Puasa dalam syariat Islam adalah sebuah madrasah ruhani yang membina orang-orang beriman agar tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa.
Allah Ta’ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Tujuan besarnya adalah takwa, hati yang semakin tunduk kepada Allah, semakin takut berbuat dosa, dan semakin giat dalam ketaatan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitabnya Taisirul Kariim al-Mannan (hlm. 87) menyebutkan beberapa sisi bagaimana puasa menanamkan ketakwaan dalam diri seorang hamba:
1. Melatih Kepatuhan dan Pengorbanan
Seorang yang berpuasa rela meninggalkan apa yang diharamkan Allah baginya, seperti makan, minum, hubungan suami istri, dan hal lainnya, padahal itu semua adalah kecenderungan syahwatnya. Ia meninggalkannya semata-mata demi mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap pahala-Nya. Inilah esensi dari ketakwaan.
2. Membangun Sifat Muraqabah (Merasa Diawasi Allah)
Puasa melatih seseorang untuk senantiasa menyadari bahwa Allah Maha Melihat. Ia meninggalkan keinginan nafsunya, padahal ia mampu untuk melakukannya secara sembunyi-sembunyi, namun ia tetap meninggalkannya karena ia tahu bahwa Allah selalu mengawasinya.
3. Menyempitkan Ruang Gerak Setan
Puasa terbukti dapat menyempitkan jalan setan di dalam tubuh manusia. Sebagaimana diketahui, setan mengalir di dalam diri anak Adam melalui aliran darah. Dengan berpuasa, pengaruh dan dominasi setan menjadi lemah, sehingga kemaksiatan yang dilakukan pun akan berkurang.
4. Memperbanyak Amal Ketaatan
Pada umumnya, orang yang berpuasa akan lebih bersemangat dan lebih banyak melakukan ibadah. Sedangkan ketaatan-ketaatan tersebut merupakan bagian dari cabang-cabang ketakwaan yang harus terus dipupuk.
5. Menumbuhkan Empati dan Kepedulian Sosial
Ketika orang kaya merasakan perihnya rasa lapar, hal itu akan mendorong hatinya untuk menyayangi dan membantu kaum fakir miskin yang kekurangan. Sikap tolong-menolong dan belas kasih ini merupakan bagian dari akhlak mulia dan ciri khas orang-orang yang bertakwa.
Wallahu a’lam.