Khutbah Jum’at: Kesempatan Emas Itu Bernama Ramadhan

Catatan: Cocok untuk dijadikan khutbah dari pertengahan Sya’ban sampai dengan pertengahan Ramadhan, dengan penyesuaian tertentu.

Khutbah Pertama

الْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِرَمَضَان، فَفَتَحَ فِيهِ أَبْوَابَ الْجِنَان، وَغَلَّقَ أَبْوَابَ النِّيرَان، وَصَفَّدَ فِيهِ مَرَدَةَ الشَّيَاطِين، شَهْرِ الصِّيَامِ وَالْقِيَام، وَتِلَاوَةِ الْقُرْآن، شَهْرِ الرَّحْمَةِ وَالْغُفْرَان، وَالْعِتْقِ مِنَ النِّيرَان.
نَحْمَدُهُ عَلَىٰ مَا أَسْبَغَ مِنَ الْفَضَائِل، وَمَا أَوْلَىٰ مِنَ الْمَنَحِ وَالنَّوَائِل، وَنَشْكُرُهُ عَلَىٰ مَا خَصَّنَا بِهِ مِنْ مَوَاسِمِ الطَّاعَات، وَمَضَامِيرِ الْخَيْرَات.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، جَعَلَ رَمَضَانَ سَبَبًا لِمَغْفِرَةِ الذُّنُوب، وَرِفْعَةِ الدَّرَجَات، وَتَكَفُّلِ الْأُجُورِ وَالثَّوَاب، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ صَامَ وَقَام، وَأَتْقَى مَنْ تَعَبَّدَ لِلْمَلِكِ الْعَلَّام، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛

Ma’asyirol muslimin wa zumrotal mu’minin…

Dari mimbar yang mulia ini, khatib kembali mengingatkan diri sendiri dan segenap jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena takwa merupakan kunci keberuntungan di dunia dan akhirat.

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 189)

Sidang jama’ah jumat yang Allah muliakan…

Bulan mulia dan tamu agung akan segera mendatangi kita. Di dalamnya Allah melipatgandakan pahala, memberikan banyak anugerah, dan membuka pintu-pintu kebaikan bagi setiap orang yang menginginkannya. Ia adalah bulan penuh kebaikan dan keberkahan, bulan pemberian dan anugerah.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”(QS. Al-Baqarah: 185)

Bulan ini diliputi oleh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka; baik awalnya, pertengahannya, maupun akhirnya.

Keutamaannya sangat masyhur disebutkan dalam Al-Quran, maupun As-Sunnah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari & Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila bulan Ramadan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari, no. 3277 & Muslim, no. 1079)

Pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini karena banyaknya amal shalih yang dilakukan, sekaligus sebagai dorongan dan motivasi bagi orang-orang yang beramal. Pintu-pintu neraka ditutup karena berkurangnya kemaksiatan dari kaum mukminin. Dan setan-setan dibelenggu serta diikat, sehingga mereka tidak leluasa mencapai apa yang biasa mereka capai pada bulan-bulan selainnya.

Ummatal Islam…

Hadits lain yang menjelaskan keutamaan Ramadhan, diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أُعْطِيَتْ أُمَّتِي خَمْسَ خِصَالٍ فِي رَمَضَانَ لَمْ تُعْطَهُنَّ أُمَّةٌ مِنَ الْأُمَمِ قَبْلَهَا: خَلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، وَتَسْتَغْفِرُ لَهُمُ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُفْطِرُوا، وَيُزَيِّنُ اللَّهُ كُلَّ يَوْمٍ جَنَّتَهُ وَيَقُولُ: يُوشِكُ عِبَادِي الصَّالِحُونَ أَنْ يُلْقُوا عَنْهُمُ الْمَؤُونَةَ وَالْأَذَى وَيَصِيرُوا إِلَيْكِ، وَتُصَفَّدُ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ فَلَا يَخْلُصُونَ إِلَى مَا كَانُوا يَخْلُصُونَ إِلَيْهِ فِي غَيْرِهِ، وَيُغْفَرُ لَهُمْ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ

