
Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah
Kematian yang datang secara tiba-tiba seringkali membuat manusia terkejut dan merasa cemas. Kita pun memohon kepada Allah keselamatan dan kesehatan dalam setiap keadaan. Namun, dalam pandangan syariat, kematian mendadak tidak selalu bermakna keburukan. Justru, terdapat penjelasan yang menenangkan hati, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih:
إِنَّهُ رَحْمَةٌ بِالْمُؤْمِنِ وَنِقْمَةٌ عَلَى الْكَافِرِ
“Sungguh itu adalah rahmat bagi orang beriman dan azab bagi orang kafir.” (HR. Ahmad no. 24618)
Bagi seorang mukmin, kematian yang datang secara tiba-tiba adalah bentuk rahmat dari Allah. Ia dipanggil untuk segera bertemu dengan Rabb-nya, dan disegerakan baginya berbagai kebaikan yang telah Allah siapkan di sisi-Nya. Kematian seperti ini juga menjadi bentuk keringanan. Ia tidak perlu melalui sakit yang panjang, tidak harus menanggung penderitaan berkepanjangan, dan keluarganya pun tidak terbebani oleh kesulitan yang berat. Dengan demikian, wafatnya menjadi rahmat baik bagi dirinya maupun bagi orang-orang di sekitarnya.
Sebaliknya, bagi orang yang terus-menerus membangkang kepada Allah, kematian mendadak justru menjadi azab. Ia diibaratkan seperti sesuatu yang keras dan kaku, yang ketika datang angin, langsung patah seketika. Begitulah keadaan orang zalim terus tenggelam dalam kezaliman, hingga datang hukuman Allah secara tiba-tiba, dari arah yang tidak pernah ia duga.
Inilah yang patut menjadi perhatian serius. Sebab, di antara bentuk yang paling mengkhawatirkan adalah ketika akhir kehidupan datang secara mendadak dalam keadaan buruk. Seseorang bisa saja tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, tidak sempat bertaubat, dan tidak mampu mengejar apa yang telah ia lalaikan. Kita pun berlindung kepada Allah dari keadaan seperti ini. Karena ketika kematian datang tanpa persiapan, ia bisa menjadi penutup yang menentukan segalanya. Maka, sikap yang paling bijak bukanlah takut berlebihan terhadap kematian mendadak, tetapi memastikan bahwa setiap waktu kita berada dalam keadaan siap. Siap untuk bertemu Allah, siap dengan amal, dan siap dengan hati yang lurus. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kesehatan, serta akhir kehidupan yang baik.
Sumber : Mautul Faj’ah RAhmatun Minallah via channel youtube Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah





