Kapan Terjadinya Lailatul Qadr?

KAPAN TERJADINYA LAILATUL QADR?

Sumber: Majalis Ramadhan: Majlis 22, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Lailatul Qadr berada di sepuluh malam terakhir Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

تَحَرِّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir dari Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 2020)

Lailatul Qadr lebih besar kemungkinan terjadinya pada malam-malam ganjil dibandingkan malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadr pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 2017)

Lebih besar kemungkinan terjadinya lagi pada tujuh malam terakhir, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar, bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ bermimpi melihat Lailatul Qadr di tujuh malam terakhir, lalu Nabi ﷺ bersabda:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Aku melihat mimpi kalian sepakat bahwa Lailatul Qadr ada di tujuh malam terakhir. Maka siapa yang ingin mencarinya, carilah di tujuh malam terakhir.” ((HR. Bukhari, no. 2015 dan Muslim, no. 1165).

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الْتَمِسُوَهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

“Carilah Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir (dari Ramadhan). Dan jika salah seorang dari kalian sedang lemah atau tidak mampu, maka setidaknya jangan sampai kalah untuk mencarinya di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, no. 1165).

Malam yang paling mungkin terjadinya Lailatul Qadr dari tujuh malam ganjil terakhir adalah malam ke-27, sebagaimana dalam hadits Ubay bin Ka’b, ia berkata:

وَاللَّهِ لَأَعْلَمُ أَيَّ لَيْلَةٍ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

“Demi Allah, aku benar-benar mengetahui malam mana yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menghidupkannya, yaitu malam ke-27.” (HR. Muslim, no. 762)

Meskipun begitu, Lailatul Qadr tidak selalu tetap pada satu malam tertentu di setiap tahunnya, melainkan berpindah-pindah, terkadang di malam ke-27, terkadang di malam ke-25, sesuai dengan kehendak dan hikmah Allah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

الُتَمِسُوهَا فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah (Lailatul Qadr) pada malam ke-21, ke-23, atau ke-25.” (HR. Bukhari, no. 2025).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Pendapat yang paling kuat adalah bahwa Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir, dan ia berpindah-pindah dari tahun ke tahun.” (Lihat: Fathul Bari 4/266).