ketetapan yang mewajibkan puasa Ramadhan secara penuh, sehingga tidak ada lagi pilihan selain berpuasa bagi yang mampu.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ لَا يَصُومُهُ

“Dahulu hari ‘Asyura adalah hari yang biasa dipuasai oleh Quraisy pada masa jahiliyah. Nabi ﷺ pun berpuasa pada hari itu. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau tetap berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Namun setelah (puasa) Ramadhan diwajibkan, maka siapa yang mau boleh berpuasa ‘Asyura dan siapa yang mau boleh meninggalkannya.” (HR. Bukhari, no. 3831 dan Muslim, no. 1125)

Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، وَيَحُثُّنَا عَلَيْهِ، وَيَتَعَاهَدُنَا عِنْدَهُ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ لَمْ يَأْمُرْنَا، وَلَمْ يَنْهَنَا، وَلَمْ يَتَعَاهَدْنَا عِنْدَهُ

“Rasulullah ﷺ dahulu memerintahkan kami untuk berpuasa pada hari ‘Asyura, menganjurkan kami untuk melakukannya, dan senantiasa mengingatkan kami tentangnya. Namun setelah Ramadhan diwajibkan, beliau tidak lagi memerintahkan kami (untuk berpuasa ‘Asyura), tidak pula melarangnya, dan tidak lagi secara khusus mengingatkan kami tentangnya.” (HR. Muslim, no. 1128)

Pada awal disyariatkannya puasa, orang yang berpuasa tidak diperbolehkan melakukan jima’, meskipun di malam hari. Bahkan, apabila setelah berbuka ia tertidur, maka ia tidak lagi boleh makan dan minum hingga hari berikutnya. Demikianlah ketentuan puasa pada umat-umat terdahulu.

Kemudian Allah meringankan syariat ini bagi umat Islam. Aturan tersebut dihapus, sehingga pada malam hari Ramadhan dibolehkan makan, minum, dan berjima’ hingga terbit fajar. Ini termasuk bentuk rahmat dan kemudahan yang Allah anugerahkan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

Dari Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا، فَحَضَرَ الْإِفْطَارُ، فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ، لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ وَلَا يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ. وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الْأَنْصَارِيَّ كَانَ صَائِمًا، فَلَمَّا حَضَرَ الْإِفْطَارُ أَتَى امْرَأَتَهُ، فَقَالَ لَهَا: أَعِنْدَكِ طَعَامٌ؟ قَالَتْ: لَا، وَلَكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ. وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ، فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَتُهُ، فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ: خَيْبَةً لَكَ! فَلَمَّا انْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: ﴿أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ﴾، فَفَرِحُوا بِهَا فَرَحًا شَدِيدًا، وَنَزَلَتْ: ﴿وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ﴾

“Dahulu para sahabat Muhammad ﷺ, apabila seseorang sedang berpuasa lalu datang waktu berbuka, kemudian ia tertidur sebelum berbuka, maka ia tidak boleh makan pada malam itu dan tidak pula pada siang harinya hingga datang waktu sore berikutnya.

Qais bin Shirmah Al-Anshari pernah berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, ia mendatangi istrinya dan bertanya, ‘Apakah ada makanan?’ Istrinya menjawab, ‘Tidak ada, tetapi aku akan pergi mencarikan untukmu.’ Karena seharian ia bekerja, rasa kantuk pun mengalahkannya hingga ia tertidur. Ketika istrinya datang dan melihatnya telah tertidur, ia berkata, ‘Sungguh merugilah engkau!’

Ketika siang hari telah pertengahan, ia pun pingsan. Peristiwa itu kemudian diceritakan kepada Nabi ﷺ, maka turunlah ayat: “Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian…”

Mereka pun sangat bergembira dengan turunnya ayat tersebut. Dan turun pula firman-Nya: “Dan makan serta minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam (yakni terbit fajar).”” (HR. Bukhari, no. 1915)

Wallahu a’lam.

Back to top button