“Umatku diberikan lima perkara di bulan Ramadan yang belum pernah diberikan kepada umat sebelumnya:
Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak misik.
Malaikat memohonkan ampunan untuk mereka hingga mereka berbuka.
Allah menghiasi surga-Nya setiap hari dan berfirman: ‘Hampir tiba saatnya hamba-hamba-Ku yang saleh melepaskan beban dan penderitaan dunia lalu menuju kepadamu.’
Setan-setan yang membangkang dibelenggu sehingga tidak leluasa menyesatkan manusia sebagaimana di bulan lainnya.
Mereka diampuni pada malam terakhir.” (HR. Bazzar, no. 8571)

Kita akan membahas lima keutamaan yang disebutkan dalam hadits tadi.

Keutamaan pertama: Bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi.

Bau ini memang tidak sedap menurut penilaian manusia, namun di sisi Allah justru lebih harum daripada bau kasturi, karena ia muncul akibat ibadah dan ketaatan kepada-Nya.

Segala sesuatu yang lahir dari ibadah dan ketaatan kepada Allah adalah sesuatu yang dicintai-Nya. Bahkan Allah akan mengganti bagi pelakunya dengan sesuatu yang lebih baik, lebih utama, dan lebih harum. Tidakkah kita memperhatikan orang yang gugur sebagai syahid di jalan Allah, kelak pada hari kiamat lukanya mengalirkan darah, warnanya warna darah, namun baunya bau kasturi?

Demikian pula dalam ibadah haji, Allah membanggakan para jamaah di hadapan para malaikat. Allah berfirman dalam hadits qudsi:

اُنْظُرُوا إِلَىٰ عِبَادِي هَؤُلَاءِ جَاءُونِي شُعْثًا غُبْرًا

“Lihatlah hamba-hamba-Ku ini, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan rambut kusut dan tubuh berdebu.”

Keadaan rambut kusut dan penampilan sederhana itu dicintai Allah pada tempat ini, karena ia muncul dari ketaatan kepada Allah, berupa meninggalkan larangan-larangan ihram dan menjauhi kemewahan demi menjalankan perintah-Nya.

Ikhwatal Iman…

Keutamaan kedua: Bahwa para malaikat memohonkan ampunan bagi orang-orang yang berpuasa hingga mereka berbuka. Dan kita sama-sama mengatahui bahwa para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia.

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Karena itu, doa para malaikat berpotensi besar untuk dikabulkan oleh Allah bagi orang-orang yang berpuasa, sebab Allah sendiri telah mengizinkan mereka untuk memohonkan ampun bagi orang-orang yang berpuasa dari umat ini sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka, pengangkatan kedudukan dan nama mereka, serta sebagai penegasan akan keutamaan ibadah puasa.

Adapun istighfar dari malaikat, artinya adalah permohonan ampun, yaitu agar dosa-dosa kita: orang-orang yang berpuasa ditutupi dan dihapus, baik di dunia maupun di akhirat, serta diampuni dan dilewati tanpa siksa. Istighfar malaikat merupakan salah satu permintaan yang paling tinggi dan tujuan yang paling agung. Sebab seluruh anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan dan kezaliman terhadap diri mereka sendiri, dan semuanya sangat membutuhkan ampunan dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Keutamaan ketiga: Bahwa Allah setiap hari menghiasi surga-Nya, lalu berfirman:

يُوشِكُ عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ أَنْ يُلْقُوا عَنْهُمُ الْمَؤُونَةَ وَالْأَذَى وَيَصِيرُوا إِلَيْكِ

“Hampir tiba saatnya hamba-hamba-Ku yang saleh melepaskan dari diri mereka segala beban dan kepayahan, lalu menuju kepadamu.”

Allah Ta‘ala menghiasi surga-Nya setiap hari sebagai persiapan bagi hamba-hamba-Nya yang shalih, sekaligus sebagai dorongan dan motivasi agar mereka rindu dan bersegera menuju surga tersebut.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah..

