Khutbah Jum’at: Hilangnya Rasa Malu dan Keagungan Allah di Mata Pelaku Maksiat

Khutbah Jum’at

ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ ٱلْـحَيَاءَ نُورًا فِي ٱلْقُلُوبِ، وَسِتْرًا لِلْعُيُوبِ، وَسَبَبًا لِكُلِّ خَيْرٍ يُرْجَى، وَحِرْزًا مِمَّا يُخْشَى.

خَلَقَ ٱلْإِنسَانَ وَهَدَاهُ، وَفَضَّلَهُ وَاجْتَبَاهُ، وَزَيَّنَهُ بِزِينَةِ ٱلْحَيَاءِ، فَإِذَا نُزِعَ مِنْهُ نُزِعَتْ مِنْهُ كَرَامَتُهُ، وَسَقَطَتْ عَنْهُ مَهَابَتُهُ، فَٱلْـحَيَاءُ أَصْلُ ٱلْـخَيْرِ، وَٱلْمَعْصِيَةُ تُذْهِبُهُ، وَمَنْ لَا حَيَاءَ لَهُ، فَلَا خَيْرَ فِيهِ.

نَـحْمَدُهُ حَمْدَ مَنِ ٱسْتَحْيَا مِنْ نَظَرِهِ، وَٱسْتَغْفَرَهُ مِنْ زَلَلِ قَدَمِهِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، نُوَحِّدُهُ تَوْحِيدَ مَنِ ٱسْتَقَامَ وَٱهْتَدَى، وَأَطَاعَ وَٱتَّقَى.

وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَكْمَلُ ٱلنَّاسِ حَيَاءً، وَأَتْمَّهُمْ خُلُقًا، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَابَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ ٱلدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Ma’asyirol Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Dari mimbar yang mulia ini, khatib kembali mengingatkan diri sendiri dan segenap jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan bertakwa, niscaya amal ibadah kita akan membaik, dan dosa kita akan terampuni. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (٧٠) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah meraih kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Sidang Jama’ah Jum’at yang Allah muliakan…

Di antara hukuman yang ditimbulkan oleh maksiat adalah hilangnya rasa malu, padahal rasa malu adalah sumber kehidupan hati. Ia merupakan akar dari segala kebaikan, dan jika rasa malu telah hilang, maka semua kebaikan pun ikut lenyap. Nabi ﷺ bersabda:

ٱلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ

“Malu itu semuanya adalah kebaikan.” (HR. Muslim, no. 37)

Beliau juga bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ ٱلْأُولَىٰ: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَٱصْنَعْ مَا شِئْتَ!

“Di antara warisan ucapan para nabi terdahulu yang masih dikenal oleh manusia adalah: Jika kamu tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu!” (HR. Bukhari, no. 3483)

Hadits ini memiliki dua makna:
1. Makna ancaman: Siapa yang sudah tak punya malu, maka ia akan berani melakukan segala bentuk kejelekan. Karena rasa malu adalah penghalang utama dari perbuatan buruk. Bila rasa malu itu hilang, maka tak ada lagi yang menghalanginya untuk terjun dalam dosa. Seakan-akan Nabi bersabda: “Lakukan apapun semaumu, jika engkau tak lagi memiliki rasa malu! Tapi, tunggu saja balasannya!”

2. Makna izin dan pembolehan: Artinya, jika engkau merasa tidak perlu malu dari Allah saat ingin melakukan sesuatu, maka silahkan lakukan. Yang patut ditinggalkan adalah hal-hal yang membuatmu malu bila Allah melihatmu.

Ikhwatii fiddiin rahimani wa rahimakumullah…

Intinya, dosa melemahkan rasa malu dalam diri seorang hamba. Bahkan ia bisa kehilangan rasa malu sepenuhnya, sampai-sampai ia tidak merasa terganggu walaupun orang lain mengetahui keburukannya. Bahkan lebih dari itu, sebagian orang dengan bangga menceritakan perbuatan buruknya di depan orang lain. Apa yang membuat ia begitu berani? Tak lain karena ia telah kehilangan rasa malu.

Jika seseorang telah sampai pada keadaan seperti ini, sulit berharap ia akan kembali kepada kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ.

“Seluruh umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa). Dan termasuk sikap terang-terangan adalah seseorang berbuat dosa di malam hari, lalu ketika pagi hari Allah telah menutupinya, namun ia berkata: ‘Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu,’ padahal semalaman Rabb-nya telah menutupi aibnya, namun di pagi hari ia malah membuka penutup Allah atas dirinya.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990)

Ma’asyirol Muslimin…

Rasa malu sendiri dalam bahasa arab berasal dari kata “hayah”, yang berarti: hidup, karena rasa malu merupakan hidupnya hati. Dalam bahasa Arab, hujan juga disebut “hay” karena dengannya bumi, tanaman, dan hewan menjadi hidup. Maka demikian pula, dengan rasa malu, hati manusia akan menjadi hidup. Siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka hakikatnya ia telah mati sebelum mati, dan celaka di dunia sebelum sengsara di akhirat.

Ummatal Islam…

Antara dosa dan hilangnya rasa malu serta pudarnya rasa cemburu terhadap maksiat adalah dua hal yang saling terkait. Satu mendatangkan yang lain. Siapa yang merasa malu kepada Allah saat hendak bermaksiat, maka Allah pun akan merasa malu untuk mengazabnya pada hari ia menghadap-Nya. Sebaliknya, siapa yang tidak malu bermaksiat kepada Allah, maka Allah pun tidak akan malu untuk mengazabnya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنْ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْعَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي فَتَحَ أَبْوَابَ ٱلتَّوْبَةِ لِمَنْ أَقْبَلَ، وَأَظْهَرَ آيَاتِ ٱلرَّحْمَةِ لِمَنْ أَمَّلَ، وَجَعَلَ الذِّكْرَ حَيَاةً لِلْقُلُوبِ، وَمَوْعِظَتَهُ نُورًا لِدُرُوبِ ٱلتَّائِبِينَ وَٱلْمُنِيبِينَ، فَسُبْحَانَهُ مَا أَحْلَمَهُ وَأَكْرَمَهُ وَأَرْحَمَهُ!

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، أَجَلُّ مَنْ يُذْكَرُ، وَأَعْظَمُ مَنْ يُشْكَرُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَنْقَى ٱلْقُلُوبِ وَأَتْقَاهَا، وَأَخْشَاهَا لِرَبِّهَا وَأَوْعَاهَا، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ ٱقْتَفَى أَثَرَهُ وَٱهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ ٱلدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ،

Ma’asyirol Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, dan teruslah beristigfar memohon ampunan kepada-Nya, karena Allah tidak akan mengadzab penduduk suatu negeri selama mereka beristigfar.

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ

“Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)

Sidang Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…

Di antara hukuman terbesar dari perbuatan dosa adalah: melemahnya rasa pengagungan kepada Allah dalam hati seseorang. Kehormatan dan wibawa Allah menjadi pudar dalam batinnya, baik ia sadari ataupun tidak. Karena jika hati seseorang benar-benar penuh dengan kebesaran Allah dan rasa hormat kepada-Nya, ia takkan berani berbuat dosa.

Sebagian orang tertipu dan berkata: “Aku bermaksiat bukan karena tak mengagungkan Allah, tapi karena berharap ampunan-Nya.” Ini hanyalah tipuan terhadap diri sendiri. Jika seseorang benar-benar mengagungkan Allah dan menghormati larangan-Nya, maka itu akan menjaganya dari maksiat.

Mereka yang berani terang-terangan bermaksiat kepada Allah, pada hakikatnya tidak memuliakan-Nya sebagaimana mestinya. Bagaimana mungkin seseorang merasa telah mengagungkan Allah, sedangkan perintah dan larangan-Nya begitu enteng ia langgar? Ini logika yang tidak masuk akal.

Cukuplah sebagai hukuman atas pelaku dosa, ketika dalam hatinya lenyap rasa hormat terhadap Allah dan syariat-Nya, serta mudah mengabaikan hak-hak-Nya.

Bahkan sebagai hukuman lanjutan, Allah akan mencabut kewibawaannya dari hati manusia. Orang-orang akan mulai meremehkannya, sebagaimana ia meremehkan perintah Allah. Semakin besar cinta seseorang kepada Allah, semakin besar pula cinta manusia kepadanya. Semakin ia takut kepada Allah, semakin orang pun segan terhadapnya. Dan semakin ia memuliakan perintah dan larangan Allah, semakin tinggi pula kemuliaannya di mata manusia.

Saudaraku yang dirahmati Allah…
Bagaimana mungkin seseorang melanggar batasan Allah, lalu berharap orang lain akan menjaga batasannya? Bagaimana mungkin seseorang meremehkan hak Allah, lalu berharap haknya dijaga orang lain? Bagaimana mungkin seseorang menyepelekan dosa, lalu berharap orang lain tidak meremehkannya?

Allah telah menyebutkan hukuman-hukuman ini dalam Al-Qur’an. Mereka yang terus-menerus berdosa akan ditelantarkan, hati mereka ditutupi, dan Allah mencabut rahmat-Nya dari mereka. Allah akan “melupakan” mereka sebagaimana mereka melupakan Allah, dan akan menghina mereka sebagaimana mereka telah menghinakan agama-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

“Dan siapa yang dihinakan oleh Allah, maka tak ada seorang pun yang bisa memuliakannya.”
(QS. Al-Hajj: 18)

Orang yang enggan sujud dan tunduk kepada Allah, maka Allah akan hinakan mereka. Tak ada lagi kemuliaan bagi orang yang telah dihinakan oleh Allah. Dan tak ada kehinaan bagi siapa pun yang Allah telah muliakan.

أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهُ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِي الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ ٱقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ ٱلْيَقِينِ مَا يُهَوِّنُ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ ٱلدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَٱجْعَلْهُ ٱلْوَارِثَ مِنَّا، وَٱجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَىٰ مَنْ ظَلَمَنَا، وَٱنْصُرْنَا عَلَىٰ مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ ٱلدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ، فِي فِلَسْطِينَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْيَهُودِ، رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ، فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَجَنِّبْهُمْ بِطَانَةَ السُّوءِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ ٱلِلَّهَ يَأْۡمُرُ بِٱلِۡعَدْۡلِ وَٱلِۡإِحْۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلِۡقُرْۡبَىٰ وَيَنْۡهَىَٰ عَنِ ٱلِۡفَحْۡشَآءِ وَٱلِۡمُنْكَرِ وَٱلِۡبَغٍّۡيِۚ يَعِظُكُمْۡ لَعَلَّكُمْۡ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يُذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلِذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ..

(Terinspirasi dari nasehat yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 168-173)