“Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya”

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Di balik syariat ini, terdapat kemuliaan yang sangat agung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu keutamaan puasa yang paling menonjol adalah pahalanya yang tidak dibatasi oleh bilangan tertentu, melainkan diberikan langsung oleh Allah tanpa perhitungan.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi:

‎كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ. وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ. وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Allah Ta’ala berfirman: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak misk.

Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang ia rasakan: ketika ia berbuka, ia bergembira dengan berbukanya; dan ketika ia berjumpa dengan Rabb-nya, ia bergembira dengan puasanya.” (HR. Bukhari, no. 1904 dan Muslim, no. 1151)

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

‎كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي.

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatkan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.”

Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (HR. Muslim, no. 1151)

Berdasarkan hadits yang mulia ini, terdapat lima poin utama yang menunjukkan besarnya keutamaan puasa:

1. Puasa Adalah Rahasia Antara Hamba dan Tuhannya

Allah mengkhususkan puasa bagi diri-Nya sendiri karena puasa adalah ibadah yang penuh dengan keikhlasan. Seseorang bisa saja makan atau minum di tempat yang sunyi tanpa diketahui manusia, namun ia meninggalkannya karena takut kepada Allah.

Sufyan bin Uyainah rahimahullah menjelaskan keistimewaan ini:

‎إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُحَاسِبُ اللَّهُ عَبْدَهُ، وَيُؤَدِّي مَا عَلَيْهِ مِنَ الْمَظَالِمِ مِنْ سَائِرِ عَمَلِهِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا الصَّوْمُ، يَتَحَمَّلُ اللَّهُ عَنْهُ مَا بَقِيَ مِنَ الْمَظَالِمِ، وَيُدْخِلُهُ الْجَنَّةَ بِالصَّوْمِ

“Apabila hari kiamat tiba, Allah akan menghisab seorang hamba dan menunaikan berbagai kezaliman yang menjadi tanggungannya dari seluruh amalnya. Hingga ketika tidak tersisa kecuali puasa, Allah akan menanggung sisa kezaliman itu darinya dan memasukkannya ke dalam surga karena puasanya.” (Lihat: as-Sunan al-Kubra 4/454)

2. Pahala yang Diberikan Tanpa Hitungan

Untuk amal lain, Allah menetapkan kelipatan 10 hingga 700 kali. Namun untuk puasa, Allah menyandarkan balasannya langsung kepada diri-Nya yang Maha Pemurah, “Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Hal ini juga diperkuat dari sisi dimana puasa mencakup tiga jenis kesabaran:
– Sabar dalam ketaatan kepada Allah.
– Sabar dalam menjauhi kemaksiatan.
– Sabar atas takdir yang pedih (rasa lapar, haus, dan lemahnya badan).

Maka berlakulah bagi puasa firman Allah:

‎إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

3. Puasa Adalah Perisai

Puasa berfungsi sebagai pelindung yang membentengi seorang hamba dari perkataan sia-sia (laghwu) dan perbuatan kotor (rafats). Lebih
jauh lagi, puasa adalah perisai dari api neraka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

‎الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ، كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ.

“Puasa adalah perisai dari api neraka, sebagaimana perisai salah seorang di antara kalian dalam peperangan.” (HR. Ibnu Majah, no. 1639, Ahmad, no. 17902)

4. Bau Mulut Orang yang Berpuasa Lebih Harum dari Misk

Meskipun bau mulut orang yang berpuasa mungkin tidak disukai manusia, namun di sisi Allah, aroma tersebut lebih harum daripada minyak misk. Ini menunjukkan betapa dicintainya pengaruh dari ketaatan seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.

5. Memiliki Dua Kegembiraan

Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa orang yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan:
– Saat Berbuka: Ia gembira karena telah menyempurnakan ibadah dan kembali dihalalkannya nikmat makanan serta minuman.
– Saat Bertemu Allah: Ia gembira ketika melihat pahala puasanya tersimpan sempurna dan utuh, lalu ia dipanggil untuk memasuki surga melalui pintu khusus bernama Ar-Rayyan.

Adab Saat Diganggu Orang Lain

Melalui hadits ini pula, kita diajarkan untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Jika seseorang mencela atau memusuhi kita saat berpuasa, hendaknya kita berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Ini bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk penghormatan terhadap ibadah yang sedang dijalani. Allah Ta’ala berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ، فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ ۝ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا، وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ.

“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan, seakan-akan ia menjadi teman yang sangat setia. Dan (sikap seperti itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang bersabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang memiliki bagian (keuntungan) yang besar.” (QS. Fusshilat: 34-35)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang meraih kemuliaan puasa ini.

(Sumber materi: Majalis Ramadhan, hlm. 14-17)