Keutamaan keempat: Bahwa para setan yang paling durhaka dibelenggu dengan rantai dan belenggu, sehingga mereka tidak mampu mencapai apa yang biasa mereka inginkan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih, yaitu menyesatkan dari kebenaran dan melemahkan semangat dalam melakukan kebaikan.

Ini merupakan bentuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya, karena Allah menahan setan yang selalu mengajak pengikutnya agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. Oleh karena itu, kita mendapati pada diri orang-orang shalih di bulan ini semangat berbuat kebaikan yang lebih besar dan keengganan terhadap keburukan yang lebih kuat dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Keutamaan kelima: Bahwa Allah mengampuni umat Nabi Muhammad ﷺ pada malam terakhir bulan ini, apabila mereka telah menunaikan apa yang seharusnya mereka lakukan di bulan Ramadan berupa puasa dan ibadah malam.

Ampunan ini merupakan karunia dan kemurahan dari Allah, sebagai bentuk penyempurnaan pahala mereka setelah seluruh amal selesai dikerjakan.

Jika seorang pekerja akan diberikan upahnya setelah ia menuntaskan pekerjaannya. Maka ketika Ramadan berakhir dan amal-amal telah ditunaikan, Allah menyempurnakan balasannya dengan ampunan yang luas.

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah…

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan pahala yang besar ini melalui tiga sisi utama:

Pertama, Allah mensyariatkan bagi mereka berbagai amal shalih yang menjadi sebab diampuninya dosa-dosa dan diangkatnya derajat-derajat mereka. Seandainya Allah tidak mensyariatkan amal-amal tersebut, tentu manusia tidak akan mampu beribadah kepada-Nya dengan benar. Sebab ibadah tidak boleh diambil kecuali dari wahyu Allah yang disampaikan kepada para rasul-Nya.

Kedua, Allah memberi mereka taufik untuk mengerjakan amal shalih, sementara banyak manusia yang tidak diberi kemampuan untuk itu. Seandainya bukan karena pertolongan dan taufik dari Allah, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya. Maka seluruh keutamaan dan karunia itu hanyalah milik Allah semata.

Allah Ta‘ala berfirman:

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Mereka merasa telah memberi nikmat (berjasa) kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah-lah yang memberi nikmat kepadamu dengan menunjukkanmu kepada iman, jika kamu benar-benar orang yang jujur.’” (QS. Al-Hujurat: 17)

Ketiga, Allah melimpahkan pahala yang sangat besar: satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, hingga tujuh ratus kali lipat, dan seterusnya. Maka seluruh karunia itu datang dari Allah, baik kemampuan untuk beramal maupun balasan pahala atas amal tersebut.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنْ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْعَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَبْلَغَنَا رَمَضَان، وَجَعَلَهُ مِفْتَاحَ الْغُفْرَان، وَمِيدَانَ الإِحْسَان، وَمَوْسِمَ الْقُرْبَاتِ وَالطَّاعَات، فِيهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الرَّحْمَات، وَتُغْلَقُ أَبْوَابُ الْجَحِيم، وَتُصَفَّدُ الشَّيَاطِين، وَتُضَاعَفُ الْحَسَنَات، وَتُمْحَى السَّيِّئَات، وَتُرْفَعُ الدَّرَجَات.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَىٰ مَا خَصَّنَا بِهِ مِنْ فَضْلٍ عَظِيم، وَمَا أَوْلَانَا مِنْ عَطَاءٍ عَمِيم، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، جَعَلَ الصِّيَامَ جُنَّةً، وَالْقِيَامَ قُرْبَةً، وَالدُّعَاءَ فِيهِ مَرْجُوَّ الإِجَابَة.

وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَىٰ فَضَائِلِ الأَوْقَات، وَرَغَّبَهَا فِي اغْتِنَامِ اللَّحَظَات، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَىٰ نَهْجِهِ، وَاقْتَفَىٰ أَثَرَهُ، إِلَىٰ يَوْمِ الدِّين، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛

Ma’asyirol muslimin wa zumrotal mu’minin…

Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa mendapati bulan Ramadan adalah nikmat yang sangat besar bagi siapa pun yang diberi umur hingga bertemu dengannya dan menunaikan hak-haknya: kembali kepada Rabb-nya dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kelalaian menuju ingat kepada-Nya, dan dari jauhnya hati menuju taubat dan kembali kepada Allah.

Renungkanlah nasihat dalam syair berikut ini:

يَا ذَا الَّذِي مَا كَفَاهُ الذَّنْبُ فِي رَجَبٍ
حَتَّى عَصَى رَبَّهُ فِي شَهْرِ شَعْبَانِ

“Wahai orang yang dosanya di bulan Rajab belum juga membuatnya jera,
hingga ia masih bermaksiat kepada Rabb-nya di bulan Sya‘ban.”

لَقَدْ أَظَلَّكَ شَهْرُ الصَّوْمِ بَعْدَهُمَا
فَلَا تُصَيِّرَنَّهُ أَيْضًا شَهْرَ عِصْيَانِ

“Sungguh bulan puasa kini telah menaungimu,
maka jangan pula engkau jadikan ia sebagai bulan kemaksiatan.”

وَاتْلُ الْقُرْآنَ وَسَبِّحْ فِيهِ مُجْتَهِدًا
فَإِنَّهُ شَهْرُ تَسْبِيحٍ وَقُرْآنِ

“Bacalah Al-Qur’an dan perbanyaklah tasbih dengan sungguh-sungguh,
karena ia adalah bulan tasbih dan bulan Al-Qur’an.”

كَمْ كُنْتَ تَعْرِفُ مِمَّنْ صَامَ فِي سَلَفٍ
مِنْ بَيْنِ أَهْلٍ وَجِيرَانٍ وَإِخْوَانِ

“Betapa banyak orang-orang terdahulu yang dahulu berpuasa,
dari kalangan keluarga, tetangga, dan saudara-saudara kita.”

أَفْنَاهُمُ الْمَوْتُ وَاسْتَبْقَاكَ بَعْدَهُمُ
حَيًّا فَمَا أَقْرَبَ الْقَاصِي مِنَ الدَّانِي

“Kematian telah merenggut mereka, sementara engkau masih dibiarkan hidup setelah mereka;
betapa dekatnya orang yang jauh dengan orang yang akan segera menyusul.”

اللَّهُمَّ أَيْقِظْنَا مِنْ رَقَدَاتِ الْغَفْلَةِ، وَوَفِّقْنَا لِلتَّزَوُّدِ مِنَ التَّقْوَى قَبْلَ النُّقْلَةِ، وَارْزُقْنَا اغْتِنَامَ الْأَوْقَاتِ فِي زَمَنِ الْمُهْلَةِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

Ya Allah, bangunkanlah kami dari kelalaian, bimbinglah kami untuk mengumpulkan bekal takwa sebelum berpindah ke akhirat, anugerahkan kepada kami kemampuan memanfaatkan waktu selama masih diberi kesempatan, dan ampunilah kami, kedua orang tua kami, serta seluruh kaum muslimin, dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang.

‎أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهُ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

‎اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.

‎اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًاً مُطْمَئِنًا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.

‎اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

‎اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِينَ أَيْنَمَا كُنَّا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَجَنِّبْهُمْ بِطَانَةَ السُّوءِ.

‎رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

‎عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ ٱلِلَّهَ يَأْۡمُرُ بِٱلِۡعَدْۡلِ وَٱلِۡإِحْۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلِۡقُرْۡبَىٰ وَيَنْۡهَىَٰ عَنِ ٱلِۡفَحْۡشَآءِ وَٱلِۡمُنْكَرِ وَٱلِۡبَغٍّۡيِۚ يَعِظُكُمْۡ لَعَلَّكُمْۡ تَذَكَّرُونَ.

‎فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يُذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلِذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ..

(Terinspirasi dari nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam _Majalis Ramadhan_, hlm. 6-12)