Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily hafizhahullah
Fenomena ilhad (atheisme) di zaman ini semakin membesar dan meluas. Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya ilmu dan banyaknya syubhat (pemikiran rancu) yang menyesatkan manusia. Akibatnya, muncul orang-orang yang sampai meyakini bahwa Allah tidak ada. Padahal keyakinan seperti ini sejatinya tidak akan mampu bertahan dalam seluruh keadaan hidup manusia.
Seseorang yang mengaku tidak percaya kepada Allah, pada hakikatnya tidak akan mampu konsisten dengan keyakinannya itu dalam setiap kondisi. Ketika musibah besar menimpanya atau bencana datang menghimpitnya, minimal ia akan menengadah ke atas. Bahkan sering kali hatinya secara spontan mencari pertolongan kepada Allah, meskipun lisannya terus membangkang. Inilah bukti bahwa fitrah manusia sebenarnya mengenal Rabb-nya.
Yang memprihatinkan, atheisme pada masa ini mulai menyebar, termasuk di tengah sebagian pemuda yang masih menisbatkan diri kepada Islam.
Dua Faktor Utama Penyebaran Ilhad :
1. Syubhat Logika yang Menipu
Salah satu sebab terbesar penyebaran atheisme adalah penggunaan logika dan permainan rasionalitas yang tampak cerdas di permukaan. Cara ini sering kali memikat para pemuda, khususnya generasi zaman sekarang yang mudah terkesan dengan narasi “ilmiah” dan “rasional”.
(Syaikh Sulaiman hafizhahullah menceritakan)
“Saya punya pengalaman berdialog dengan salah satu tokoh atheis Arab yang cukup terkenal. Setelah ditelusuri, akar penyimpangannya ternyata berasal dari kesalahan dalam memahami logika. Maka dialog dilakukan dengan pendekatan logika, kaidah berpikir, dan dasar-dasar penalaran yang benar. Dengan izin Allah, syubhatnya berhasil dipatahkan. Bahkan setelah beberapa kali pertemuan, orang tersebut mengabarkan bahwa dirinya sedang menulis buku yang mengkritik para atheis Arab dan menjelaskan rusaknya fondasi pemikiran mereka.”
Ini menunjukkan bahwa banyak keraguan sebenarnya berdiri di atas logika yang rapuh, bukan di atas kebenaran yang kokoh.
2. Dorongan Syahwat Tanpa Batas
Faktor kedua adalah syahwat. Atheisme sering menjadi jalan agar seseorang merasa bebas melakukan apa saja tanpa aturan agama dan tanpa rasa takut kepada Allah.
“Apa yang menghalangimu untuk menikmati syahwat sebebas-bebasnya? Yang menahanmu hanyalah keyakinan kepada Allah. Jika keyakinan itu hilang, maka engkau bisa melakukan apa saja sesukamu.” Demikianlah syubhat mereka.
Ketika manusia melepaskan iman, syahwat pun menjadi pengendali hidupnya. Karena itu sebagian mereka sampai terjatuh pada perilaku yang sangat rusak dan menyimpang dari fitrah manusia. Disebutkan bahwa sebagian dari mereka bahkan sampai saling bertukar pasangan. Perilaku seperti ini digambarkan sebagai keadaan yang lebih rendah daripada binatang. Na’udzubillah
Penutup
Atheisme bukan sekadar persoalan intelektual. Banyak kasus justru berakar dari syubhat pemikiran yang menipu dan dorongan syahwat yang tidak ingin dibatasi agama. Karena itu, menjaga ilmu syar’i, memperkuat fitrah, dan membangun kemampuan berpikir yang benar menjadi benteng penting agar generasi muda tidak mudah terseret arus pemikiran yang merusak.
Sumber: Sababu Intisyaril Ilhad oleh Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily hafizhahullah via Channel YouTube Khazanatul ‘Ilm.

