Kembali Kenali Keutamaan-Keutamaan Ramadhan, Agar Puasamu Lebih Bermakna

Puasa bukanlah sekadar menahan lapar di kerongkongan atau dahaga di lambung. Puasa adalah perjalanan ruhani menuju Allah, sebuah rahasia antara hamba dengan Sang Pencipta.

Agar ibadah kita tahun ini tidak sekadar menjadi rutinitas biasa, marilah kita menyelami kembali keutamaan Ramadhan melalui dalil-dalil yang ada.

1. Puasa: Syariat Klasik yang Agung

Seandainya puasa bukanlah sebuah ibadah yang sangat agung, yang darinya manusia mendapatkan kemaslahatan besar bagi dunianya dan akhiratnya, niscaya Allah tidak akan mewajibkannya kepada seluruh umat terdahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183)

Ini menunjukkan bahwa puasa adalah “kebutuhan pokok” bagi jiwa manusia untuk mencapai derajat takwa, sebuah warisan ketaatan yang telah dijalani oleh para Nabi dan orang-orang shalih lintas zaman.

2. Penghapus Dosa dan Pembersih Noda

Ramadhan hadir sebagai pembersih dari debu-debu kemaksiatan yang selama ini menumpuk. Namun, ampunan ini tidak datang cuma-cuma; ia menuntut ketulusan iman dan pengharapan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

Makna “Imanan” adalah meyakini kewajibannya dengan ridha, dan “Ihtisaban” adalah mengharapkan pahala-Nya tanpa rasa benci atau merasa berat dalam menjalaninya. Lebih dari itu,

Dalam hadits lain, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Ramadhan merupakan siklus penggugur dosa periodik.

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, apabila dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233)

3. Ibadah Khusus bagi Sang Khaliq

Dalam sebuah Hadits Qudsi yang menggetarkan hati, Allah membedakan puasa dari amal-amal lainnya. Jika amal lain dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, maka puasa adalah pengecualian.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Allah Ta’ala berfirman: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

Mengapa demikian? Karena dalam puasa, seseorang meninggalkan syahwat dan makanannya demi Allah semata di tempat yang tidak ada satu manusia pun melihatnya. Ini adalah puncak keikhlasan.

4. Pembela di Hari Kiamat

Di saat setiap jiwa sibuk memikirkan nasibnya masing-masing, puasa akan datang menjelma sebagai pembela (syafaat). Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Nabi ﷺ:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهْوَةَ فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi hamba di hari kiamat. Puasa berkata: ‘Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makan dan syahwat, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.’ Al-Qur’an berkata: ‘Aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.’ Maka keduanya pun diizinkan memberi syafaat.” (HR. Ahmad no. 6626, dishahihkan oleh Al-Albani)

Apa yang telah disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari keutamaan puasa Ramadhan. Dalil-dalil yang menunjukkan kemuliaannya sangatlah banyak dan berlimpah dalam khazanah wahyu. InsyaAllah, pada artikel-artikel berikutnya akan kami paparkan dalil-dalil tersebut secara lebih luas dan mendalam.

Maka, jangan biarkan Ramadhan berlalu hanya sebagai ritual perpindahan jam makan. Resapi bahwa setiap rasa lapar yang kau rasakan adalah bukti loyalitasmu kepada Sang Pencipta. Setiap detik kehausanmu adalah tabungan kegembiraan saat pertemuan dengan-Nya kelak.
Semoga Allah menjadikan puasa kita tahun ini lebih bermakna, lebih berbobot secara ilmiah dalam niat, dan lebih tulus dalam pengamalan.

Wallahu a’lam.