Secercah Nasehat Untukmu yang Akan Mengarungi Bahtera Rumah Tangga

Menikah Adalah Ibadah

Jangan pernah memandang pernikahan hanya sebagai bagian biasa dari kehidupan, atau sekadar formalitas yang dijalani oleh mayoritas manusia. Hadirkanlah keyakinan dalam hati bahwa menikah adalah ibadah yang agung, serta syariat mulia yang diwariskan oleh para Nabi dan Rasul. Allah Ta’ala berfirman:

‎وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلٗا مِّن قَبۡلِكَ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَذُرِّيَّةٗۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأۡتِيَ بِـَٔايَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ لِكُلِّ أَجَلٖ كِتَابٞ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’ad: 38)

Selain merupakan ibadah yang agung, pernikahan juga merupakan ibadah yang panjang. Sejak terucap kalimat, “Saya terima nikahnya…”, sepasang suami-istri telah masuk ke dalam lingkaran ibadah pernikahan hingga keduanya berpisah, baik karena wafat maupun karena talak.

Menikah Perlu Bimbingan Cahaya Ilmu Agama

Jika shalat yang hanya memerlukan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit saja membutuhkan ilmu—tentang rukun, syarat, kewajiban, sunnah, dan adabnya—maka bagaimana dengan pernikahan yang rentangnya begitu panjang? Tentu lebih besar lagi kebutuhan akan ilmu.

Menikah membutuhkan ilmu tentang hak dan kewajiban masing-masing. Seorang suami berkewajiban menafkahi istrinya sesuai kemampuan terbaiknya, mendidiknya, serta menuntunnya menuju surga. Adapun seorang istri berkewajiban menaati suaminya dalam perkara yang tidak bertentangan dengan syariat Allah.

Namun, ketaatan bukan berarti meniadakan musyawarah dalam rumah tangga. Suami dan istri tetap perlu saling berdiskusi untuk menemukan keputusan terbaik bagi keluarga. Perincian hak dan kewajiban suami-istri tentu membutuhkan pembahasan tersendiri.

Selain itu, menikah juga menuntut ilmu tentang pengelolaan emosi. Sebab, masing-masing manusia memiliki kekurangan. Dengan kesadaran itu, bila suatu saat haknya terabaikan, ia tidak mudah marah atau menuntut secara berlebihan, melainkan mampu menghadapinya dengan lapang dada.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

‎خَدَمْتُ النَّبِيَّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا كُنْتَ فَعَلْتَهُ؟ وَلَا لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَهُ؟

“Aku telah melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah sekalipun berkata kepadaku: ‘Ah!’. Beliau tidak pernah berkata kepadaku terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan: ‘Mengapa engkau tidak melakukannya?’, dan tidak pula terhadap sesuatu yang aku lakukan: ‘Mengapa engkau melakukannya?’.” (HR. Bukhari, no. 6911 dan Muslim, no. 2309)

Jika ini adalah potret keluhuran akhlak beliau terhadap pembantu, maka bagaimana akhlak beliau dengan keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda:

‎خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi, no. 3895, dengan sanad yang shahih)

Ibunda ‘Aisyah pernah ditanya:

‎مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي أَهْلِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ.

“Apakah yang biasa dilakukan Nabi ﷺ ketika berada di rumah bersama keluarganya?”
‘Aisyah menjawab: “Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya. Namun, apabila waktu shalat telah tiba, beliau segera berdiri untuk melaksanakan shalat.”

Beliau ﷺ tidak pernah merasa gengsi untuk melakukan pekerjaan rumah, membantu keluarganya, meskipun beliau adalah seorang suami, seorang pemimpin, bahkan seorang Rasulullah ﷺ.

Demikian pula dalam mencari nafkah. Walau terkadang terasa melelahkan, seorang suami hendaknya menyadari bahwa setiap usaha yang ia lakukan demi keluarganya adalah ibadah yang mulia dan bernilai besar di sisi Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

‎إنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ.

“Sesungguhnya, engkau tidaklah mengeluarkan satu nafkah pun yang engkau niatkan untuk mencari wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari, no. 56)

Bahkan satu dinar yang diinfakkan kepada keluarga, pahalanya bisa mengalahkan dinar yang diinfakkan di jalan Allah, atau digunakan untuk membebaskan budak, atau disedekahkan kepada orang miskin.

Rasulullah ﷺ bersabda:

‎دِينارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَدِينارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ.

“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau gunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau belanjakan untuk keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah yang engkau belanjakan untuk keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)

Maka sangat disayangkan jika seseorang bekerja hanya karena dasar formalitas belaka, tanpa menghadirkan “perasaan ibadah”, padahal bekerja adalah sesuatu yang paling menyita waktu dalam keseharian seseorang.

Selain secara esensial, bekerja bisa bernilai ibadah jika diniatkan, di dalamya juga terdapat kehormatan seorang lelaki, kemuliaan tangan di atas, dan pelajaran hidup bagi anak laki-lakinya, tentang bagaimana seharusnya mereka kelak!

Menikah juga perlu ilmu untuk menjadi teladan, karena anak akan mencontoh orang tuanya. Maka mulailah memperbaiki diri agar kelak anak kita juga menjadi baik. Jaga shalat 5 waktu kita, pemasukan kita pastikan dari yang halal, jauhi pertemanan yang buruk, rutinkan membaca buku tentang ajaran Islam dan Sirah Nabawiyyah, rutinkan menghadiri kajian yang dapat meningkatkan keimanan.

Pahala Jariyah Dibalik Ibadah Menikah

Dengan ilmu, peluang meraih pahala jariyah akan semakin terbuka luas bagi sepasang suami-istri. Perhatikan sabda Rasulullah ﷺ:

‎إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631)

Ketiga pintu amal jariyah ini akan terbuka lebar bagi pasangan yang memiliki ilmu. Sebab, menyadari bahwa menafkahi anak termasuk pahala jariyah membutuhkan ilmu. Mendidik dan membimbing anak juga membutuhkan ilmu. Bahkan, melahirkan generasi shalih yang kelak mendoakan orang tuanya pun tidak mungkin terwujud tanpa ilmu.

Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga

Kunci kebahagiaan keluarga terletak pada orientasi hidupnya. Tatkala sebuah keluarga menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, maka segala urusan dunia tidak lagi terlalu membebani hati. Jika surga menjadi cita-cita tertinggi kita, maka bagaimana pun Allah mengatur kehidupan dunia ini, kita akan menerimanya dengan lapang dada.

Ketika Allah memberi kelapangan, kita mensyukuri nikmat itu dan menyalurkannya dalam bentuk sedekah. Namun, ketika datang masa kesempitan, kita bersabar seraya yakin bahwa setiap kesulitan pasti ada hikmah dan jalan keluarnya. Dalam kedua keadaan itu—lapang maupun sempit—Allah menjanjikan pahala besar bagi hamba-Nya yang bersyukur dan bersabar.

Dengan cara pandang seperti ini, rumah tangga tidak mudah goyah oleh badai ujian dunia. Justru, setiap kondisi menjadi kesempatan untuk semakin dekat kepada Allah dan melangkah lebih pasti menuju surga-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

‎عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999).

Bahtera rumah tangga tak pernah lepas dari suka dan duka, namun yang paling penting adalah bagaimana keberkahan senantiasa bersemayam di dalamnya. Oleh karena itu, salah satu doa yang diajarkan Nabi ‎ﷺ untuk pengantin baru adalah:

‎بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Yang artinya: “Semoga Allah memberkahimu di waktu senang dan memberkahimu di waktu susah, dan semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Dawud, no. 2130)

Maka jadikan akhirat sebagai orientasi utama, dan carilah keberkahan pada setiap takdir yang Allah pilihkan untuk kita. Barakallah fiikum.