Home / Nasehat Ulama / Istiqomah di Atas Sunnah

Istiqomah di Atas Sunnah

Pemateri : Syaikh Prof.Dr Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily hafizhahullah ta’ala.
Penerjemah : Ustadz Abdullah Zaen Lc MA hafizhahullah ta’ala
Waktu : Ahad , 27 Rabiul Tsani 1439 H/14 Januari 2018, Lokasi : Mesjid Agung Karanganyar, Jawa Tengah

Bismillah, alhamdulillah washalatu wasallamu’ala Rasulillah. Setiap Muslim berusaha mencapai keistiqomahan di atas sunnah, orang yang bisa istiqomah maka mendapatkan keistimewaan. Oleh karena ada yang berusaha mencoba istiqomah namun tidak mendapatkannya.. Berikut ini pembahasan tentang 7 point istiqomah diatas Sunnah ;

1. ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH DALAM BERDALIL
• Salah satu prinsip yang sangat vital bagi seorang Muslim dalam beragama, bahkan point-point berikutnya adalah cabang-cabang dari point ke-1 ini
• Dalil-dalil syari berdasarkan ijma ada 3 :
a. Al Quran
b. Sunnah
c. Ijma para ulama, sumbernya dari Al  Qur’an dan Sunnah

• Ketiganya telah disepakati para ulama sebagai prinsip dasar dalam beragama,  diantaranya disepakati oleh 4 imam mazhab.
• Ketika berdalil dengan ketiganya, menggunakan pemahaman para salafush shalih, karena pemahaman orang (selain mereka) berbeda dan bertingkat-tingkat.
• Istiqomah dalam berdalil akan tercapai dengan pemahaman para sahabat, tabi’in, & tabi’ut tabi’in (salafush sholeh).
• Karena para salafush shalih ilmunya lebih dalam, lebih paham bahasa Arab, dan hatinya bersih…

👤 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
Orang yang menyimpang ada 2 sumbernya yaitu :
a. Berdalil dengan sesuatu yang bukan dalil
b. Salah dalam memahami dalil

Kiat supaya selamat ;
a. Berdalil dengan Al Quran, Sunnah dan Ijma 
b. Memahaminya dengan pemahaman para sahabat.

Ketika terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama salaf, perbedaannya tidak sama/bertingkat, yakni :
a. Perbedaan Redaksi (tanawwu/ungkapan), menurut syaikhul Islam perbedaan dalam memberikan contoh dalam tafsir ayat sehingga tidak ada yang salah. 
Contoh :
1. Menafsirkan Ayat dalam Al Fatihah “jalan yang lurus.” para ulama berbeda yakni :
a. Al Qur’an.
b. Islam.
c. Nabi Muhammad.

2. Menafsirkan ayat tentang pembawa Kebenaran dan Pengikuti kebenaran, para ulama berbeda pendapat yakni :
a. Para nabi dan kaum mukminin
b. Rasulullah dan Abu Bakar
c. Para Da’i dan orang yang mau menerima dakwah yang benar.

▪ Perbedaan yang bertolak belakang (tadhad/bertentangan), maka harus dipilih pendapat yang paling kuat (ditarjih).
Contoh
1. AQIDAH. Menafsirkan ayat tentang “Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, Allah akan mengampuni dosa selain syirik”
Tafsir Ulama :
a. Hanya syirik akbar.
b. Syirik akbar dan asghar.

2. FIQIH. Bab pembatal wudhu, dalam hal memegang wanita bukan mahram…
Tafsir Ulama tentang hal tersebut adalah :
a. jima’ (bersetubuh)
b. memegang dengan tangan

• Cara menyikapinya adalah :
a. Bagi Ulama maka dia akan menggabungkan dalil dan memilih yang paling kuat
b. Bagi Santri penuntut ilmu adalah ikut ulama yang dalam keilmuannya…

2. ISTIQOMAH DIATAS SUNNAH DALAM BERAQIDAH :
Mencakup poin :
• Meyakini aqidah yang benar, yakni Rukun Iman, berlandaskan di atas dalil
Contoh : iman kepada Allah, mencakup Rububiyah, Asma wa Sifat, Uluhiyah, ketiganya memiliki dalil yang banyak 
• Berlepas dari keyakinan menyimpang yang menyelisihi Sunnah Rasulullah.
Contoh : kesyirikan, bid’ah, menafikan sifat Allah, menyerupakan sifat Allah, masalah iman (murjiah, khawarij) masalah takdir (qadariah, jabariyah), masalah sahabat (mengkultuskan & mendiskreditkan) Berpegang teguh dengan Kebenaran & Menolak Kebatilan

3. ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH DALAM BERIBADAH
Jika memenuhi 2 hal :
1. Beribadah dengan ibadah yang disyariatkan oleh Allah & Rasulullah. Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“ barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada dalilnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullahu Ta’ala)

Contoh : bikin sholat baru antara subuh & dzhuhur, tidak diterima karena tidak diajarkan oleh Allah & Rasul, Dikenal dengan nama bidah Hakiki..

