KENAPA KALIAN HERAN?
Ucap Rasulullah ﷺ membenarkan mimpi Thalhah.
Di sebuah malam, Thalhah bin Ubaidillah, sahabat Rasulullah yang setia, terbaring dalam tidur yang nyenyak, bermimpi melihat hal aneh.
Dalam mimpi itu, ia berdiri di depan pintu surga, di mana dua sosok muncul di hadapannya. Mereka adalah dua orang dari Yaman yang pernah datang kepada Rasulullah ﷺ dan memeluk Islam pada waktu yang sama. Salah satu di antara mereka jauh lebih giat beribadah, lebih lama mencurahkan waktu dan tenaga untuk berjuang di jalan Allah. Ia pergi berperang, berkorban nyawa di medan jihad, syahid di sana, dan meninggalkan dunia ini dalam kesyahidan yang mulia. Sementara yang satu lagi, meskipun tak seaktif yang pertama, ia tetap istiqamah, namun ia masih diberi waktu hidup setahun lagi. Tak ada yang tahu bahwa kehidupan singkat mereka berdua akan memberikan pelajaran penting tentang keutamaan Ramadhan.
Dalam mimpinya, Thalhah melihat sosok yang keluar dari pintu surga dan memberikan izin kepada yang meninggal belakangan. Dengan kebingungan, Thalhah menyaksikannya dipersilakan masuk ke dalam surga. Kemudian, sosok itu kembali, dan memberi izin kepada yang syahid, yang sudah lebih dulu menghadap Allah. Lalu sosok ini kembali dan mendekati Thalhah seraya berkata, “Kembalilah, karena waktumu belum tiba.”
Thalhah terbangun dari tidurnya, ia tak bisa menahan rasa takjub dan kebingungannya. Ia menceritakan apa yang ia lihat dalam tidurnya kepada orang-orang di sekitarnya, membuat mereka semua juga takjub dengan kejadian yang begitu luar biasa itu. Berita ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau pun bertanya dengan lembut:
مِنْ أَيِّ ذَلِكَ تَعْجَبُونَ
“Kenapa kalian heran?”
Mereka menjawab:
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا كَانَ أَشَدَّ الرَّجُلَيْنِ اجْتِهَادًا ثُمَّ اسْتُشْهِدَ، وَدَخَلَ هَذَا الْآخِرُ الْجَنَّةَ قَبْلَهُ
“Wahai Rasulullah, orang yang lebih giat beribadah, yang lebih lebih dahulu meninggal dan syahid di jalan Allah, justru masuk surga setelah orang yang lebih lama hidup dan baru meninggal setelahnya?!”
Beliau ﷺ menjelaskan:
أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً وَأَدْرَكَ رَمَضَانَ فَصَامَ وَصَلَّى كَذَا وَكَذَا مِنْ سَجْدَةٍ فِي السَّنَةِ
“Bukankah orang yang hidup lebih lama itu telah menjalani hidupnya selama satu tahun lebih lama? Sehingga bisa berpuasa di bulan Ramadhan? Dan mendirikan shalat sepanjang tahun?”
Mereka terdiam, menyadari betapa besar keutamaan bulan Ramadan dan betapa berharganya setiap detik dan waktu yang diberikan oleh Allah. Rasulullah ﷺ melanjutkan:
فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Jarak antara keduanya, antara yang lebih lama hidup dan yang syahid, lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi.”
(HR. Ibnu Majah, no. 3925, Ahmad, no. 1403, Ibnu Hibban, no. 2982 dengan penyesuaian).
___________
Dalam kehidupan ini, setiap amal dan waktu yang kita miliki, terutama di bulan Ramadan, sangatlah berharga dan membawa pahala yang amat besar. Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi kesempatan emas untuk meraih keridhaan Allah, untuk mendekatkan diri pada-Nya, untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, untuk menjadi pribadi yang bertakwa selama-lamanya.
Dari kisah di atas, kita menyadari betapa besar kesempatan Ramadhan yang diberikan Allah untuk memperbaiki diri, menambah ibadah, dan meraih surga-Nya yang begitu indah. Bahkan seorang yang meninggal dalam berjihad di jalan Allah sekalipun, bisa dikalahkan pahalanya oleh orang yang mampu mengoptimalkan kesempatan satu Ramadhan yang lebih banyak.
Setiap amal, sekecil apapun, dalam bulan Ramadhan, memiliki nilai yang luar biasa di sisi-Nya.
Semoga Allah berikan kita taufiq untuk bisa memaksimalkan bulan Ramadhan yang penuh berkah, dan jangan sampai Ramadhan berlalu sementara dosa kita belum diampuni, dan kualitas ketakwaan kita tidak bertambah.