2. Beribadah dengan tata cara yang diajarkan oleh Rasulullah :
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari 628, 7246 dan Muslim 1533)

Contoh : seorang sahabat sholat sangat cepat, Rasulullah memerintahkan untuk mengulangi sholatnya karena caranya tidak benar..

4. ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH DALAM BERMUAMALAH DAN BERAKHLAQ
▪Sikap yang dilandasi diatas dalil ;
a. Berakhlaq dengan sesama Muslim :
Ucapkan salam, senyum, dijenguk jika sakit, bersin didoakan, meninggal disholati.
b. Berakhlaq dengan orang kafir :
Tidak boleh menzhalimi dan menyakiti, membenci orang kafir namun kebencian tersebut tidak boleh menzholiminya. Rasulullah berinteraksi biasa dengan orang yahudi..

5. ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH SAAT PERSELISIHAN/PERBEDAAN
• Perbedaan adalah sunnatullah yakni pasti terjadi dari dulu sampai sekarang…
• Sikap yang benar saat terjadi perbedaan adalah 
a. Berusaha mencari kebenaran dan berpegang dengan kebenaran tersebut
b. Cara menyikapi orang yang berbeda pendapat, kita menjelaskan kepadanya pendapat kita dengan lembut dan santun semampu kita, jika dia ikut alhamdulillah namun jika tidak maka tetaplah jaga hubungan baik (jaga kasih sayang) dengannya..

6. ISTIQOMAH DIATAS SUNNAH KETIKA BERDAKWAH
• Tujuan dakwah ada 3 ;
a. menjelaskan dalil kepada umat manusia
b. mengharapkan manusia mendapatkan hidayah
c. melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala

• Sarana dalam dakwah ;
a. berdakwah dengan hikmah, kepada orang yang belum tahu dengan dalil
b. nasehat yang baik, kepada orang yang sudah tahu untuk mengingatkannya
c. debat dengan cara yang baik, kepada ahlul bid’ah yang memiliki syubhat

• Berdakwah dengan sabar, sebagaimana Rasulullah dituduh orang gila dan tukang sihir namun tidak membalas mereka.

FAIDAH : balas keburukan dengan kebaikan.

7. ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH KETIKA AMAR MA’RUF & NAHI MUNKAR..
• Tahu mana yang ma’ruf & mana yang munkar
a.  jika tidak tahu maka bisa jadi amar munkar nahi ma’ruf..
b. ma’ruf adalah sesuatu yang dijelaskan oleh syariat bahwa itu baik, munkar adalah yg dijelaskan oleh Syariat bahwa itu munkar/menyimpang

▪Beramar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang benar 
a. Amar Ma’ruf adalah berdakwah dengan hikmah
b. Nahi Munkar : jika melihat maka ingkari dengan tangan (contohnya : pemerintah, bapak di rumahnya), jika tidak mampu (secara syariat, karena jika mengingkari dengan tangan akan muncul mafsadat yang lebih berat) maka dengan lisan (lemah lembut), dan jika tidak mampu (jika akan menimbulkan mafsadat lebih besar) maka dengan hatinya..

FAIDAH TAMBAHAN ;
👤 Syaikh Sulaiman Al Adawi (Qatar), beliau menyampaikan sebuah hadits 
Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : “ lAku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqamahlah.”

▪ Penjelasannya, orang beriman harus beraqidah yang benar kemudian menjalani perintah-perintah tersebut.
▪ Istiqomah berarti terus berjalan diatas jalan yang benar.

Wallahu a’lam

______________________

  • Pecinta Sunnah – Jogja

About Abdullah bin Suyitno

Seorang tholabul ilmi di bumi Allah. | Kepala Bidang Pendidikan Bimbingan Islam | Kepala Bidang Dakwah Offline Bimbingan Islam | Kepala Divisi BiASTV

Check Also

Sahabat Yang Langka

👤 Ibnu qudamah rahimahullah berkata : Sungguh merupakan sesuatu yang sangat berharga di zaman ini …

Hal Yang Seharusnya Ditangisi

👤 Al Imam Ahmad Bin Abdil Hawary Rahimahullahu ta’ala berkata : “Tangisan yang paling utama …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *